Dinn Wahyudin
lognews.co.id - Campus and spouse. Dua kata yang sebenarnya tidak lazim dipasangkan. Kampus identik dengan buku, kuliah, penelitian, diskusi, dan tugas. Kampus juga merupakan ruang perjumpaan. Di sana orang bertemu, berdiskusi, bekerja sama, berorganisasi, saling mengenal, dan terkadang tanpa direncanakan, saling jatuh hati.
Riviera (2013), dalam tulisan Top 10 Universities to Find Wife?, menyebut Stanford University dan Harvard University sebagai universitas yang banyak dikaitkan dengan pencarian calon pasangan hidup. Alasannya antara lain reputasi akademik dan lingkungan intelektual yang mempertemukan mahasiswa berprestasi. Untuk calon suami, tulisan tersebut menyebut US Military Academy, West Point, dengan citra ketangguhan, disiplin, kepemimpinan, dan pengabdian.
Tulisan populer semacam itu tidak dapat dijadikan ukuran ilmiah tentang “kampus pencetak jodoh”. Jodoh tidak sesederhana reputasi universitas. Namun ada fenomenanya menarik untuk direnungkan.
Secara etimologis, universitas berasal dari bahasa Latin universitas magistrorum et scholarium, komunitas para guru dan pelajar. Universitas adalah ruang tempat ilmu, gagasan, budaya, pengalaman, dan manusia bertemu. Dari ruang itu lahir bukan hanya sarjana, magister, doktor, atau profesor, tetapi juga persahabatan, jejaring profesional, bahkan kisah cinta.
Di kelas orang bertemu. Di organisasi mahasiswa orang berkolaborasi. Di laboratorium orang meneliti. Di perpustakaan orang berdiskusi. Dari interaksi yang terus berulang, kadang muncul sesuatu yang tidak tercantum dalam kurikulum, yaitu rasa suka. Tresno. Amour. Liefde. Atau Manam (dalam dialek etnis Asmat Papua Selatan).
Kisah semacam itu hadir dalam novel Same Campus with Wife karya Farah Vida Karina (2018). Aksa dan Fau adalah pasangan suami istri yang kuliah di program studi dan universitas yang sama, tetapi teman-teman sekelasnya tidak mengetahui status mereka. Drama pun bergulir. Seorang mahasiswi mendekati Aksa, sementara seorang dosen muda menaruh hati kepada Fau. Mereka harus menjaga komitmen sekaligus menyelesaikan studi. Pada akhirnya, keduanya berhasil lulus. Dan dosen muda gigit jari.
Budaya populer Indonesia juga pernah menghadirkan kisah serupa melalui film Cintaku di Kampus Biru (1976), yang memadukan kehidupan mahasiswa, aktivitas kampus, konflik akademik, dan asmara. Kampus tampil sebagai miniatur kehidupan: ada idealisme, persahabatan, ambisi, konflik, dan tentu saja cinta.

