Oleh: Ali Aminulloh
(Disarikan dari ungkapan Ir. Ilham Aidit, Pendiri Forum Silaturahmi Anak Bangsa dan sahabat Syaykh Al-Zaytun)
lognews.co.id - Panjang usia bukanlah satu-satunya ukuran kehidupan. Ada manusia yang hidup dalam waktu singkat, tetapi meninggalkan gagasan yang terus dibaca lintas generasi. Ada pula yang memperoleh umur panjang dan menggunakan setiap tahap kehidupannya untuk bekerja, membangun, serta menghadirkan manfaat bagi orang lain.
Bagi Ir. Ilham Aidit, nilai kehidupan tidak terutama ditentukan oleh berapa lama seseorang bernapas, tetapi oleh seberapa berarti perjalanan yang dijalaninya. Pemaknaan itu muncul ketika ia berdiri di hadapan keluarga besar Al-Zaytun untuk menyampaikan pesan pada hari lahir ke-80 Syaykh Abdussalam Rasyidi Panji Gumilang.
Pesan tersebut disampaikan dalam rangkaian Peringatan Hari Lahir Ke-80 Syaykh Al-Zaytun, pada Kamis, 30 Juli 2026. Peringatan yang mengusung tema “Menyukuri Pencapaian dan Terus Melangkah Menuju Kemajuan” itu menjadi ruang perjumpaan para sahabat, tokoh bangsa, pendidik, santri, wali santri, dan keluarga besar Ma’had Al-Zaytun.
Satu demi satu tokoh menyampaikan kesaksian, refleksi, dan doa. Mereka datang dengan pengalaman dan sudut pandang yang berbeda, tetapi dipertemukan oleh penghormatan terhadap perjalanan panjang Syaykh Al-Zaytun dalam membangun pendidikan.
Ketika memperoleh kesempatan berbicara, Ir. Ilham Aidit hadir sebagai Pendiri Forum Silaturahmi Anak Bangsa. Ia membuka sambutannya dengan salam lintas agama, sebuah ungkapan yang menggambarkan semangat kebangsaan dan penghormatan terhadap keberagaman.
Setelah itu, ia mengajak seluruh hadirin mengumandangkan pekik semangat.
“Al-Zaytun, Jaya!”
Pekik tersebut diteriakkan tiga kali. Suasana forum seketika dipenuhi semangat. Ucapan itu bukan sekadar seruan penghormatan, melainkan harapan agar Al-Zaytun terus berkembang dan memberikan manfaat bagi pendidikan Indonesia.
Ilham kemudian menyampaikan salam hormat kepada Syaykh Abdussalam Rasyidi Panji Gumilang dan Ummi, keluarga besar Al-Zaytun, panitia penyelenggara, jajaran pengurus, serta seluruh tamu undangan yang hadir.
Waktu yang diberikan kepadanya memang terbatas. Namun, dari waktu yang singkat itu, ia menghadirkan pesan yang menyentuh tentang umur, persahabatan, perjalanan membangun lembaga, dan gagasan pendidikan yang tidak pernah berhenti.
Bangga Menjadi Sahabat Al-Zaytun
Ilham Aidit mengaku sebagai salah seorang yang merasa beruntung dan bangga karena dapat menjadi sahabat Al-Zaytun.
Persahabatan tersebut memberinya kesempatan untuk mengenal sebuah lingkungan yang dihuni dan didukung oleh manusia-manusia dari beragam latar belakang. Ia melihat bahwa sahabat Al-Zaytun tidak hanya berasal dari satu kelompok, profesi, agama, atau orientasi sosial.
Di dalamnya terdapat akademisi, ulama, tokoh agama, jurnalis, purnawirawan militer, pengusaha, pemikir, pendidik, budayawan, dan berbagai unsur masyarakat lainnya.
Keberagaman itu, menurut Ilham, memperlihatkan keluasan dan keterbukaan hati Syaykh Panji Gumilang. Seorang pemimpin yang terbuka tidak hanya membangun hubungan dengan mereka yang selalu memiliki pandangan serupa.
Ia mampu menjalin persahabatan dengan manusia dari latar belakang berbeda, menerima dialog, dan membuka ruang perjumpaan. Dalam konteks Indonesia, kemampuan semacam ini memiliki arti penting karena bangsa dibangun di atas kemajemukan.
