lognews.co.id – Kondisi mudah lelah, sulit fokus, hingga menurunnya performa kerja kerap dianggap sepele. Padahal, gejala tersebut dapat menjadi indikasi tubuh mengalami kekurangan zat besi yang berujung pada anemia. (06/5/26)
Masalah ini tidak hanya dialami anak-anak, tetapi juga banyak terjadi pada perempuan, terutama remaja hingga usia produktif yang memiliki risiko lebih tinggi mengalami kekurangan zat besi.
Dampaknya tidak ringan. Kekurangan zat besi berkontribusi terhadap penurunan konsentrasi, daya ingat, hingga produktivitas belajar dan kerja.
Jenis Zat Besi dan Daya Serap Tubuh
Dokter spesialis gizi Luciana Sutanto menjelaskan bahwa zat besi terbagi menjadi dua jenis utama, yaitu heme dan non-heme.
Zat besi heme berasal dari sumber hewani dan memiliki tingkat penyerapan lebih tinggi, sekitar 25–30 persen. Sementara itu, zat besi non-heme berasal dari nabati dengan tingkat penyerapan lebih rendah, yakni 1–10 persen.
Meski berbeda dalam daya serap, keduanya tetap penting untuk memenuhi kebutuhan nutrisi harian.
Sumber Zat Besi Heme yang Lebih Efektif
Zat besi heme dikenal lebih efisien dalam meningkatkan kadar zat besi dalam tubuh. Sumber utamanya meliputi:
- Daging merah
- Hati
- Ayam dan unggas
- Ikan
- Telur
- Kerang dan udang
- Produk fortifikasi zat besi
Kelompok ini sangat dianjurkan bagi individu dengan risiko anemia.
Sumber Zat Besi Nabati Tetap Penting
Zat besi non-heme tetap diperlukan sebagai pelengkap nutrisi, meskipun penyerapannya lebih rendah. Sumbernya antara lain:
- Brokoli
- Sayuran hijau
- Kacang-kacangan dan polong
- Kentang
- Sereal fortifikasi
- Buah kering seperti kismis dan apel kering
- Semangka
Kombinasi sumber hewani dan nabati menjadi pendekatan optimal dalam memenuhi kebutuhan zat besi.
Peran Vitamin C Tingkatkan Penyerapan
Penyerapan zat besi dapat ditingkatkan dengan konsumsi vitamin C secara bersamaan. Praktiknya sederhana, seperti mengombinasikan makanan tinggi zat besi dengan buah jeruk atau sayuran segar.
Pendekatan ini terbukti meningkatkan efektivitas absorpsi zat besi dalam tubuh, pola makan bervariasi sesuai prinsip gizi seimbang menjadi kunci menjaga kesehatan.
Kekurangan zat besi tidak hanya memicu Anemia, tetapi juga berdampak pada fungsi kognitif.
Gejala yang muncul meliputi:
- Penurunan konsentrasi
- Daya ingat melemah
- Produktivitas menurun
Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat mengganggu kualitas hidup.
Kekurangan zat besi merupakan masalah kesehatan yang sering tidak disadari, namun berdampak signifikan terhadap kinerja fisik dan mental. Pola makan seimbang dengan kombinasi sumber hewani dan nabati, serta dukungan vitamin C, menjadi langkah preventif yang efektif. (Amri-untuk Indonesia)



