Friday, 18 September 2026

Darurat Literasi Indonesia! Perpusnas Bongkar Akar Masalah Budaya Membaca di Era Digital

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

INDRAMAYU, lognews.co.id – Rendahnya tingkat literasi masyarakat Indonesia masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi pemerintah. Berdasarkan berbagai hasil kajian nasional maupun internasional, kemampuan literasi membaca masyarakat Indonesia dinilai belum menggembirakan dan membutuhkan penguatan secara menyeluruh, mulai dari lingkungan keluarga, sekolah, hingga masyarakat.

Hal tersebut disampaikan Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI), Adin Bondar, S.Sos., M.Si., saat menjadi narasumber dalam program Breaking News Prima (PPN 1011) di Prima FM Indramayu. yang di wawancarai oleh Dynasti, S.I.Kom dan di produser oleh Saheel dan disiarkan melalui sosial media oleh baim.

Menurut Adin, literasi tidak hanya dimaknai sebagai kemampuan membaca dan menulis, tetapi merupakan kemampuan seseorang dalam menggunakan, menganalisis, dan mengevaluasi informasi untuk meningkatkan kualitas hidup.

“Literasi pada hakikatnya adalah kemampuan menggunakan informasi, baik yang bersifat tekstual maupun nontekstual, untuk berpikir kritis dan meningkatkan kecakapan hidup,” ujarnya.

Tingkat Gemar Membaca Masih Rendah

Adin mengungkapkan, hasil Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) 2025 yang disusun Perpusnas menunjukkan tingkat kegemaran membaca masyarakat Indonesia masih berada pada angka 54,80 atau masuk kategori rendah. Temuan tersebut juga diperkuat oleh hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022, yang menempatkan kemampuan literasi membaca pelajar Indonesia masih jauh dari harapan.

Selain itu, rata-rata masyarakat Indonesia tercatat hanya menghabiskan sekitar 129 jam membaca dalam satu tahun, dengan jumlah buku yang dibaca sekitar 5,9 buku per tahun.

“Artinya, membaca secara utuh belum menjadi kebiasaan masyarakat kita,” kata Adin.

Ia menilai kondisi tersebut tampak dalam kehidupan sehari-hari, di mana masyarakat lebih banyak menghabiskan waktu menggunakan gawai dibanding membaca buku.

Persoalan Literasi Bersifat Multidimensional

Adin menegaskan rendahnya literasi Indonesia tidak bisa dipandang sebagai persoalan tunggal. Menurutnya, terdapat hubungan sebab-akibat yang kompleks sehingga penguatan budaya baca harus dilakukan secara komprehensif.

Beberapa faktor yang menjadi akar persoalan antara lain masih terbatasnya pemahaman masyarakat mengenai konsep literasi, kurangnya ketersediaan bahan bacaan yang sesuai kebutuhan masyarakat, minimnya fasilitas pendukung akses membaca, hingga keterbatasan kompetensi pengelola perpustakaan dan pegiat literasi.

“Penguatan budaya baca dan kecakapan literasi tidak bisa dilakukan secara parsial. Ini persoalan multidimensional yang harus dibenahi bersama,” jelasnya.

Perpusnas Bangun 20 Ribu Ruang Baca

Sebagai bagian dari Gerakan Nasional Literasi, Perpusnas RI terus memperluas kolaborasi dengan berbagai kementerian, pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan masyarakat.

Pada 2026, Perpusnas bersama Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah telah membangun 20 ribu lokus literasi, yang meliputi perpustakaan desa dan kelurahan, taman bacaan masyarakat, hingga ruang baca di rumah ibadah. Masing-masing lokasi mendapatkan 1.000 buku bacaan bermutu yang telah melalui proses asesmen kelayakan.

“Buku-buku tersebut dipilih agar sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan anak-anak Indonesia,” ujar Adin.

Tak hanya itu, Perpusnas juga menggandeng 23 perguruan tinggi negeri dan swasta melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Literasi. Ribuan mahasiswa diterjunkan ke berbagai daerah untuk mengelola ruang baca dan mengembangkan berbagai aktivitas literasi di masyarakat.

Libatkan Ratusan Relawan Literasi

Perpusnas juga membentuk 360 Relawan Literasi Masyarakat yang tersebar di ratusan kabupaten dan kota di Indonesia. Para relawan merupakan pegiat literasi yang telah lama aktif di masyarakat dan berperan sebagai penggerak budaya baca di daerah masing-masing.

Selain relawan, gerakan ini turut melibatkan Bunda Literasi, Duta Baca, komunitas literasi, hingga tokoh masyarakat sebagai role model untuk meningkatkan minat baca masyarakat.

Literasi Harus Dimulai dari Keluarga

Menurut Adin, keluarga menjadi fondasi utama dalam membangun budaya literasi. Ia menekankan pentingnya peran orang tua sejak masa 1.000 hari pertama kehidupan anak, yakni sejak masa kehamilan hingga usia dua tahun.

Merujuk pada ilmu neurologi, masa tersebut merupakan periode emas perkembangan otak anak sehingga membutuhkan stimulasi melalui aktivitas membaca, bercerita, dan interaksi positif di rumah.

“Bunda dan ayah harus menjadi role model. Membaca dan membacakan cerita sejak dini akan membantu perkembangan kemampuan kognitif anak,” tuturnya.

Ia berharap budaya membaca tidak hanya menjadi program pemerintah, tetapi juga menjadi kebiasaan dalam keluarga, sekolah, dan lingkungan masyarakat.

Gerakan Literasi Jadi Tanggung Jawab Bersama

Menutup wawancara, Adin menegaskan bahwa peningkatan literasi merupakan bagian dari upaya mencerdaskan kehidupan bangsa sebagaimana amanat Undang-Undang Dasar 1945. Karena itu, keberhasilan gerakan literasi tidak hanya bergantung pada Perpusnas, tetapi membutuhkan dukungan seluruh pemangku kepentingan.

“Tidak ada negara maju tanpa masyarakat yang memiliki budaya membaca dan kecakapan literasi yang kuat. Karena itu, penguatan literasi harus menjadi gerakan bersama, melibatkan pemerintah, dunia usaha, sekolah, komunitas, tokoh agama, tokoh budaya, hingga keluarga,” pungkasnya. (Saheel untuk Indonesia)