Friday, 22 May 2026

Robot Humanoid Tak Bisa Gantikan Semua Pekerjaan, Dosen UGM Soroti Keterbatasan Teknologi

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

lognews.co.id, Yogyakarta – Perkembangan teknologi robot humanoid dinilai semakin pesat dan mulai menunjukkan kemampuan yang mendekati aktivitas manusia, mulai dari berjalan, bergerak presisi hingga memainkan alat musik. Namun, di balik kemajuan tersebut, tidak semua pekerjaan manusia dapat sepenuhnya digantikan oleh robot. (21/5/26)

Dosen Departemen Teknik Mesin dan Industri Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada, Ardi Wiranata, mengatakan pengembangan robot humanoid merupakan hasil evolusi panjang dari teknologi mesin yang terus diotomatisasi untuk membantu pekerjaan manusia secara berulang dan dalam jumlah besar.

“Mesin itu adalah alat yang dipakai untuk membantu kita mencapai sesuatu. Nah, robot sendiri merupakan mesin yang diotomatisasi guna membantu kita mencapai sesuatu tadi dengan jumlah banyak,” ujar Ardi, dikutip dari laman resmi Universitas Gadjah Mada.

Menurutnya, potensi robot dalam menggantikan tenaga manusia sangat bergantung pada kebutuhan industri dan bidang pekerjaan tertentu. Meski teknologi berkembang cepat, robot tetap memiliki sejumlah keterbatasan, terutama dalam hal respons, pengambilan keputusan, serta ketergantungan pada sistem sensor dan pemrograman.

Ardi menjelaskan, robot masih mengalami lag atau keterlambatan respons dibanding manusia. Selain itu, robot juga membutuhkan pemeliharaan, perbaikan, dan pengawasan berkala yang tetap memerlukan keterlibatan manusia.

“Kalau masih ada lag, responnya tidak akan secepat manusia dan pengambilan keputusan belum bisa secepat kita,” katanya.

Ia menambahkan, risiko teknis pada robot humanoid juga sangat ditentukan oleh kualitas sensor yang digunakan. Kesalahan sensor maupun sistem pemrograman dapat memicu gangguan yang berpotensi membahayakan manusia di sekitarnya.

Karena itu, menurut Ardi, pengembangan robot harus disertai pengujian ketat terhadap sistem keamanan dan fungsi perangkat yang digunakan.

Dalam kesempatan tersebut, Ardi juga menyoroti pesatnya perkembangan industri robot humanoid di China. Berdasarkan data resmi, China memiliki sekitar 140 produsen robot humanoid dengan lebih dari 330 model robot pada tahun 2025.

Ia menilai kemampuan China menekan harga produksi robot disebabkan oleh sistem produksi massal yang membuat biaya per unit menjadi lebih murah.

“Dengan produksi massal tersebut, kemungkinan akan menurunkan cost production,” jelasnya.

Meski demikian, Ardi menegaskan interaksi manusia tetap menjadi faktor penting yang belum sepenuhnya bisa digantikan teknologi, terutama pada pekerjaan yang membutuhkan empati, komunikasi langsung, dan pengambilan keputusan kompleks.

Karena itu, ia mendorong generasi muda untuk beradaptasi dengan perkembangan teknologi robotika dengan memahami sistem kerja robot dan penerapannya di berbagai bidang industri.

“Paling utama adalah kita harus sebisa mungkin beradaptasi dengan apapun jenis teknologinya,” tutupnya. (Amri-untuk Indonesia)