INDRAMAYU, lognews.co.id – Peternak ayam rakyat menghadapi tekanan usaha akibat harga jual ayam hidup yang disebut berada di bawah harga pokok produksi (HPP). Kondisi tersebut dinilai mengancam keberlangsungan usaha peternak mandiri, terutama karena biaya pakan dan kebutuhan operasional tetap harus dibayarkan selama masa pemeliharaan.
Sekretaris Jenderal Perhimpunan Peternak Rakyat Mandiri Indonesia (PERMINDO), Heri Irawan, S.Pt., mengungkapkan persoalan tersebut dalam Konferensi Pers PERS (Prima Edukasi Ruang Siaran) yang di pandu Tuan Rumah dari KONFERENSI PERS Dynasti, S.I.Kom pada Kamis, 22 Oktober 2026.
Menurut Heri, peternak rakyat berada dalam posisi yang sulit karena harus membeli bibit ayam atau day-old chick (DOC) dan pakan dari perusahaan besar, sementara harga jual hasil budidaya tidak selalu mampu menutup biaya produksi.
“Jadi kita beli bibit, beli pakan dari pabrikan, kemudian pelihara dalam satu bulan ataupun telur ya, dan terjadilah hari ini harganya di bawah HPP,” kata Heri dalam konferensi pers tersebut.
Harga Jual Belum Menutup Biaya Produksi
Heri menjelaskan, peternak rakyat memiliki beban biaya yang harus dipenuhi secara berkelanjutan. Pembelian DOC, pakan, dan pembiayaan operasional menjadi kebutuhan utama yang tidak dapat dihentikan meskipun harga jual sedang melemah.
Ia menyebut harga ayam hidup yang diterima peternak dalam kondisi yang dibahas saat konferensi pers berada di kisaran Rp22.000 per kilogram. Sementara itu, harga acuan pembelian atau HAP yang disebutkannya mencapai Rp25.000 per kilogram.
Perbedaan tersebut, menurut Heri, menunjukkan adanya kesenjangan antara harga yang seharusnya menjadi acuan dan harga yang diterima peternak di lapangan.
“Yang penting peternak rakyat ini sebenarnya simpel Pak, PERMINDO sendiri bisa berproduksi dengan baik, beli pakan terjangkau, kemudian harga jual bisa diatas HPP,” ujarnya.
Biaya Operasional Terus Berjalan
Tekanan harga jual semakin berat karena peternak tetap harus memenuhi kewajiban pembayaran kepada pemasok. Heri mengatakan pembelian DOC dilakukan secara tunai, sedangkan kebutuhan pakan harus terus dipenuhi selama ayam dibudidayakan.
Jika kondisi tersebut berlangsung dalam waktu lama, kemampuan peternak untuk mempertahankan usaha akan semakin terbatas.
“Kalau berulang terus, katakan 2 bulan ke depan, ini habis Pak anggota kita,” kata Heri.
Ia memperingatkan bahwa kerugian yang berlangsung berulang dapat membuat peternak menghentikan produksi karena tidak lagi memiliki modal yang cukup untuk melanjutkan siklus budidaya.
Pemerintah Diharapkan Menjaga Keberlangsungan Peternak
PERMINDO berharap pemerintah dapat memperkuat pengawasan harga dan memastikan kebijakan yang sudah ditetapkan berjalan di lapangan. Menurut Heri, peternak membutuhkan kepastian harga jual yang layak sekaligus akses terhadap pakan dengan harga terjangkau.
Ia juga mendukung upaya pemerintah dalam mengusut dugaan praktik mafia pangan, khususnya jika praktik tersebut terbukti mengganggu distribusi dan pembentukan harga komoditas peternakan.
Heri menilai keberlangsungan peternak rakyat perlu menjadi bagian dari upaya menjaga ketahanan pangan nasional. Sebab, apabila peternak mandiri terus mengalami kerugian, kapasitas produksi dan keberadaan usaha mereka berpotensi semakin tergerus.
Konferensi Pers PERS bersama Heri Irawan tersebut menjadi ruang untuk menyampaikan persoalan yang dihadapi anggota PERMINDO sekaligus mendorong pemerintah mengambil langkah konkret dalam melindungi keberlangsungan usaha peternakan rakyat. (Saheel untuk Indonesia)



