Bapanas: Ekosistem Pangan Al-Zaytun Bisa Jadi Contoh Kemandirian Daerah

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

INDRAMAYU, lognews.co.id - Model ketahanan pangan yang mengintegrasikan proses produksi hingga konsumsi dalam satu ekosistem dinilai dapat menjadi contoh bagi daerah lain. Konsep tersebut tercermin dalam pengelolaan pangan di lingkungan Pondok Pesantren Al-Zaytun, yang dinilai berpotensi dikembangkan sebagai model kemandirian pangan dari skala pesantren hingga wilayah yang lebih luas.

Hal itu disampaikan Direktur Ketersediaan Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas), Maino Dwi Hartono, S.IP., M.P., saat menjadi narasumber dalam program Konferensi PERS (Prima Edukasi Ruang Siaran) di Radio Prima 95,8 FM Indramayu, yang di tuan rumahi oleh dynasti, S.I.Kom pada Senin (26/10/2026).

Dalam talkshow tersebut, Maino menyoroti pentingnya membangun ekosistem pangan yang terintegrasi melalui konsep closed loop atau sistem tertutup, yang menghubungkan sektor hulu hingga hilir. Menurutnya, pendekatan tersebut dapat membantu memastikan ketersediaan pangan sekaligus memenuhi kebutuhan konsumsi dalam suatu lingkungan.

Ia menilai, praktik yang diterapkan di lingkungan pesantren dapat menjadi gambaran bagaimana pengelolaan lahan dan pemberdayaan sumber daya manusia berjalan beriringan untuk mendukung pemenuhan kebutuhan pangan secara mandiri.

“Bagaimana ternyata di pondok pesantren itu bisa membuat ekosistem closed loop, hulu hilir, sehingga ketahanan pangan di pondok pesantren, dengan santri yang sangat banyak, dengan pemberdayaan santri-santrinya, pemberdayaan lahannya, sehingga kebutuhan pangannya bisa terpenuhi sendiri,” ujar Maino.

Menurutnya, pendekatan tersebut tidak hanya relevan bagi lingkungan pesantren, tetapi juga memiliki peluang untuk diterapkan dalam skala yang lebih luas. Pengembangan sistem pangan terintegrasi dapat dimulai dari komunitas kecil, kemudian diperluas ke tingkat desa, kecamatan, kabupaten, provinsi, hingga nasional.

Maino memandang model tersebut sebagai salah satu contoh kemandirian pangan yang dapat dipelajari dan dikembangkan oleh berbagai daerah. Dengan pengelolaan yang terintegrasi, potensi sumber daya lokal dapat dimanfaatkan untuk mendukung kebutuhan pangan masyarakat secara berkelanjutan.

Ia juga menyebut praktik tersebut berpeluang menjadi pilot project atau proyek percontohan bagi daerah maupun pelaku lain yang ingin membangun sistem ketahanan pangan berbasis potensi wilayah.

“Ini saya pikir sangat baik, dan mungkin bisa dijadikan contoh untuk daerah-daerah lain, atau untuk pelaku-pelaku yang lain,” katanya.

Pandangan tersebut menegaskan pentingnya pengembangan ketahanan pangan yang tidak hanya berorientasi pada ketersediaan bahan pangan, tetapi juga memperhatikan keterhubungan antara produksi, pengelolaan sumber daya, dan konsumsi. Integrasi ketiga aspek tersebut dapat menjadi salah satu pendekatan untuk memperkuat kemandirian pangan di tingkat komunitas maupun wilayah.

Melalui program Konferensi PERS, Radio Prima 95,8 FM Indramayu menghadirkan ruang diskusi mengenai isu-isu strategis yang berkaitan dengan pendidikan, masyarakat, dan pembangunan. Pembahasan mengenai ekosistem pangan ini menjadi bagian dari upaya memperluas pemahaman publik tentang pentingnya kemandirian pangan dan pemanfaatan potensi lokal. (Saheel untuk Indonesia)