Indramayau, lognews.co.id – Peringatan Hari Sumpah Pemuda menjadi momentum untuk meneguhkan kembali komitmen generasi muda dalam menjaga persatuan, membangun karakter, dan mengabdikan diri bagi masa depan bangsa. Semangat tersebut tercermin dalam keterkaitan nilai-nilai Sumpah Pemuda dengan Sapta Janji Dharma Bakti yang menjadi bagian dari pembentukan karakter di Kampus Ma’had Al-Zaytun.
Dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda di Grand Musholla Rahmatan lil Alamin, Kampus Ma’had Al-Zaytun, Indramayu, Rabu (28/10/2026), pembacaan teks Sumpah Pemuda dilakukan oleh Presiden Organisasi Pelajar Ma’had Al-Zaytun (OPMAZ), Rafa Adliansyah Arizky, bersama tiga pelajar Ma’had Al-Zaytun lainnya yang memebacakan Sapta Janji Dharma Bakti menggunakan 3 Bahasa yaitu Bahasa Indonesia, Bahasa Arab, dan Bahasa Inggris.
Kegiatan yang mengusung tema “Menyongsong 100 Tahun Kelahiran Indonesia Raya” tersebut juga menjadi momentum pelaksanaan lokakarya penyusunan kurikulum enam program studi Politeknik Tanah Air Indonesia Raya.
Pembacaan teks Sumpah Pemuda oleh para pelajar menjadi pengingat bahwa ikrar yang lahir pada 28 Oktober 1928 bukan sekadar warisan sejarah, melainkan komitmen kebangsaan yang perlu diwujudkan melalui tindakan nyata. Generasi muda memiliki tanggung jawab untuk meneruskan cita-cita persatuan Indonesia melalui pendidikan, pengembangan ilmu pengetahuan, pembentukan karakter, dan pengabdian kepada masyarakat.
Sumpah Pemuda dan Pembentukan Karakter Generasi Pelanjut
Semangat Sumpah Pemuda memiliki keterkaitan dengan Sapta Janji Dharma Bakti Ma’had Al-Zaytun, yang memuat tujuh komitmen dalam membentuk pribadi berdisiplin, berani berpikir dan bertindak, menjunjung kejujuran, hidup sederhana, peduli terhadap sesama, serta pantang menyerah dalam belajar dan mengabdi.
- Janji pertama, berdisiplin dalam waktu, ruang, dan niat, menegaskan pentingnya kedisiplinan sebagai fondasi bagi generasi muda dalam menjalankan tanggung jawab. Semangat kebangsaan membutuhkan pribadi yang mampu mengelola waktu, menjaga komitmen, dan bekerja secara konsisten untuk mencapai tujuan bersama.
- Janji kedua, berani berpikir, bertindak, dan bertanggung jawab, sejalan dengan kebutuhan bangsa terhadap pemuda yang mampu melahirkan gagasan dan menghadirkan perubahan. Keberanian tersebut tidak berhenti pada pemikiran, tetapi diwujudkan melalui tindakan yang terukur dan kesediaan mempertanggungjawabkan setiap keputusan.
- Janji ketiga, membela nilai-nilai kampus dan pemimpin yang menanamkan warisan, mengandung pesan tentang pentingnya menjaga nilai-nilai luhur dan meneruskan warisan kebaikan. Dalam konteks kebangsaan, semangat ini dapat diterjemahkan melalui upaya merawat persatuan, menghargai perjuangan para pendahulu, dan meneruskan cita-cita Indonesia.
- Janji keempat, jujur dalam kata, kerja, dan niat, menempatkan integritas sebagai bagian penting dari karakter generasi pelanjut. Kejujuran menjadi landasan untuk membangun kepercayaan, baik dalam lingkungan pendidikan maupun dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
- Janji kelima, hidup hemat, sederhana, dan bertanggung jawab terhadap ciptaan, mengajarkan pentingnya kesadaran terhadap lingkungan dan keberlanjutan kehidupan. Generasi muda tidak hanya memikirkan kepentingan hari ini, tetapi juga tanggung jawab terhadap masa depan generasi berikutnya.
- Janji keenam, mencintai dan merawat sesama sebagai bagian dari jiwa kampus, memiliki hubungan erat dengan semangat persatuan dalam Sumpah Pemuda. Keberagaman suku, bahasa, budaya, dan latar belakang merupakan bagian dari kekayaan Indonesia yang perlu dirawat melalui sikap saling menghormati dan kepedulian.
Sementara itu, janji ketujuh, pantang menyerah dalam belajar, berbakti, dan mewariskan nilai, menegaskan bahwa pembangunan bangsa merupakan proses berkelanjutan. Generasi muda perlu terus belajar, meningkatkan kapasitas diri, serta mewariskan nilai-nilai luhur kepada generasi selanjutnya.
Menyongsong 100 Tahun Kelahiran Indonesia Raya
Tema “Menyongsong 100 Tahun Kelahiran Indonesia Raya” memberikan ruang refleksi mengenai arah perjalanan bangsa dan peran generasi muda dalam mempersiapkan masa depan Indonesia.
Semangat tersebut tidak cukup diwujudkan melalui peringatan seremonial. Diperlukan komitmen yang berkelanjutan untuk meningkatkan kualitas pendidikan, mengembangkan kemampuan berpikir, memperkuat integritas, dan membangun kepedulian terhadap persoalan masyarakat.
Dalam konteks ini, pelaksanaan lokakarya penyusunan kurikulum enam program studi Politeknik Tanah Air Indonesia Raya menjadi bagian dari rangkaian kegiatan yang berorientasi pada pengembangan pendidikan. Penyusunan kurikulum merupakan langkah penting dalam merancang proses pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan ilmu pengetahuan, perkembangan zaman, dan tantangan masa depan.
Pendidikan memiliki peran strategis dalam menyiapkan generasi yang tidak hanya menguasai pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga memiliki karakter, tanggung jawab, dan kesadaran kebangsaan. Karena itu, pengembangan pendidikan dan pembentukan karakter perlu berjalan beriringan.
Sapta Janji Dharma Bakti dapat menjadi landasan refleksi dalam proses tersebut, terutama dalam menanamkan kedisiplinan, keberanian berpikir, kejujuran, kesederhanaan, kepedulian, serta ketekunan dalam belajar dan mengabdi.
Meneguhkan Janji, Mewujudkan Pengabdian
Peringatan Hari Sumpah Pemuda di Ma’had Al-Zaytun mempertemukan dua pesan penting bagi generasi muda. Sumpah Pemuda menegaskan komitmen persatuan sebagai bangsa Indonesia, sedangkan Sapta Janji Dharma Bakti menekankan pembentukan karakter dan tanggung jawab dalam menjalani kehidupan.
Keduanya memiliki titik temu pada pentingnya tindakan nyata. Persatuan perlu dirawat melalui sikap saling menghormati, keberanian perlu disertai tanggung jawab, dan cita-cita kebangsaan perlu diwujudkan melalui kerja, pendidikan, serta pengabdian yang berkelanjutan.
Generasi pelanjut bangsa tidak cukup hanya mengenang ikrar para pendahulu, tetapi juga harus mampu menerjemahkan nilai-nilai perjuangan ke dalam tindakan sehari-hari. Dengan demikian, semangat Sumpah Pemuda dapat terus hidup melalui karakter, pemikiran, dan karya generasi muda dalam menyongsong masa depan Indonesia. (Saheel untuk Indonesia)

