lognewsco.id - Alkisah di sebuah peternakan. Seluruh binatang berkumpul dengan semangat yang luar biasa. Mereka sepakat mengakhiri zaman penindasan. Tidak boleh ada lagi binatang yang hidup berlebihan sementara yang lain kelaparan. Tidak boleh ada lagi pemimpin yang menikmati hasil kerja rakyatnya. Semua harus setara. Semua harus sejahtera. Dan semua berhak menyampaikan pendapat.
Slogan besar pun ditulis di dinding kandang dalam 4 bahasa. All animals are equal. Tous les animaux sont égaux. Semua binatang memiliki hak yang sama. Kabeh kéwan nduwèni hak sing padha. (ternyata ada beberapa hewan berasal dari Gunung Kidul Jogya).
Pada awalnya, suasana peternakan benar-benar menggembirakan. Para babi yang dipercaya menjadi pengelola rajin mengadakan rapat, menyusun peraturan, membuat program kerja, dan menyampaikan pidato tentang masa depan. Mereka bahkan membentuk ”tim khusus” untuk memastikan bahwa seluruh binatang memahami arah pembangunan peternakan. Setiap pagi diumumkan bahwa produksi meningkat, kesejahteraan membaik, dan kehidupan semakin demokratis.
Anehnya, rumput yang dimakan para kambing semakin sedikit. Kandang ayam semakin sempit. Jatah makanan, seperti MBG, berupa gandum anak binatang semakin dikurangi. Namun menurut laporan resmi, semua indikator menunjukkan kemajuan yang sangat menggembirakan.
Suatu hari, seekor keledai tua yang sudah lama bermukim di peternakan mengangkat tangan dalam sebuah rapat. Ia bertanya dengan suara pelan, mengapa kesejahteraan para pemimpin meningkat jauh lebih cepat daripada kesejahteraan binatang lainnya? Mengapa kandang babi semakin luas, sementara kandang pekerja justru harus dihemat? Mengapa setiap kali ada masalah, jawabannya selalu berupa program baru, slogan baru, dan pembentukan tim baru? Ketua babi tersenyum lebar. Menurutnya, keledai itu belum memahami konsep pembangunan berkelanjutan (sustainable development ala animals).
Persoalan kesejahteraan, katanya, tidak boleh dilihat hanya dari keadaan sekarang, tetapi harus dipahami berdasarkan proyeksi jangka panjang. Keledai mengangguk. Rupanya, kelaparan hari ini harus disyukuri karena mungkin akan menjadi kemakmuran pada masa depan. Oh may God koq persis yo.
Beberapa hari kemudian, para babi mengumumkan perubahan aturan. Slogan lama yang berbunyi bahwa ”semua binatang setara” ternyata perlu disempurnakan.
Slogan baru tertulis: : ”Semua binatang setara, tetapi beberapa binatang yang memiliki tanggung jawab yang lebih besar sehingga membutuhkan fasilitas yang lebih istimewa”. Para domba langsung mengangguk dan mengulang kalimat itu berkali-kali. Mereka memang terkenal pandai menghafal, meskipun tidak selalu memahami apa yang dihafalkan.
Seekor ayam sempat bertanya, apakah kesetaraan masih berlaku jika ada binatang yang lebih setara daripada binatang lainnya? Pertanyaan itu segera dianggap sebagai bentuk pesimisme yang dapat mengganggu suasana kebersamaan.
Peternakan kemudian memasuki era modernisasi. Para babi memperkenalkan sistem administrasi digital, aplikasi pelaporan, dashboard kinerja, dan berbagai indikator keberhasilan.
Setiap kandang diwajibkan mengirim laporan secara daring. Woow kereen. Para kambing harus mengisi formulir produktivitas. Ayam harus melaporkan jumlah telur melalui aplikasi. Dan keledai diminta mengunggah bukti bahwa ia benar-benar bekerja. Seekor ayam pernah mengeluh bahwa ia lebih banyak mengisi laporan daripada bertelur.