Persahabatan lintas latar belakang bukan berarti menghapus identitas. Setiap manusia tetap membawa keyakinan, pengalaman, dan pandangannya sendiri. Namun, perbedaan tersebut tidak menjadi penghalang untuk bekerja sama dalam bidang pendidikan, kemanusiaan, kebangsaan, dan perdamaian.
Forum Silaturahmi Anak Bangsa yang didirikan Ilham sendiri membawa semangat serupa. Silaturahmi mempertemukan manusia agar tidak berhenti pada prasangka. Pertemuan membuka kesempatan untuk saling memahami dan menemukan titik-titik kepentingan bersama.
Dalam suasana Milad ke-80 itu, keberagaman para sahabat menjadi salah satu gambaran tentang luasnya jaringan persahabatan yang tumbuh di sekitar Al-Zaytun.
Pertemuan Dua Tanggal Kelahiran
Bagi Ilham Aidit, tanggal 30 Juli mempunyai makna personal. Tanggal kelahiran Syaykh Panji Gumilang ternyata sama dengan tanggal kelahiran ayahnya.
Ia mengatakan bahwa seandainya sang ayah masih hidup, pada 2026 usianya tepat mencapai 103 tahun. Pertemuan tanggal kelahiran tersebut membawa Ilham kepada kenangan tentang orang tua sekaligus perenungan mengenai panjang dan pendeknya kehidupan manusia.
Usia 80 tahun Syaykh Al-Zaytun dan bayangan usia 103 tahun ayahnya mempertemukan dua perjalanan dalam ingatan. Keduanya mengingatkan bahwa umur manusia memiliki batas, tetapi nilai yang diwariskan dapat terus hidup.
Kenangan tersebut kemudian membawa Ilham kepada sebuah puisi pendek yang dikaitkannya dengan Chairil Anwar.
Chairil Anwar hidup dalam usia yang relatif singkat. Ia wafat ketika masih berusia 27 tahun. Usianya jauh lebih pendek dibandingkan banyak tokoh sastra dari Angkatan ’45 maupun generasi Pujangga Baru.
Namun, keterbatasan usia tidak membuat namanya hilang. Karya dan puisinya terus dibaca, dipelajari, dan dibicarakan hingga hari ini.
Ilham mengutip sebuah ungkapan pendek:
«“Kawan, hidup itu singkat. Berbuatlah, dan jadikan berarti. Setelah itu mati.”»
Ungkapan tersebut menyampaikan pesan yang sederhana, tetapi mendalam. Kehidupan manusia memiliki batas waktu. Karena itu, waktu yang tersedia harus diisi dengan perbuatan yang memberikan arti.
Panjang Usia dan Kedalaman Makna
Menurut Ilham, panjang atau pendeknya usia bersifat relatif. Manusia tidak dapat memilih berapa lama ia akan hidup. Namun, manusia memiliki ruang untuk menentukan bagaimana umur itu dijalani.
Seseorang dapat hidup panjang, tetapi tidak meninggalkan manfaat yang berarti. Sebaliknya, seseorang dapat hidup singkat, tetapi gagasan dan karyanya memberikan pengaruh selama ratusan tahun.
Karena itu, yang membedakan manusia bukan semata-mata jumlah tahun kehidupannya. Perbedaan terletak pada arti yang diberikan selama perjalanan tersebut.
Usia menjadi bermakna ketika digunakan untuk belajar, bekerja, mencipta, mendidik, melayani, dan membantu sesama. Umur menjadi bernilai ketika kehadiran seseorang membuat kehidupan manusia lain menjadi lebih baik.
Dalam perspektif tersebut, usia ke-80 Syaykh Al-Zaytun bukan hanya angka yang menunjukkan perjalanan delapan dekade. Di dalamnya terdapat karya pendidikan, pembangunan kelembagaan, gagasan kemandirian, dan upaya membentuk generasi.
Ilham melihat bahwa usia panjang Syaykh terus diikuti oleh produktivitas gagasan. Bertambahnya umur tidak memadamkan keinginan untuk membangun. Justru pada usia lanjut, berbagai rencana baru masih terus dirumuskan.
Hal inilah yang membedakan usia biologis dengan usia fungsional. Secara biologis, manusia dapat mengalami penurunan kekuatan. Namun, secara fungsional, ia tetap dapat berpikir, memberikan arah, dan menggerakkan generasi berikutnya.
Mengingat Awal Pembangunan Al-Zaytun
Ilham Aidit kemudian mengajak hadirin kembali melihat perjalanan awal Al-Zaytun.
