Lognews201.com, Jakarta - Hak yang sama dalam berdemokrasi menjadi poin penting yang harus dijaga oleh penyelenggara negara, seperti apa yang di aspirasikan oleh Mo Khing Luiung Ketua Perkumpulan Tuli-Buta (PELITA) Indonesia, Chandra Gunawan beserta jajarannya yang berkunjung dalam rangka audiensi bersama Anggota KPU August Mellaz, dalam rangka memperkenalkan komunitas PELITA serta membahas terkait perlindungan apa saja yang bisa membantu dalam pemenuhan hak penyandang tuli-buta pada pemilu, di kantor KPU, Kamis (06/10/2022).
Ketua PELITA Mo Khing Luiung, Chandra Gunawan menekankan pentingnya pemilu yang lebih aksesibel untuk komunitasnya, agar para penyandang disabilitas tuli-buta dapat memperjuangkan haknya yang selama ini belum mendapat perhatian lebih, berbeda kebutuhannya dengan disabilitas seperti tuna netra dan tuna rungu.
“Untuk itulah kami audiensi dengan berbagai organisasi dan juga lembaga pemerintah agar kami penyandang tuli-buta bisa mengikuti pemilu yang aksesibel, bisa memberikan suara sesuai dengan pilihan dan hati nurani kami,” kata Chandra.
Mellaz menyambut baik audiensi yang dilakukan PELITA dan mencatat semua kendala yang dialami terkait pemenuhan hak penyandang disabilitas pada pemilu. “Terima kasih sekali kehadirannya dan juga catatan untuk kebutuhan Pemilu 2024,” ujar Mellaz.
KPU, kata Mellaz, berproses menyusun kebijakan yang juga memperhitungkan segala kebutuhan disabilitas ganda, baik terkait metode sosialisasi yang efektif hingga menjawab kebutuhan saat hari pemungutan suara berkaitan surat suara.
“Masih berproses menyusun kebijakan mudah-mudahan catatan dari teman-teman PELITA itu nanti bisa kita bicarakan,” kata Mellaz.
Dalam audiensi ini, PELITA menyampaikan masukan agar surat suara lebih aksesibel untuk disabilitas ganda, seperti penyandang disabilitas yang terkumpul dalam PELITA.
Turut hadir dalam audiensi ini, Konsultan PELITA Mimi Mariani, Asisten Konsultan PELITA Mahretta Maha, Divisi Pendampingan PELITA Yenny Yalim, Bendahara PELITA Christiana. (Amr-untuk Indonesia)



