الأحد، 05 نيسان/أبريل 2026

Syaykh Panji Gumilang : Peristiwa Sumpah Pemuda, Secara De Facto Menyatakan Indonesia Merdeka

تقييم المستخدم: 4 / 5

تفعيل النجومتفعيل النجومتفعيل النجومتفعيل النجومتعطيل النجوم
 

lognews.co.id, Indramayu - Indonesia lahir dari perut pendidikan, melalui sumpah pemuda tahun 1928 berbagai organisasi pemuda yang bersepakat untuk memprakarsai kemerdekaan untuk bangsa Indonesia oleh pemuda pemuda yang telah dibina dalam program pendidikan milik Belanda yang berasrama, terstruktur dari berbagai daerah, dan didisiplinkan dengan kecerdasan hingga menjadi berani untuk merumuskan kemerdekaan untuk bangsanya, bertaktik sehingga lepas dari penjajahan tanpa pertumpahan darah.

Momen sumpah pemuda menjadi kesempatan LMedia, lognewsTV dalam program talkshow Syaykh Al-Zaytun Files, berbincang gagasan dengan Syaykh Panji Gumilang mengenai Perubahan mendasar pendidikan Indonesia menyambut 100 tahun Indonesia kedepan.

Menjadi host dalam program tersebut, wartawan senior lognewsTV Nasaktian, memulakan pertanyaan mengenai kepada siapa yang dimaksudkan dari pesan Syaykh melalui peringatan sumpah pemuda ke - 96 di masjid Rahmatan Lil Alamin, Al-Zaytun pada tanggal (28/10/2024) yang tegas mengatakan "Apa yang kamu sajikan untuk negara kamu? " Kemudian bahwa ada poin lainnya bukan hanya karena cerdas maka timbul keberanian para pemuda untuk melakukan rapat tertutup demi satu kesepakatan satu Nusa, satu bangsa satu bahasa.

Berlokasi di pelabuhan Eretan, Indramayu, (29/10/2024) pembahasan mengenai berbagai solusi permasalahan dan gagasan Syaykh Panji Gumilang mengungkapkan pertanyaan itu untuk dijawab bersama sama.

"Pertanyaan itu kepada audience semua, jadi bukan kita (Syaykh) sendiri yang menjawab, jadi kepada bangsa Indonesia yang kala itu mendengar dari kita, jadi jangan dijawab sendiri, bersama sama seperti halnya para pemuda ikrar bersama sama, tidak sendiri" jelas Syaykh.

Sumpah Pemuda menjadi tidak berarti ketika stuck hanya bercerita ucapan satu nusa, satu bangsa, satu bahasa.

"Sekarang dinamakan singkat saja sumpah pemuda, tidak terlalu berarti kalau hanya begitu, awali gimana proses adanya sumpah pemuda" jelas Syaykh 

Menurut Syaykh Panji Gumilang banyak orang anggap ini sumpah pemuda, "ini proklamasi !" ujar Syaykh sebab satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa, tidak ada tiga poin itu, maka tidak bisa memproklamasikan 17/08/1945, mengapa? karena yang diucapkan bung Karno ketika itu adalah :

1. Kami atas nama bangsa Indonesia, bagaimana kalau tidak ada sumpah pemuda itu? tidak ada bangsa !.

2. Dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia, tiga poin kesepakatan sumpah pemuda, dirangkum jadi Indonesia

3. Sudah punya bangsa, sudah punya bahasa. Maka dalam kemerdekaan itu yang digunakan pada saat kemerdekaan ketika itu adalah bahasa Indonesia (berbahasa satu). 

Jadi Sumpah Pemuda ini adalah proklamasi bahwa Indonesia secara defacto sudah punya negara, dalam peristiwa ditahun 1928 bulan 10 hanya dua hari, tanggal 27 merumuskan tema apa untuk didiskusikan, kemudian pada tanggal 28 menyepakati tema ;

1. Pendidikan,

2, Nasionalisme, 

3, dan Demokrasi.

Ketiganya ini harus didukung oleh sarana tiga, tidak bisa punya tempat tinggal yang merdeka kalau tidak punya negara, tidak bisa mengimplementasikan nasionalisme kalau tidak punya negara, punya nasionalisme pun jikalau tidak punya kecerdasan juga tidak bisa, tidak punya sarana menyampaikan juga gak bisa, maka disimpulkan satu nusa, satu bangsa, satu bahasa, apa itu? Indonesia !.