Ia mengaku berkali-kali mendengar kisah bagaimana Syaykh menemukan kawasan yang kemudian menjadi lokasi Ma’had Al-Zaytun. Tanah itu dibeli, sebuah tim dibentuk, dan pembangunan mulai direncanakan sekitar 32 hingga 34 tahun sebelumnya.
Kini, hadirin dapat menyaksikan sebuah kawasan pendidikan yang luas. Namun, sebelum bangunan berdiri, semuanya berawal dari kemampuan melihat kemungkinan pada sebidang tanah.
Di balik sebuah lembaga besar selalu terdapat masa ketika gagasan tersebut belum dipahami banyak orang. Ada saat ketika yang tampak hanya tanah, rencana, dan cita-cita.
Membangun dari awal membutuhkan kemampuan membayangkan masa depan. Seseorang harus dapat melihat sesuatu yang belum ada, lalu meyakini bahwa dengan kerja keras dan ketekunan, gagasan tersebut dapat diwujudkan.
Syaykh tidak hanya menemukan tanah. Ia melihat kemungkinan membangun lingkungan pendidikan di atasnya. Dari kemungkinan itu kemudian lahir perencanaan, kerja tim, pengumpulan sumber daya, dan pembangunan bertahap.
Perjalanan tersebut tidak berlangsung dalam waktu singkat. Ilham mengajak hadirin membayangkan betapa panjang proses yang telah dilalui.
Mulai dari memperoleh lahan, menghadapi berbagai polemik, merumuskan konsep pendidikan, menyusun silabus, membentuk organisasi, hingga akhirnya menghadirkan lembaga pendidikan sebesar Al-Zaytun.
Membangun Tanah Menjadi Lingkungan Pendidikan
Memperoleh lahan merupakan langkah awal, tetapi tanah tidak serta-merta berubah menjadi lembaga pendidikan.
Diperlukan perencanaan tata ruang, pembangunan infrastruktur, penyediaan air, energi, jalan, asrama, ruang belajar, fasilitas ibadah, sarana olahraga, dan berbagai kebutuhan kehidupan komunitas.
Lembaga pendidikan berasrama bahkan memiliki kebutuhan yang lebih kompleks. Pendidikan tidak hanya berlangsung beberapa jam di ruang kelas. Seluruh kehidupan peserta didik menjadi bagian dari proses pembentukan.
Karena itu, membangun Al-Zaytun berarti membangun sebuah ekosistem. Di dalamnya terdapat pendidikan, tempat tinggal, kesehatan, pangan, administrasi, pembinaan karakter, dan kehidupan sosial.
Pembangunan fisik harus berjalan bersama dengan pembangunan sistem. Gedung tanpa kurikulum tidak akan melahirkan pendidikan. Kurikulum tanpa guru dan pengelolaan juga tidak dapat dijalankan.
Syaykh dan timnya perlu menyusun konsep, menentukan arah pembelajaran, serta mempersiapkan manusia yang akan menjalankan sistem tersebut.
Ilham melihat keseluruhan proses itu sebagai perjalanan panjang yang membutuhkan ketekunan. Hasil yang disaksikan hari ini merupakan akumulasi dari ribuan keputusan, pekerjaan, dan penyelesaian persoalan selama puluhan tahun.
Menghadapi Polemik dalam Perjalanan
Dalam membangun lembaga sebesar Al-Zaytun, perjalanan tidak selalu berlangsung tanpa hambatan. Ilham menyebut adanya berbagai polemik yang harus dihadapi.
Polemik dapat muncul karena perbedaan pandangan, ketidakpahaman terhadap gagasan baru, atau persoalan lain yang berkembang di tengah masyarakat.
Setiap pembaruan hampir selalu berhadapan dengan pertanyaan. Ketika sebuah lembaga menawarkan sesuatu yang berbeda, masyarakat akan menilai dan membandingkannya dengan pola yang telah dikenal.
Pertanyaan dan kritik dapat menjadi bagian dari proses pertumbuhan apabila disikapi secara terbuka. Namun, polemik juga dapat menjadi tekanan ketika berkembang tanpa pemahaman yang memadai.
Dalam situasi seperti itu, seorang pemimpin memerlukan keteguhan. Ia harus mampu menjelaskan gagasan, memperbaiki kekurangan, dan tetap menjaga arah pembangunan.
Polemik tidak boleh membuat lembaga berhenti mengevaluasi diri. Sebaliknya, tantangan perlu menjadi bahan pembelajaran agar sistem menjadi semakin matang.
