Saturday, 21 March 2026

Pesan Idul Fitri Dari Ma'had Al-Zaytun: Ta'awuniyah Model Peradaban Al-Zaytun

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

(Disarikan dari Khutbah Idul Fitri Datuk Sir Imam Prawoto, KRSS, MBA. CRBC.)

Oleh: Ali Aminulloh 

lognews.co.id, Indramayu - Langit Idul Fitri pagi itu tidak hanya membawa gema takbir, tetapi juga sebuah panggilan kesadaran. Di tengah suasana khusyuk, khutbah Idul Fitri yang disampaikan Rektor IAI Al-Aziz, Datuk Sir Imam Prawoto, KRSS., MBA., CRBC., menggugah lebih dari sekadar rasa syukur, beliau mengajak jamaah id menata ulang arah peradaban. (21/3/26) 

Idul Fitri, dalam penjelasannya, bukan sekadar perayaan usai Ramadan. Ia adalah momentum kembali kepada fitrah. Namun fitrah tidak berhenti pada makna spiritual yang sempit. Fitrah adalah kembali pada sifat dasar manusia: kejernihan batin, kemerdekaan berpikir, kedewasaan bertindak, dan tanggung jawab kolektif. Sementara “fitri” dimaknai sebagai hari kembali berbuka bersama, sebuah simbol kebersamaan yang tidak boleh hilang dari kehidupan sosial.

Dari sinilah, Idul Fitri menjadi titik awal komitmen baru. Bukan hanya untuk menjadi pribadi yang lebih baik, tetapi juga untuk membangun sistem kehidupan yang lebih baik. Sebuah sistem yang tidak berdiri di atas ego, melainkan di atas nilai kebersamaan dan taawuniyah, saling tolong-menolong dalam kebaikan.

Di tengah dunia yang sedang bergejolak, konflik global, ketegangan geopolitik, dan ancaman perang, khutbah ini terasa semakin relevan. Umat diajak untuk mengambil sikap tegas: menolak perang dan segala bentuk penjajahan. Sebagaimana amanat pembukaan UUD 1945, bahwa penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena bertentangan dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.

Namun penolakan saja tidak cukup. Dibutuhkan fondasi peradaban yang kuat. Di sinilah pentingnya membangun “sistem nilai”. Dari nilai, menjadi keyakinan, lalu menjelma menjadi moralitas dan integritas. Nilai yang hidup tidak berhenti sebagai wacana, tetapi menjadi energi kolektif yang menggerakkan masyarakat.

Konsep yang diusung Al Zaytun menekankan pentingnya manajemen berbasis nahniyah, yaitu kesadaran “kita”. Dalam sistem ini, setiap individu menjalankan perannya dengan penuh tanggung jawab, sekaligus menghormati peran orang lain. Tidak ada dominasi, tidak ada ego sektoral. Semua bergerak dalam harmoni.

Manajemen ini dijalankan secara profesional melalui prinsip POAC (Planning, Organizing, Actuating, Controlling) dan PDCA (Plan, Do, Check, Act). Namun yang membedakan, seluruh gerak ini lahir dari kesadaran, bukan sekadar perintah. Ketika kesadaran menjadi dasar, maka keberhasilan tidak lagi dimiliki oleh individu, tetapi oleh kebersamaan.

Di sisi lain, taawuniyah menjadi roh dari sistem ini. Tidak hanya dalam bentuk materi (amwal), tetapi juga tenaga dan pikiran (anfus). Hubungan yang dibangun bukan sekadar transaksional, melainkan take and give yang saling menguatkan. Sebagaimana firman Allah: “Ta’awanu ‘alal birri wat taqwa…” (tolong-menolonglah dalam kebaikan dan ketakwaan).

Sebaliknya, kerja sama dalam keburukan dan permusuhan harus ditolak. Karena dari sanalah konflik dan pelanggaran kemanusiaan sering bermula.

Lebih jauh, khutbah ini juga menyinggung gagasan besar Novum Gradum, sebuah proposal peradaban menuju Indonesia modern. Gagasan ini tidak berhenti pada konsep, tetapi diarahkan pada langkah nyata: pembangunan pendidikan, penguatan sistem organisasi, hingga lahirnya generasi yang siap menyongsong Indonesia Emas 2045 bahkan 2050.

Namun semua itu tidak akan terwujud tanpa kesiapan budaya. Kesiapan untuk berubah, untuk bergerak bersama, dan untuk meneladani nilai-nilai kepemimpinan yang telah dicontohkan. Ketika kebersamaan menjadi budaya, maka prestasi bukan lagi sesuatu yang sulit. Ia akan tumbuh secara alami.

Pada akhirnya, pesan khutbah ini bermuara pada satu hal: bergerak bukan untuk diri sendiri, tetapi untuk kemaslahatan yang lebih luas. Dari fitrah menuju sistem nilai, dari individu menuju kolektif, dari kebersamaan menuju peradaban.

Idul Fitri pun tidak lagi sekadar perayaan. Ia menjadi titik tolak menuju lahirnya manusia yang basyaran sawiyyan, manusia yang utuh, yang siap membangun Indonesia modern dengan semangat rahmatan lil ‘alamin.(Amri-untuk Indonesia)

Mendidik dan membangun semata mata hanya untuk beribadah kepada Allah