Syaykh kemudian merunut dalam proses awal kemerdekaan tidak langsung merdeka, contoh pengarang lagu Indonesia Raya, Wage Rudolf Soepratman lahir pada 9 Maret, tahun 1903, saat itu belum lahir kesadaran bagaimana proses awal sehingga tumbuh satu nusa, satu bangsa satu bahasa, namun lagu kebangsaan Indonesia Raya itu sudah diterbitkan di koran Tionghoa berbahasa Melayu Sin Po edisi tahun 10 November 1928 dan menurut Wikipedia komponis dan penulisan lirik dilakukan tahun 1924, hal ini tidak lepas dari peran pendidikan yang dilaksanakan oleh Belanda, hasil dari politik penjajahan Belanda, kalau kita masih mengatakan "penjajah".

Lebih tepat jika mengatakan proses kesadaran untuk menjadi Indonesia Raya adalah ketika Belanda menyatakan, menjajah dengan paripurnanya pada tahun 1904, mengapa?

Karena tahun itu adalah tahun dikuasainya kesultanan Aceh, memakan waktu 104 tahun lamanya hingga Aceh menjadi kesultanan terakhir yang dihancurkan, betapa lamanya dari tahun 1800 menjajah Indonesia baru dapat menguasai Aceh.

Kemudian Belanda mengevaluasi apakah jajahan sudah mencakupi wilayah yang dikehendaki untuk membentuk pusat pemerintahan menjadi negara besar dengan induknya adalah Netherland, maka timbullah pengakuan Belanda atas jajahan tersebut dengan nama Hindia Belanda, dan pada tahun 1905 Belanda mencanangkan istilah politik etis, atau balas budi maka didirikanlah program pendidikan untuk membekingi pelaksanaan penjajahan, dalam bidang politik, ekonomi, dan ketentaraan, walaupun peserta didiknya terbatas hanya pemuda yang orang tua mereka mempunyai kedekatan dengan administrasi pemerintahan.

Pembangunannya yang diistilahkan politik etis programnya tidak banyak hanya ;

1. pendidikan, 

2. pertanian atau irigasi, 

3. dan transmigrasi.

Sangat sederhana, namun bagi bangsa Indonesia kemudian nanti menamakan bangsa Indonesia, ini dimanfaatkan, bagaimana orang Belanda ketika itu menyiapkan pendidikan, sangat serius. Karena tujuan pendidikan yang dilaksanakan dalam politik etis itu agar anak didik setelah rampung menyelesaikan pendidikan bisa membantu kerajaan Belanda di hindia Belanda ini, jadi tersusun dengan rapih, berasrama dan didisiplinkan dan mengerti tujuan pendidikan itu.

Kalau mau mengangkat pertanian, dibuatlah pertanian, untuk mengangkat kesehatan dibuat sekolah kedokteran, untuk mengangkat pertanian dibuat sekolah pertanian, untuk teknik dibuat sekolah teknik, untuk mengangkat hukum dibuatlah sekolah hukum, yang setelah itu mereka tamat masuk ke lembaga lembaga yang dipersiapkan oleh Belanda saat itu, itu maunya Belanda atau penjajah, namun bangsa Indonesia cerdas, setelah dididik, dia mau, kemudian mengabdi di pemerintahan, namun menyadari bahwa ada sesuatu yang hilang yakni kebangsaannya yakni tanah airnya, dan bahasanya.

Menyadari Itu maka berkumpullah mereka, pelajar seluruh bangsa yang saat itu mewakili kelompoknya seperti Jong Java (pemuda Jawa), Jong Soematra (Pemuda Sumatra), Pemoeda Indonesia, Sekar Roekoen, Jong Islamieten, Jong Bataksbond, Jong Celebes, Pemoeda Kaoem Betawi dan Perhimpunan Pelajar pelajar Indonesia. Meskipun pada mulanya mereka mempunyai organisasi organisasi, menurut Syaykh Panji Gumilang, itulah pelajaran awal "Berorganisasi" tapi karena masing mereka sadar, mengevaluasi tidak mungkin sampai tujuan kalau kita membanggakan organisasi sendiri sendiri, maka berdiskusilah dengan menyepakati satu nusa, satu bangsa, satu bahasa pada tahun 1928, itulah Indonesia.

