lognews.co.id, Jakarta – Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mengingatkan pentingnya deteksi dini kondisi kaki pada penderita diabetes guna mencegah risiko amputasi. Pemeriksaan rutin dan perawatan sederhana dinilai efektif menekan komplikasi serius.
Kondisi kaki pada penderita Diabetes rentan mengalami gangguan akibat kerusakan saraf dan penurunan aliran darah. Dalam terminologi medis, dua faktor utama yang berperan adalah Neuropati diabetik dan Angiopati. Neuropati menyebabkan penurunan sensitivitas, sementara angiopati menghambat proses penyembuhan luka.
Kementerian Kesehatan menjelaskan, luka kecil pada kaki dapat berkembang menjadi infeksi serius apabila tidak ditangani dengan cepat. Dalam beberapa kasus, kondisi tersebut dapat berujung pada amputasi.
Pemeriksaan kaki secara mandiri dapat dilakukan setiap hari. Langkah pertama adalah inspeksi visual untuk mendeteksi perubahan warna, pembengkakan, luka, atau kapalan. Pemeriksaan suhu dilakukan dengan meraba permukaan kaki guna mengidentifikasi tanda peradangan. Selain itu, uji sensitivitas sederhana dapat dilakukan untuk mengetahui fungsi saraf.
Masyarakat diminta segera mencari bantuan medis apabila ditemukan luka yang tidak sembuh dalam 24 hingga 48 jam, muncul nanah, bau tidak sedap, nyeri hebat, atau mati rasa total. Gejala demam juga dapat menjadi indikasi infeksi yang telah menyebar.
Perawatan kaki harian menjadi bagian penting pencegahan komplikasi. Penggunaan alas kaki dianjurkan setiap saat untuk menghindari cedera. Pemilihan sepatu harus memperhatikan ukuran dan kenyamanan, serta memastikan tidak ada benda asing di dalamnya.
Kebersihan kaki juga perlu dijaga dengan mencuci menggunakan air hangat dan mengeringkan terutama pada sela jari. Penggunaan pelembap disarankan pada bagian tertentu untuk mencegah kulit kering, namun tidak dianjurkan pada sela jari.
Pemotongan kuku dilakukan secara lurus untuk mencegah luka. Selain itu, pengendalian kadar gula darah menjadi faktor utama dalam menjaga kesehatan kaki. Kebiasaan merokok perlu dihentikan karena dapat memperburuk sirkulasi darah.
Kementerian Kesehatan menegaskan bahwa amputasi dapat dicegah melalui kombinasi deteksi dini, perawatan rutin, dan pengelolaan penyakit yang tepat. (Amri-untuk Indonesia)



