الثلاثاء، 05 أيار 2026

Benarkah Golongan Darah O Lebih Disukai Nyamuk? Ini Penjelasan Ilmiahnya

تعطيل النجومتعطيل النجومتعطيل النجومتعطيل النجومتعطيل النجوم
 

lognews.co.id - Fenomena seseorang lebih sering digigit nyamuk kerap dikaitkan dengan istilah “darah manis”. Secara ilmiah, anggapan ini tidak sepenuhnya keliru. Sejumlah riset dalam bidang entomologi menunjukkan bahwa nyamuk memang memiliki preferensi tertentu dalam memilih inang, termasuk berdasarkan golongan darah.

Studi yang dipublikasikan dalam Journal of Medical Entomology oleh Yoshikazu Shirai menemukan bahwa nyamuk spesies Aedes albopictus lebih sering hinggap pada individu bergolongan darah O dibandingkan golongan darah lain. Dalam eksperimen tersebut, golongan darah O menarik nyamuk hampir dua kali lebih banyak dibandingkan golongan darah A, sementara golongan B berada di tingkat menengah.

Penjelasan ilmiahnya berkaitan dengan antigen atau molekul gula pada permukaan sel darah merah. Sekitar 80 persen manusia termasuk tipe “sekretor”, yaitu individu yang mengeluarkan jejak kimia berupa antigen melalui kulit dan keringat. Senyawa ini dapat dideteksi oleh nyamuk sebelum mereka memutuskan untuk menggigit.

Namun, preferensi nyamuk tidak hanya ditentukan oleh golongan darah. Ada sejumlah faktor lain yang berperan signifikan dalam menarik perhatian nyamuk. Produksi karbon dioksida menjadi salah satu faktor utama, karena nyamuk menggunakan reseptor khusus untuk mendeteksi CO₂ dari jarak jauh. Individu dengan metabolisme tinggi, seperti orang dewasa bertubuh besar atau ibu hamil, cenderung lebih menarik bagi nyamuk.

Selain itu, aroma tubuh yang dipengaruhi oleh mikrobioma kulit juga berperan penting. Senyawa seperti asam laktat, amonia, dan asam urat yang dihasilkan tubuh menjadi sinyal kimia kuat bagi nyamuk. Suhu tubuh yang lebih tinggi, misalnya setelah aktivitas fisik, serta penggunaan pakaian berwarna gelap juga meningkatkan kemungkinan seseorang menjadi target gigitan.

Meski golongan darah O sering disebut lebih “menarik” bagi nyamuk, hal ini tidak secara langsung meningkatkan risiko penyakit seperti Demam Berdarah Dengue atau Malaria. Risiko infeksi tetap lebih ditentukan oleh keberadaan patogen dalam populasi nyamuk serta kondisi sistem imun individu.

Dengan demikian, fenomena “magnet nyamuk” merupakan hasil interaksi kompleks antara faktor biologis, kimiawi, dan lingkungan, bukan semata-mata ditentukan oleh golongan darah. (Amri-untuk Indonesia)