lognews.co.id, Jakarta – Beras merah dikenal sebagai salah satu bahan pangan sehat karena kandungan nutrisinya yang lebih tinggi dibanding beras putih. Namun, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa beras merah dapat mengandung arsenik anorganik lebih tinggi dibanding beras putih, sehingga konsumsi tetap perlu dilakukan secara bijak.
Beras merah merupakan biji-bijian utuh yang hanya mengalami satu kali proses pengelupasan kulit. Proses minimal ini membuat kandungan serat, vitamin, dan mineral tetap terjaga. Karena itu, beras merah sering dianggap sebagai alternatif pangan yang lebih sehat dibanding beras putih.
Di Indonesia, salah satu varietas beras merah yang mulai mendapat perhatian adalah beras merah Segreng Handayani dari Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), yang dikenal sebagai sumber pangan lokal bernutrisi tinggi.
Kandungan Gizi Beras Merah
Dalam satu porsi beras merah (sekitar 200 gram), terkandung:
- 230–250 kalori
- 45–50 gram karbohidrat
- 3–3,5 gram serat
- 5 gram protein
- 1,6–2 gram lemak
- 160 mg kalium
- 80 mg magnesium
- 1,1 mg zat besi
- 150–200 mg fosfor
Selain itu, beras merah juga mengandung vitamin B, mangan, kalsium, zinc, serta senyawa antioksidan.
Manfaat Beras Merah bagi Kesehatan
Berkat kandungan nutrisinya, beras merah memiliki sejumlah manfaat, antara lain:
1. Membantu mengontrol berat badan
Serat dan karbohidrat kompleks membuat rasa kenyang bertahan lebih lama.
2. Melancarkan pencernaan
Kandungan serat membantu menjaga kesehatan usus dan mencegah sembelit.
3. Mengontrol kadar gula darah
Indeks glikemik beras merah lebih rendah dibanding beras putih, sehingga lebih aman bagi penderita diabetes.
4. Menjaga kesehatan jantung
Magnesium, antioksidan, dan lignan membantu mengontrol tekanan darah dan kolesterol.
5. Melindungi sel tubuh dari stres oksidatif
Antioksidan seperti fenolat dan flavonoid berperan dalam menjaga kesehatan sel.
Risiko Arsenik dalam Beras Merah
Meski memiliki banyak manfaat, beberapa studi internasional menunjukkan bahwa beras merah dapat mengandung arsenik anorganik hingga sekitar 40 persen lebih tinggi dibanding beras putih. Hal ini terjadi karena lapisan kulit ari pada beras merah menyerap arsenik dari tanah dan air selama proses pertumbuhan padi.
Namun, kadar arsenik dalam beras sangat bergantung pada faktor lingkungan, seperti kualitas tanah dan air di wilayah produksi. Karena itu, tidak semua beras merah memiliki kadar arsenik yang tinggi.
Konsumsi Bijak dan Aman
Para ahli gizi menyarankan konsumsi beras merah secara seimbang, tidak berlebihan, dan dikombinasikan dengan sumber karbohidrat lain. Selain itu, teknik pengolahan seperti mencuci beras dengan air mengalir dan memasak dengan perbandingan air lebih banyak dapat membantu mengurangi kadar arsenik.
Beras merah tetap menjadi pilihan pangan yang bernutrisi tinggi jika dikonsumsi secara tepat. Dengan pola makan seimbang dan pengolahan yang benar, manfaat kesehatan beras merah tetap dapat diperoleh tanpa mengabaikan aspek keamanan pangan.
(Amri-untuk Indonesia)


