Pelajar Al Zaytun Bersuara untuk Indonesia, Jangan Tutup Mata terhadap Penderitaan Rakyat!

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

INDRAMAYU, lognews.co.id - Festival Bahasa yang digelar di Mini Zeteso, Gedung Ali bin Abi Thalib, menjadi ruang bagi para pelajar untuk mengembangkan kemampuan berbicara di depan umum sekaligus menyampaikan gagasan mengenai berbagai persoalan yang dihadapi Indonesia. Salah satunya ditunjukkan oleh Adhayza Noverinzi, pelajar kelas 12 IPSD, melalui pidato berbahasa Inggris bertajuk “Spreading Awareness of What's Happening Today, Especially in Indonesia.” pada hari sabtu, (24/10/2026)

Dalam presentasinya, Adhayza mengangkat berbagai persoalan lingkungan, sosial, dan ekonomi yang membutuhkan perhatian masyarakat. Materi yang disampaikan mencakup kebakaran hutan dan lahan (karhutla), pencemaran udara akibat asap, tekanan sosial di tengah masyarakat, hingga persoalan distribusi sumber daya yang berdampak terhadap kehidupan sehari-hari.

Adhayza menjelaskan bahwa ketertarikannya mengangkat isu tersebut berangkat dari pengalaman tinggal selama lebih dari enam tahun di Kalimantan. Pengalaman itu membuatnya merasa bahwa persoalan kebakaran hutan dan lahan perlu mendapatkan perhatian lebih luas, terutama karena dampaknya tidak hanya dirasakan oleh lingkungan, tetapi juga oleh masyarakat yang tinggal di wilayah terdampak.

Dalam wawancaranya pada lognews media, ia menegaskan pentingnya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap persoalan yang terjadi di sekitar mereka.

“Because as a person who has lived for more than 6 years in Kalimantan, I feel that we are not aware enough because we do not get the effect,” ujar Adhayza.

Menurutnya, masyarakat yang tidak mengalami dampak langsung terkadang hanya mengetahui suatu peristiwa melalui pemberitaan tanpa benar-benar memahami konsekuensi yang ditimbulkannya. Karena itu, ia ingin mendorong audiens agar tidak sekadar melihat atau mendengar berita, tetapi juga memahami persoalan dan dampaknya terhadap kehidupan masyarakat.

Mengangkat Karhutla dan Dampaknya terhadap Masyarakat

Materi presentasi Adhayza menyoroti kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan serta Sumatra sebagai salah satu keadaan darurat lingkungan yang perlu mendapatkan perhatian. Kebakaran pada kawasan hutan dan lahan gambut dapat memicu kabut asap dan pencemaran udara, sekaligus mengancam ekosistem serta kesehatan masyarakat.

Dalam pemaparannya, Adhayza juga menyebut angka 77.000 anak yang disebut terdampak kebakaran hutan dan lahan. Angka tersebut menjadi bagian dari pesan yang ingin disampaikannya mengenai pentingnya melihat dampak bencana lingkungan terhadap kelompok masyarakat yang rentan. Namun, angka itu masih memerlukan verifikasi sumber dan periode data sebelum dijadikan statistik terkonfirmasi dalam pemberitaan.

Presentasi tersebut turut menggambarkan bagaimana persoalan lingkungan berkaitan dengan tantangan lain yang dihadapi Indonesia. Materi bertajuk “Three Interconnected Challenges Facing the Nation” membagi persoalan menjadi tiga aspek utama, yakni bencana ekologis, tekanan sosial, dan hambatan pasokan sumber daya.

Pada aspek tekanan sosial, presentasi menampilkan gambaran aksi masyarakat yang berkaitan dengan tuntutan tata kelola pemerintahan dan persoalan biaya hidup. Sementara itu, hambatan pasokan sumber daya digambarkan melalui persoalan ketersediaan bahan bakar yang dapat memengaruhi mobilitas masyarakat dan aktivitas ekonomi.

Melalui keterkaitan ketiga persoalan tersebut, Adhayza mengajak audiens memahami bahwa masalah lingkungan, sosial, dan ekonomi tidak selalu berdiri sendiri. Dampak suatu krisis dapat meluas dan memengaruhi berbagai kelompok masyarakat.

Mengajak Generasi Pelanjut Mengambil Tindakan Nyata

Adhayza berharap pidato yang disampaikannya dapat membuka wawasan teman-teman dan audiens mengenai berbagai persoalan yang sedang terjadi, khususnya di Indonesia. Baginya, meningkatkan kepedulian tidak selalu harus dimulai dengan tindakan besar. Masyarakat dapat mengambil langkah sederhana sesuai dengan kemampuan masing-masing.

“If they can't help, at least they can share the news from their social media. Or maybe donate,” kata Adhayza.

Pesan tersebut menekankan bahwa penyebaran informasi yang bertanggung jawab dan dukungan bagi masyarakat terdampak dapat menjadi langkah awal untuk menumbuhkan kepedulian bersama. Ia juga menyampaikan harapan agar lingkungan Mahatma Zaidun dapat turut memberikan bantuan atau donasi bagi mereka yang membutuhkan.

Dalam bagian penutup presentasinya, Adhayza menampilkan pesan “Spread Awareness & Amplify Local Voices Today”, yang mengajak audiens menyebarkan kesadaran publik sekaligus memperkuat suara masyarakat di daerah terdampak. Pesan tersebut diperkuat dengan ajakan untuk menjaga lingkungan, peduli terhadap sesama, memanfaatkan pengetahuan, serta membangun kepedulian generasi muda.

Ia berharap masyarakat, khususnya para pelajar, tidak bersikap acuh terhadap berbagai persoalan yang terjadi hanya karena dampaknya belum dirasakan secara langsung.

Festival Bahasa sebagai Ruang Penyampaian Gagasan

Penampilan Adhayza memperlihatkan bahwa kemampuan berbahasa asing dapat dimanfaatkan bukan hanya untuk berkomunikasi, melainkan juga untuk menyampaikan gagasan, membangun kesadaran, dan mengajak orang lain memahami persoalan publik.

Melalui Festival Bahasa di Mini Zeteso, Gedung Ali bin Abi Thalib, ia menggunakan pidato berbahasa Inggris untuk menghubungkan isu lingkungan dengan tanggung jawab sosial masyarakat. Presentasinya sekaligus menempatkan generasi muda sebagai bagian dari upaya mendorong kepedulian terhadap berbagai tantangan yang dihadapi Indonesia.

Bagi Adhayza, perubahan dapat dimulai dari kesediaan untuk mengetahui, memahami, dan menyebarkan informasi yang bermanfaat. Ia berharap semakin banyak orang tergerak untuk peduli terhadap kondisi di sekitarnya serta mengambil tindakan sesuai kemampuan masing-masing.

“Itu saja harapan saya,” menjadi inti pesan yang ingin ia sampaikan, bahwa kepedulian terhadap persoalan bangsa dapat tumbuh ketika masyarakat tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga bersedia mengambil bagian dalam upaya perubahan. (Saheel untuk Indonesia)