lognews.co.id, Denpasar - Kasus stroke di Indonesia masih menjadi persoalan serius. Dalam Bali International Neurovascular Intervention Conference 2026 (BLINC), prevalensi stroke disebut mencapai 10,9 per 1.000 penduduk dan beban pembiayaan kesehatannya hampir menyamai penyakit jantung. (28/4/26)
Konferensi internasional yang berlangsung di Bali International Convention Center pada 27-28 April 2026 itu menempatkan isu stroke dan neurovaskular sebagai fokus utama pembahasan.
Ketua BLINC 2026 dr Affan Priyambodo mengatakan stroke merupakan kondisi darurat medis yang membutuhkan penanganan cepat, bahkan sejak fase sebelum pasien tiba di rumah sakit.
Menurut dia, terapi obat ideal diberikan kurang dari 4,5 jam sejak gejala awal muncul. Setelah itu, intervensi lanjutan seperti kateterisasi masih dapat dilakukan sesuai kebutuhan pasien.
Ia menegaskan, 24 jam pertama menjadi masa penting yang menentukan peluang pemulihan tanpa kecacatan permanen.
Selain faktor genetik, peningkatan kasus stroke juga dipengaruhi gaya hidup. Hipertensi, diabetes, kurang aktivitas fisik, dan pola hidup sedentari disebut menjadi pemicu utama.
Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan terus memperkuat layanan stroke dengan distribusi CT scan, MRI, serta fasilitas kateterisasi. Namun kesiapan tenaga medis terlatih tetap menjadi unsur utama.
Di Bali, layanan penanganan stroke dinilai cukup lengkap, termasuk di RSUP Prof Ngoerah yang mampu menangani pasien dengan cepat sejak gejala awal.
BLINC 2026 diikuti sekitar 400 peserta dari dalam dan luar negeri. Peserta berasal dari Jerman, Singapura, Malaysia, China, India, Korea Selatan, sejumlah negara Eropa, hingga Amerika Serikat.
Masyarakat juga diimbau mengenali gejala stroke melalui metode BE FAST, yakni gangguan keseimbangan, penglihatan terganggu, wajah menurun, kelemahan lengan atau kaki, bicara tidak jelas, dan segera mencari pertolongan medis.
Deteksi dini dinilai penting untuk menekan angka kematian serta kecacatan akibat stroke di Indonesia. (Amri-untuk Indonesia)



