الأحد، 05 نيسان/أبريل 2026

Semarang dan BRIN Kembangkan Padi Tahan Salinitas dan Pengolahan Air Laut untuk Pertanian

تعطيل النجومتعطيل النجومتعطيل النجومتعطيل النجومتعطيل النجوم
 

lognews.co.id, Semarang - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Organisasi Riset Energi dan Manufaktur (OREM) dan Organisasi Riset Pertanian dan Pangan (ORPP) bekerja sama dengan Pemerintah Kota Semarang dan BRIDA (Badan Riset dan Inovasi Daerah) mendorong Kota Semarang menjadi pelopor ketahanan pangan dan energi melalui kegiatan ekonomi sirkular berkelanjutan di kawasan pesisir, salah satu yang dikembangkan adalah benih tahan salinitas yaitu padi Biosalin.

"Kita menghadapi tantangan besar akibat perubahan iklim, alih fungsi lahan, dan degradasi lingkungan. Melalui pengembangan benih tahan salinitas dan penerapan teknologi pertanian yang ramah lingkungan, kita berharap dapat meningkatkan ketahanan pangan dan kesejahteraan petani,” ungkap Wakil Kepala BRIN, Amarulla Octavian saat panen padi Biosalin 1 dan 2 di Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Tugu, Semarang, Sabtu, (26/10/2024).

Benih padi Biosalin yang ditanam di Kelurahan Mangunharjo Semarang tersebut memiliki beberapa keunggulan.

 “Varietas Biosalin 1 memiliki masa tanam 113 hari, tahan wereng batang cokelat biotipe 1; 2; dan 3, tahan hawar daun bakteri strain IV; blas ras 033 dan 133, toleran terhadap cekaman salinitas pada fase bibit, cocok ditanam di ekosistem sawah dengan salinitas yang berbeda di daerah pesisir dan terpapar air laut, serta berpotensi menghasilkan 8,75 ton/ha,” terang Periset Pusat Riset Tanaman Pangan BRIN, Vina Eka Aristya.

Sementara itu menurutnya varietas Biosalin 2 memiliki keunggulan masa tanam 107 hari setelah semai dan berpotensi menghasilkan sebanyak 9,06 ton/ha.

Pada tahap pengembangan, budidaya padi Biosalin dilengkapi dengan teknologi desalinasi yang memungkinkan air laut diolah menjadi air bersih untuk irigasi pertanian, meningkatkan produktivitas lahan dan penyediaan air bersih bagi masyarakat.

“Teknologi desalinasi bertujuan mendukung irigasi pertanian dan menyediakan akses air bersih bagi masyarakat pesisir. Kami yakin langkah ini akan membawa Semarang lebih dekat pada tujuan kemandirian energi dan pangan,” ujar Amarulla.

Ia juga menyebut BRIN memiliki teknologi sistem penyimpanan modern untuk menyimpan benih padi Biosalin guna menjaga stabilitas harga. “Dengan cara ini, para petani dapat memasarkan hasil panen mereka secara bertahap, menghindari penurunan harga yang tajam selama masa panen untuk kesejahteraan petani,” ujarnya.

Menanggapi hal tersebut, Walikota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu mengapresiasi dukungan BRIN dalam meningkatkan ketahanan pangan di Semarang. “Program ini adalah wujud komitmen Pemkot Semarang untuk memanfaatkan potensi lahan produktif di kawasan pesisir. Dengan padi Biosalin, kami tidak hanya memanen hasil pangan, tetapi juga menumbuhkan harapan bagi para petani di pesisir agar dapat mandiri dan mengoptimalkan potensi lahan yang sebelumnya terabaikan,” papar Ita.

Selain padi, BRIN juga mengembangkan riset pertanian berkelanjutan bawang merah di lahan terdampak rob.

 “Pendekatan Low External Input Sustainable Agriculture (Leisa) menjadi kunci dalam mengurangi ketergantungan pada bahan kimia dan meningkatkan efisiensi pertanian. Dengan memanfaatkan lahan terdampak rob dan melakukan inovasi dalam budidaya, kita dapat meningkatkan produktivitas sambil menjaga kelestarian lingkungan,” jelas Periset Pusat Riset Sistem Produksi Berkelanjutan dan Penilaian Daur Hidup BRIN, Forita Dyah Arianti. (Amri-untuk Indonesia)