Lognews.co.id – Pelajar Madrasah Aliyah (MA) Al Zaytun yang tergabung dalam Ekstrakurikuler Pertanian melaksanakan panen tebu perdana di lahan pertanian Kampus Al Zaytun, Rabu (26/8/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari implementasi kurikulum kewirausahaan yang menggabungkan pembelajaran teori dengan praktik pertanian secara langsung di lapangan.
Dalam kegiatan tersebut, Ustadzah Siti Umawaroh, menjelaskan bahwa pembelajaran pertanian di Mahad Al Zaytun tidak hanya mengajarkan teori, tetapi juga membimbing pelajar memahami seluruh proses budidaya hingga analisis hasil usaha.
"Pendidikan kewirausahaan di Mahad Al Zaytun diaktualkan sampai sebesar ini. Anak-anak diajarkan kaitannya dengan entrepreneurship, sampai budidaya, kemudian mereka juga dipahamkan kaitan dengan perhitungan dan analisis hasil usaha," ujar Ustadzah Siti Umawaroh.
Pembelajaran Dimulai dari Teori hingga Praktik di Lapangan
Menurut Ustadzah Siti Umawaroh, pembelajaran dilakukan secara terpadu. Sebelum turun ke lahan, para pelajar mendapatkan materi di kelas, kemudian langsung mempraktikkannya di lapangan agar memahami proses pertanian secara menyeluruh.
"Dalam satu hari itu mereka sebelum ke lapangan dibekali dulu dengan teori. Sehingga ketika sudah di lapangan mereka sudah siap," katanya.
Panen tahun ini menjadi panen tebu pertama yang dilakukan Ekstrakurikuler Pertanian Mahad Al Zaytun. Penanaman dilakukan sejak September 2025 menggunakan sistem double row di lahan seluas sekitar satu hektare, kemudian dirawat selama kurang lebih 11 bulan oleh para pelajar.
Selama masa budidaya, pelajar mempelajari proses penutupan tanah, pemupukan sebanyak tiga kali, pembersihan gulma, hingga pengikatan batang tebu agar tumbuh lurus dan siap dipanen.
Kurikulum Kewirausahaan Terintegrasi dengan LSTEMS
Ustadzah Siti Umawaroh menjelaskan bahwa kegiatan panen tebu merupakan bagian dari kurikulum Mahad Al Zaytun yang mengintegrasikan pendekatan LSTEMS dengan pendidikan kewirausahaan.
"Kalau dikaitkan dengan kewirausahaan, anak-anak bermula dari referensi sains, kemudian teori, menanam, merawat, panen, sampai pascapanen dan analisis hasil usaha. Di situ sebenarnya kurikulum memang terintegrasi," jelasnya.
Menurutnya, proses belajar tidak berhenti setelah panen. Pelajar juga mengikuti tahapan pascapanen, mulai dari menggiling batang tebu untuk menghasilkan nira hingga mengolahnya menjadi gula merah secara tradisional.
"Saat pengolahan menjadi gula merah yang akan dilakukan oleh pelajar ini, mereka lebih mudah mengambil niranya. Jadi benar-benar terlihat sirkulasi pembelajarannya, dari menanam, panen, sampai pascapanen menghasilkan produk," ujarnya.
Melalui model pembelajaran tersebut, pelajar diperkenalkan pada seluruh rantai produksi pertanian, mulai dari budidaya hingga menghasilkan produk yang memiliki nilai ekonomi.
Pelajar Terlibat Penuh Selama Hampir Satu Tahun
Koordinator pelajar Ekstrakurikuler Pertanian, Siti Maulana Rasul Ilyasma (Shelly), mengatakan dirinya ikut menanam tebu sejak awal bersama puluhan pelajar lainnya. Setelah hampir satu tahun melakukan perawatan, kini ia ikut memanen hasil tanamannya sendiri.
"Setelah ini tebu akan kita bawa untuk diproses menjadi gula merah. Itu menjadi praktik kami setelah panen," kata Shelly.
Shelly juga mengaku pengalaman tersebut menjadi bekal untuk pendidikan yang ingin ditempuh di masa depan.
"Mungkin saya di sini mendapatkan materi untuk saat saya kuliah nanti," ujarnya saat menyampaikan cita-citanya melanjutkan studi di Institut Pertanian Bogor (IPB).
Sementara itu, pelajar kelas XI MIPA P3, Ahmad Syafi’i Mufid, mengatakan proses pembelajaran selama hampir satu tahun memberinya pengalaman yang tidak hanya bersifat teori.
"Yang saya dapatkan itu dari materi teori dan praktiknya juga, yang akan saya terapkan di luar sana," ujar Syafi’i.
Kadar Kemanisan Tebu Capai 20 hingga 25 Brix
Dalam kegiatan panen, tim pembina mengukur tingkat kemanisan tebu menggunakan refractometer. Hasil pengujian menunjukkan kadar kemanisan tebu berada pada kisaran 20 hingga 25 brix.
Ustad Doni menjelaskan bahwa angka tersebut berada di atas kisaran kadar kemanisan tebu yang umumnya dimiliki petani.
"Tingkat brix tebu yang kita panen ini di angka 20 sampai 25, sedangkan kalau petani biasanya di angka 16 sampai 18. Jadi dengan keseriusan pelajar dalam merawat tanaman tebu, sekarang kadar gulanya cukup tinggi," jelasnya.
Diperkirakan Menghasilkan 100 Ton Tebu
Dari lahan seluas sekitar satu hektare, hasil panen diperkirakan mencapai sekitar 100 ton tebu. Ustad Doni mengatakan sebagian hasil panen tersebut akan diolah menjadi gula merah sebagai bagian dari praktik kewirausahaan.
"Satu hektare ini bisa di angka sekitar 100 ton tebu. Kalau gula merahnya kemungkinan sekitar 16 persen dari hasil nira yang diperoleh," katanya.
Tahapan pengolahan dilakukan secara tradisional, mulai dari penggilingan batang tebu, pengambilan nira, pemasakan, hingga pencetakan gula merah yang dikerjakan bersama para pelajar.
Pengalaman Menjadi Bekal Pendidikan dan Kemandirian
Melalui kegiatan panen tebu perdana ini, Al Zaytun memperlihatkan model pembelajaran yang menghubungkan teori, praktik, dan kewirausahaan dalam satu proses pendidikan. Pelajar tidak hanya belajar menanam, tetapi juga memahami proses produksi, pengolahan hasil, hingga analisis usaha sebagai bagian dari pembentukan karakter mandiri dan jiwa entrepreneur.
(Saheel untuk Indonesia)



