الأربعاء، 04 شباط/فبراير 2026

Al-Zaytun dan Masa Depan Indonesia: Pendidikan Gagal Bisa Menghancurkan Masa Depan Indonesia

تقييم المستخدم: 5 / 5

تفعيل النجومتفعيل النجومتفعيل النجومتفعيل النجومتفعيل النجوم
 

Indramayu, lognews.co.id - Dalam pekan ke 31 Simposium pelatihan pelaku didik, Prof. Dr. H.A Jajang W. Mahri, M.Si. (Guru Besar Bidang Ekonomi dan Bisnis Islam, Universitas Pendidikan Indonesia) menjadi pemateri pada pelatihan pelaku didik, yang membawakan materi mengenai "Kesetaraan Pendidikan dan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia"

“Pendidikan adalah jantung peradaban bangsa. Kalau jantungnya lemah, peradabannya pasti rapuh,” tegas Prof. Jajang pada podcast bersama lognewsTV.

Pendidikan sebagai Proses Peradaban, Bukan Agenda Instan

Prof. Jajang menekankan bahwa pendidikan tidak boleh dipahami sebagai proyek jangka pendek. “Ini bukan proses instan. Pendidikan adalah perjalanan panjang yang menentukan wajah generasi berikutnya,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa kondisi manusia hari ini adalah hasil dari sistem pendidikan masa lalu. “Kalau kita ingin memperbaiki masa depan, yang harus diperbaiki adalah pendidikannya sekarang,” katanya.

Mutu sebagai Harga Mati Pendidikan Bangsa

Dalam pandangannya, ukuran kemajuan bangsa tidak bisa disederhanakan pada angka statistik. “Pertumbuhan ekonomi, PDB, atau indeks pembangunan tidak akan bermakna jika manusia di baliknya tidak bermutu,” ujar Prof. Jajang.

Ia mengingatkan kerasnya realitas dunia pendidikan. “Sekarang ini berlaku prinsip mutu atau mati. Bukan mutu yang mematikan, tetapi ketiadaan mutu yang justru menghancurkan masa depan bangsa,” tegasnya.

Pendidikan Berasrama sebagai Transfer Ilmu dan Nilai

Prof. Jajang menilai pendidikan berasrama sebagai model paling efektif dalam membentuk manusia seutuhnya. “Pendidikan berasrama itu bukan hanya mentransfer knowledge, tetapi juga value,” katanya.

Ia mencontohkan Ma’had Al-Zaytun sebagai ekosistem pendidikan terintegrasi. “Saya sudah beberapa kali hadir langsung ke sana, melihat, merasakan, bahkan mencicipi hasil ekosistemnya. Ini bukan penilaian dari kejauhan,” ujarnya.

Menurutnya, pendidikan berasrama mampu membentuk karakter melalui kehidupan nyata. “Santri tidak hanya belajar teori. Mereka menanam padi, beternak, dan memahami proses panjang sebutir nasi sampai ke meja makan. Ini learning by doing,” jelasnya.

Peran Negara dan Kolaborasi dengan Pesantren

Prof. Jajang menegaskan bahwa negara tidak boleh absen dalam urusan pendidikan. “Pendidikan berkualitas tidak pernah murah. Tidak semua masyarakat mampu. Negara harus hadir membiayai sekolah-sekolah unggul,” katanya.

Namun, ia menilai pemerintah tidak harus bekerja sendiri. “Kolaborasi dengan pesantren yang sudah terbukti, seperti Al-Zaytun, adalah langkah strategis dan rasional,” ujarnya.

Ia juga melihat sinyal positif dari kebijakan pemerintah. “Sekarang mulai muncul sekolah taruna dan sekolah unggul. Negara mulai sadar pentingnya mengakomodasi anak-anak dengan potensi dan IQ tinggi,” tambahnya.

Pendidikan, Kebhinekaan, dan Kesetaraan Gender

Dalam konteks kebhinekaan, Prof. Jajang menegaskan bahwa kemajuan bangsa tidak ditentukan oleh agama maupun gender. “Indonesia ini majemuk dan tidak bisa dibangun secara eksklusif,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa pendidikan harus menjadi ruang pembelajaran toleransi. “Tidak ada pembatasan pendidikan bagi perempuan. Bahkan secara kuantitas, perempuan sekarang lebih banyak mengakses pendidikan,” katanya. 

Pendidikan sebagai Investasi Ekonomi Jangka Panjang

Dari perspektif ekonomi, Prof. Jajang menyebut pendidikan berasrama sebagai akselerator kemajuan bangsa. “Sekolah berkualitas melahirkan manusia berkualitas. Dari situlah fondasi ekonomi yang kuat dibangun,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa pendidikan bukan beban negara. “Pendidikan adalah investasi jangka panjang yang hasilnya akan menentukan kesejahteraan nasional,” katanya.

Tiga Kata Kunci Kepemimpinan Al-Zaytun

Menutup refleksinya, Prof. Jajang merangkum gagasan besar Syaykh Al-Zaytun dalam tiga kata kunci. “Visioner, karena mampu melihat jauh ke depan. Kepemimpinan yang kuat, karena sanggup menggerakkan sistem besar. Dan keteguhan hati, karena tetap konsisten berjalan di jalur peradaban meski tidak selalu mudah,” pungkasnya. (Sahil & Adisti untuk Indonesia)