Saturday, 16 May 2026

7 Superfood Dunia Disebut Berpotensi Cegah Penyakit Kronis, Ini Penjelasan Ilmiahnya

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

lognews.co.id, Sebuah tinjauan ilmiah terbaru mengungkap tujuh bahan pangan yang dikenal sebagai superfood global berpotensi membantu melindungi tubuh dari berbagai penyakit kronis melalui mekanisme pengurangan stres oksidatif. Temuan tersebut dipublikasikan dalam jurnal ilmiah International Journal of Molecular Sciences.

Stres oksidatif merupakan kondisi ketika produksi reactive oxygen species (ROS) atau radikal bebas di dalam tubuh lebih tinggi dibanding kemampuan sistem antioksidan untuk menetralisirnya. Ketidakseimbangan ini dapat memicu kerusakan sel, peradangan sistemik, hingga meningkatkan risiko penyakit kronis seperti diabetes, kanker, gangguan jantung, dan penurunan fungsi organ.

Dalam penelitian tersebut, para ilmuwan mengkaji tujuh tanaman pangan dan herbal yang selama ini banyak digunakan dalam pengobatan tradisional di berbagai negara. Ketujuh superfood itu meliputi jamur shiitake, ginseng, kunyit, jintan hitam, buah beri, daun kelor atau moringa, serta kemangi suci atau tulsi.

Para peneliti menjelaskan bahwa bahan pangan tersebut kaya senyawa fitokimia aktif yang mampu memengaruhi jalur Keap1/Nrf2, yakni sistem molekuler penting yang membantu tubuh menghadapi racun, inflamasi, dan stres oksidatif. Selain itu, kandungan aktifnya juga dinilai mampu membantu menjaga keseimbangan respons imun tubuh antara jalur Th1 dan Th2 yang berkaitan dengan infeksi, alergi, kanker, serta peradangan.

Jamur shiitake atau Lentinula edodes disebut mengandung lentinan, senyawa aktif yang mendukung sistem kekebalan tubuh dan telah lama digunakan dalam terapi tambahan untuk kanker serta penyakit radang usus. Lentinan diketahui membantu mengatur respons imun sekaligus meningkatkan pertahanan tubuh terhadap inflamasi.

Sementara itu, Panax ginseng atau ginseng dikenal memiliki efek antioksidan dan protektif terhadap organ tubuh, terutama ginjal pada penderita diabetes. Penelitian menyebutkan proses pengolahan menjadi ginseng merah dapat meningkatkan kandungan senyawa aktif seperti Rg1, Re, Rb1, dan Rd yang berperan dalam menjaga pembuluh darah, pankreas, dan fungsi ginjal.

Kunyit (Curcuma longa) juga kembali mendapat perhatian karena kandungan kurkumin di dalamnya yang memiliki sifat antiinflamasi, antikanker, dan antioksidan kuat. Efektivitas kurkumin disebut meningkat signifikan apabila dikombinasikan dengan piperin dari lada hitam yang membantu penyerapan senyawa tersebut di dalam tubuh.

Adapun jintan hitam (Nigella sativa) mengandung timoquinon yang memiliki aktivitas antioksidan tinggi. Beberapa studi pada manusia menunjukkan konsumsi minyak jintan hitam dapat membantu meningkatkan enzim antioksidan, memperbaiki kadar gula darah, menurunkan tekanan darah, hingga membantu mengontrol kolesterol.

Daun kelor atau moringa dan berbagai jenis buah beri juga dinilai kaya senyawa antioksidan seperti quercetin, kaempferol, dan asam klorogenat. Kombinasi senyawa tersebut diketahui mampu menekan peradangan sekaligus membantu meningkatkan aktivitas protein Nrf2 yang berfungsi mengaktifkan sistem pertahanan alami tubuh terhadap radikal bebas.

Sementara itu, kemangi suci atau tulsi (Ocimum sanctum) yang populer dalam pengobatan tradisional India mengandung eugenol dan flavonoid yang berperan meningkatkan ekspresi gen antioksidan. Dalam penelitian pada hewan diabetes, tulsi dilaporkan mampu membantu menurunkan kadar gula darah sekaligus meningkatkan kapasitas antioksidan tubuh.

Meski hasil penelitian menunjukkan potensi besar berbagai superfood tersebut dalam mendukung kesehatan tubuh, para ilmuwan menegaskan bahwa penelitian klinis lebih lanjut pada manusia masih diperlukan untuk memastikan efektivitas, dosis aman, serta dampak jangka panjang penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari.

Para peneliti juga mengingatkan bahwa konsumsi superfood tetap perlu diimbangi pola hidup sehat, aktivitas fisik, dan pengobatan medis yang tepat agar manfaat kesehatannya dapat dirasakan secara optimal. (Amri-untuk Indonesia)