"Nah proses itu dulu, ternyata founding father kita dulu yang diawali adalah pendidikan, pendidikan untuk apa? Untuk nasionalisme supaya tumbuh, artinya pendidikan untuk Indonesia oleh anak Indonesia atau bangsa Indonesia untuk Indonesia" terang Syaykh.

Maka dalam kemerdekaan itu yang digunakan pada saat proklamasi kemerdekaan tahun '45 ketika itu adalah bahasa Indonesia

Maka menurut Syaykh, hingga sekarang masyarakat Indonesia bangga dengan bahasa Indonesia, walaupun orang jawa ketika itu tidak terlalu banyak yang menggunakan bahasa Indonesia, sebab menganggap bahasa Indonesia itu bahasa melayu, dianggap hanya orang orang pintar saja yang bisa bahasa Indonesia.

"Kalau kawan kawan kita yang serumpun itu mengikuti bahasa penjajahnya, bangsa Indonesia dijajah sekian tahun tidak satupun yang bisa berbahasa belanda, tapi bukan tidak bisa melainkan tidak mau, dan kita bisa berbahasa Indonesia tidak ada yang memaksa karena kita sudah punya sumpah pemuda" terang Syaykh.

Syaykh Panji Gumilang menyimpulkan bangsa Indonesia menetapkan negaranya yang Indonesia ini, dengan ilmu, dengan pendidikan, menetapkan bahasa demokrasi dengan ilmu dan dengan pendidikan, kesempatan untuk belajar dimanfaatkan oleh pemuda saat itu untuk mengamalkan semangat nasionalisme Indonesia Raya, dengan pendidikan dan diperjuangkan terus sampai proklamasi kemerdekaan 1945 tanpa setees darahpun yang tercurah karena kecerdasan karena dan ilmu pengetahuan.

"Jadi didunia ini bangsa yang memerdekakan bangsanya tanpa tetesan darah, tapi ketajaman otak, ketajaman ilmu, ketajaman strategi Indonesia" tegas Syaykh.

Tapi dalam perjalanan kemudian setelah merdeka ternyata masih ada, tertumpah darah anak bangsa yang menumpahkan juga anak bangsa, karena tidak kembali kepada kecerdasan, tidak kembali pada pendidikan yang dicontoh dari tahun 1905, 1928, dan 1945 melalui kecerdasan, dihasilkan dari pendidikan, tidak tertumpah darah.

Disampaikan Syaykh peristiwa pertumpahan darah sesama anak bangsa, dibagi menjadi dua, yaitu, Cucuran darah yang berarti "Tatkala mengusir penjajah yang sudah takluk, tekuk lutut, sudah lari datang lagi, disitulah maka timbul semboyan hidup atau mati, merdeka atau mati, berani hidup jangan takut mati, takut mati jangan hidup, takut hidup mati saja, itu semboyan ketika itu" jelas Syaykh Panji Gumilang.

Artinya setelah kecerdasan, kemudian datang musuh yang harus dihadapi sekalipun tertumpah darah itu, namun tertumpahnya darah ini karena menghadapi penjajahan, demi mempertahankan kemerdekaan.

Kemudian pertumpahan darah yang tidak punya arti, tidak lagi menggunakan rasional karena terjadi pertumpahan darah, membunuh bangsanya sendiri, menuduh bangsanya sendiri, dan menghakimi bangsanya sendiri karena tidak terdidik, mulai dari peristiwa DI/TII, G30S/PKI, PRRI/Permesta. 

"Kita stop diabad menjelang 2049 Indonesia umur 100 tahun, jangan ada penumpahan darah, dari bangsa oleh bangsa, sudah tutup buku itu, jangan disebut peristiwa apa, tutup buku penumpahan darah itu“ pesan Syaykh.

Syaykh mengajak untuk merebut 100 tahun Indonesia dengan mempersiapkan pencerdasan otak dan jiwa, melalui pendidikan yang terstruktur dan perubahan mendasar.

" Jadi kita harus mengubah ini perubahan mendasar dibidang pendidikan, itu saja dulu" tandas Syaykh. (Amri-untuk Indonesia)