Di bidang pendidikan, para babi juga melakukan reformasi besar-besaran. Mereka menyusun kurikulum baru setiap kali terjadi pergantian kepemimpinan. Kurikulum lama disebut tidak relevan. Kurikulum baru disebut transformatif curriculum. Kurikulum berikutnya dijanjikan akan lebih revolusioner. Buku-buku sejarah diperiksa kembali. Beberapa peristiwa dianggap tidak perlu diajarkan karena dapat menimbulkan pertanyaan yang tidak produktif. Pengalaman binatang yang pernah mengalami penindasan tidak lagi dicantumkan dalam buku pelajaran.
Menurut pengembang kurikulum, peserta didik harus diarahkan untuk berpikir positif dan tidak terjebak pada masa lalu.
Keledai tua kembali bertanya, "Kalau sejarah penderitaan dihapus dari buku pelajaran, bagaimana anak-anak kita tahu bahwa penderitaan itu pernah terjadi?" Seekor babi muda menjawab dengan percaya diri, "Tidak perlu khawatir. Kami sudah menyediakan materi pembelajaran tentang keberhasilan peternakan." Keledai tersenyum getir.
Suatu ketika, para binatang diperkenalkan dengan kecerdasan artifisial. Seperti mapel KKA. Para babi menyambutnya dengan penuh antusias.
Kini semua pertanyaan dapat dijawab dengan cepat. Tidak perlu membaca terlalu banyak buku, tidak perlu berdiskusi panjang, bahkan tidak perlu berpikir terlalu keras. Cukup masukkan pertanyaan ke dalam mesin, lalu keluarlah jawaban yang tampak meyakinkan.
Masalah sebenarnya mulai terasa ketika para binatang tidak lagi mampu membedakan antara informasi dan kebenaran (truth).
Setiap hari pengeras suara peternakan menyiarkan berita keberhasilan. Jika produksi menurun, diumumkan sebagai penyesuaian strategi. Jika makanan berkurang, disebut efisiensi sumber daya. Jika ada binatang yang protes, disebut kurang memiliki literasi kebijakan .
Malam semakin larut. Dari kejauhan terdengar suara para babi sedang berpesta di rumah besar. Mereka tertawa, berdansa, dan menikmati hidangan terbaik peternakan. Di dinding kandang, slogan kesetaraan masih terpampang megah. Hanya saja, tidak ada lagi yang berani membacanya dengan suara keras. Keledai tua memandang tulisan itu cukup lama.
Anak ayam bertanya, "Lalu, apa yang harus kita lakukan?"
Keledai menjawab, "Belajarlah membaca”. Tetapi jangan hanya membaca apa yang tertulis. ”Belajarlah mendengar”. Tetapi jangan percaya kepada setiap suara. ”Belajarlah menggunakan teknologi”. Tetapi jangan menyerahkan seluruh pikiran kepada mesin. Jangan pernah berhenti bertanya, terutama ketika semua orang di sekelilingmu mengatakan bahwa tidak ada lagi yang perlu dipertanyakan.
Refleksi
Di sinilah relevansi Animal Farm bagi pendidikan masa kini. Sekolah tidak sebatas menghasilkan murid yang pandai menerima informasi, tetapi menjadi ruang tumbuhnya kebebasan berpikir dan keberanian bertanya. Guru & dosen bukan hanya “penjaga gerbang” pengetahuan. Mereka pembimbing siswa untuk menumbuhkan kemampuan berpikir kritis, memeriksa bukti, mengenali bias, menghargai perbedaan pendapat. Sebab, pendidikan bukan tentang menyeragamkan jawaban, melainkan menumbuhkan keberanian untuk mempertanyakan.
“Jangan biarkan kekuasaan memonopoli kebenaran, teknologi menggantikan nalar, dan pendidikan membungkam daya kritis.” (Dinn Wahyudin)



