Tuesday, 24 February 2026

Puasa: Dari Ulat Menjadi Kupu-Kupu, Dari Lapar Menuju Takwa

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

Oleh : Ali Aminulloh 

lognews.co.id - “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183).

Ayat ini menegaskan bahwa tujuan akhir puasa bukanlah lapar, melainkan takwa. Bukan sekadar menahan diri secara fisik, tetapi menata ulang arah hidup agar selaras dengan hukum Ilahi. Rasulullah SAW mengingatkan dengan nada yang sangat dalam, “Betapa banyak orang yang berpuasa, namun ia tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali lapar dan dahaga.” (HR. Ibnu Majah).

Artinya, puasa bisa saja terjadi di perut, tetapi tidak terjadi di perilaku.

Di alam, kita menemukan cermin yang begitu jelas. Seekor ulat adalah simbol kerakusan. Ia makan tanpa henti, merusak daun, kehadirannya sering dianggap menjijikkan. Namun ketika waktunya tiba, ia berhenti. Ia berpuasa. Ia masuk ke dalam kepompong, ke ruang sunyi transformasi. Di sana tubuh lamanya dihancurkan. Identitas lamanya dilebur. Dan ketika ia keluar, ia bukan lagi makhluk perayap yang merusak. Ia menjadi kupu-kupu yang indah dipandang mata, mampu terbang tinggi, hinggap di bunga-bunga, bahkan menjadi perantara penyerbukan yang menjaga keberlanjutan kehidupan.

Berpuasalah seperti kupu-kupu.

Dari makhluk yang merusak menjadi makhluk yang memberi manfaat. Dari yang menjijikkan menjadi lambang keindahan. Dari perayap menjadi penerbang. Puasa sejati adalah transformasi perilaku.

Sebaliknya, ada pula pelajaran dari ular. Ia juga berpuasa ketika hendak berganti kulit. Kulitnya terlepas, warnanya lebih cerah, tampilannya lebih segar. Tetapi sifatnya tetap sama. Ia tetap berbisa. Ia tetap melata. Ia tetap memangsa. Hanya penampilan yang berubah, bukan karakter.

Jangan berpuasa seperti ular.

Jangan sampai Ramadan hanya mengganti “kulit luar”: pakaian lebih religius, ucapan lebih lembut sesaat, media sosial lebih penuh kutipan. Namun setelah itu, perilaku kembali pada pola lama: egois, manipulatif, melanggar hukum, merusak lingkungan, menyakiti sesama.

Inilah yang diingatkan Nabi. Puasa yang tidak mengubah akhlak hanyalah lapar yang sia-sia.

Secara filosofis, puasa adalah latihan kesadaran terdalam. Ia mengajarkan manusia bahwa hidup bukan tentang memenuhi semua keinginan, tetapi tentang mengendalikan arah keinginan. Kesadaran filosofis membuat manusia bertanya: untuk apa aku hidup? Ke mana aku menuju? Apakah tindakanku selaras dengan nilai Ilahi? Tanpa kesadaran ini, puasa hanya menjadi rutinitas biologis.

Secara ekologis, kupu-kupu memberi kita pelajaran bahwa makhluk yang telah bertransformasi akan memberi dampak pada keseimbangan alam. Ia membantu penyerbukan. Ia menjaga siklus kehidupan. Puasa seharusnya melahirkan manusia yang lebih peduli pada lingkungan, tidak rakus mengeksploitasi, tidak merusak alam demi keuntungan sesaat, tidak menjadi “ulat” yang menggerogoti bumi. Takwa berarti hidup selaras dengan hukum penciptaan, menjaga keseimbangan, bukan merusaknya.

Secara sosial, puasa melatih empati. Lapar yang dirasakan bukan sekadar ritual, tetapi jembatan untuk memahami penderitaan orang lain. Jika setelah puasa seseorang tetap menindas, korup, menipu, atau menyakiti, maka ia belum keluar dari kepompong ego. Ia belum menjadi kupu-kupu sosial yang membawa manfaat.

Trilogi kesadaran (filosofis, ekologis, dan sosial) adalah buah dari puasa yang benar. Kesadaran filosofis menata arah hidup. Kesadaran ekologis menjaga hubungan dengan alam. Kesadaran sosial memperbaiki hubungan dengan sesama. Ketiganya berpuncak pada satu kata: takwa.

Takwa bukan sekadar rasa takut kepada Tuhan. Ia adalah hidup “on the track”, berada di jalur yang benar, taat pada hukum Ilahi, menghindari perilaku buruk, dan konsisten dalam kebaikan.

Puasa adalah laboratorium kehidupan. Di dalamnya manusia diuji: apakah ia akan tetap menjadi ulat yang rakus, menjadi ular yang hanya berganti kulit, atau menjadi kupu-kupu yang benar-benar berubah?

Karena pada akhirnya, puasa bukan tentang seberapa lama kita menahan lapar. Tetapi tentang seberapa jauh kita berubah setelahnya.

Jika puasa hanya membuat kita lelah, ia berhenti di tubuh.

Jika puasa membuat kita sadar, ia naik ke akal.

Jika puasa membuat kita berubah, ia hidup di perilaku.

Dan di sanalah makna sejati ayat itu menemukan wujudnya:

“…agar kamu bertakwa.” (Amri-untuk Indonesia)

Mendidik dan membangun semata mata hanya untuk beribadah kepada Allah