الأربعاء، 04 شباط/فبراير 2026

Pohon Randu Alas Ikonik Tuksongo Usia 250 tahun Ditebang

تعطيل النجومتعطيل النجومتعطيل النجومتعطيل النجومتعطيل النجوم
 

lognews.co.id, Magelang – Pemerintah Kabupaten Magelang resmi memulai penebangan pohon randu alas raksasa di Desa Tuksongo, Kecamatan Borobudur, Jawa Tengah, Senin (2/2/2026). Pohon yang diperkirakan berusia sekitar 250 tahun tersebut ditebang setelah dinyatakan mati dan berisiko membahayakan keselamatan warga.

Sejak pagi, warga Desa Tuksongo berkumpul di tepi Lapangan Tuksongo untuk menyaksikan proses penebangan yang berlangsung hati-hati. Banyak warga mengabadikan momen tersebut menggunakan telepon genggam karena pohon randu alas itu telah lama menjadi ikon desa sekaligus penanda sejarah bagi masyarakat setempat.

Proses penebangan melibatkan satu unit mobile crane dan sejumlah petugas yang memotong dahan besar secara bertahap menggunakan gergaji mesin. Setiap potongan kayu terlebih dahulu diikat tali agar tidak jatuh langsung ke tanah, kemudian diturunkan perlahan sebelum kembali dipotong di bawah. Mengingat ukuran pohon yang besar dengan tinggi diperkirakan mencapai 40 meter, proses ini diperkirakan berlangsung beberapa hari.

Bagi warga, pohon randu alas bukan sekadar vegetasi, melainkan tetenger atau penanda identitas desa. Seorang warga, M Abdul Karim, menyebut pohon tersebut telah menjadi ikon Desa Tuksongo sejak ratusan tahun lalu. Ia mengenang masa ketika sebagian besar warga berprofesi sebagai petani tembakau dan rutin melakukan tradisi “ngabul”, yakni gotong royong menurunkan hasil panen tembakau di lapangan desa.

Di sisi lain, Pemerintah Kabupaten Magelang memastikan langkah penebangan dibarengi upaya regenerasi. Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Magelang, Romza Ernawan, menjelaskan hasil kajian akademisi Universitas Gadjah Mada menemukan adanya tunas baru pada bagian kulit dan kambium pohon yang akan dirawat secara berkelanjutan.

Keputusan tersebut merupakan opsi kajian yang memadukan aspek keselamatan publik dan pelestarian nilai historis. Selain menyisakan bagian batang bawah sebagai monumen penanda, pemerintah daerah bersama tokoh masyarakat berkomitmen menjaga tunas pengganti agar nilai ekologis serta daya tarik wisata kawasan Borobudur tetap terjaga bagi generasi mendatang. (Amri-untuk Indonesia)