Pengalaman menghadapi berbagai persoalan itulah yang menurut Ilham menjadi modal penting bagi Syaykh Al-Zaytun. Ia tidak hanya mengetahui keberhasilan, tetapi juga memahami kesulitan dan kesalahan yang pernah terjadi.
Merumuskan Konsep dan Silabus Pendidikan
Ilham tidak hanya menyoroti pembangunan fisik. Ia juga menyebut proses merumuskan konsep pendidikan dan menyusun silabus.
Silabus merupakan bagian penting dari sistem pembelajaran. Di dalamnya terdapat arah, tujuan, materi, tahapan, dan capaian yang diharapkan dari peserta didik.
Namun, silabus tidak dapat disusun tanpa konsep pendidikan yang jelas. Sebuah lembaga harus menentukan manusia seperti apa yang ingin dibentuk.
Apakah peserta didik hanya diarahkan untuk memperoleh ijazah? Apakah pendidikan hanya bertujuan mengantarkan mereka memasuki dunia kerja? Ataukah pendidikan juga bertanggung jawab membentuk karakter, kemandirian, kepemimpinan, dan kesadaran kebangsaan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menentukan bentuk kurikulum. Pendidikan yang memiliki visi jangka panjang tidak hanya mengikuti kebutuhan sesaat.
Ia harus mempersiapkan peserta didik menghadapi perubahan. Ilmu pengetahuan dan teknologi terus berkembang. Persoalan sosial dan lingkungan juga semakin kompleks.
Karena itu, penyusunan silabus harus selalu terbuka untuk dikaji dan dikembangkan. Kurikulum yang baik bukan kurikulum yang tidak pernah berubah, melainkan kurikulum yang memiliki dasar kuat sekaligus mampu menyesuaikan diri.
Gagasan yang Tidak Pernah Habis
Hal yang paling mengagumkan bagi Ilham Aidit adalah kemampuan Syaykh Al-Zaytun untuk terus melahirkan gagasan.
Setelah lembaga berdiri dan berkembang, Syaykh tidak berhenti pada rasa puas. Ia masih memikirkan langkah berikutnya.
Bagi sebagian orang, membangun satu lembaga pendidikan sebesar Al-Zaytun mungkin sudah dianggap sebagai pencapaian akhir. Namun, bagi Syaykh, keberhasilan tersebut justru menjadi dasar untuk memikirkan perluasan manfaat.
Ilham mendengar adanya rencana untuk menduplikasi sekitar 500 institusi pendidikan dengan konsep seperti Al-Zaytun.
Gagasan tersebut memiliki cakupan yang sangat besar. Lima ratus lembaga berarti menghadirkan kesempatan pendidikan di banyak daerah, melibatkan ribuan tenaga pendidik, dan menjangkau lebih banyak peserta didik.
Namun, menduplikasi lembaga pendidikan tidak cukup dengan menyalin bentuk bangunan. Hal yang paling penting adalah mereplikasi sistem, nilai, pengalaman, tata kelola, dan orientasi pendidikannya.
Setiap daerah juga memiliki keadaan berbeda. Karena itu, konsep dasar perlu dipertahankan, tetapi pelaksanaannya harus mempertimbangkan kebutuhan lokal.
Pengalaman sebagai Modal Replikasi
Ilham menilai gagasan membangun sekitar 500 institusi pendidikan sangat layak diwujudkan. Alasannya, Syaykh telah mengalami sendiri seluruh proses pembangunan sejak awal.
Pengalaman langsung memiliki nilai yang berbeda dari pengetahuan yang hanya diperoleh melalui teori. Seseorang yang membangun lembaga dari tahap awal mengetahui persoalan-persoalan yang mungkin tidak terlihat dari luar.
Ia memahami bagaimana memilih lokasi, menyusun tim, merencanakan pembangunan, mengembangkan kurikulum, merekrut pendidik, mengelola peserta didik, dan menghadapi tantangan.
Syaykh juga mengetahui apa yang berhasil. Pengalaman keberhasilan dapat digunakan sebagai model untuk diterapkan kembali.
Namun, yang tidak kalah penting adalah pengetahuan mengenai kesalahan yang pernah terjadi. Kesalahan bukan sesuatu yang harus selalu disembunyikan. Ia dapat menjadi sumber pembelajaran.
Organisasi yang matang bukan organisasi yang tidak pernah melakukan kesalahan, melainkan organisasi yang mampu mengidentifikasi kekeliruan, memperbaikinya, dan memastikan hal serupa tidak terulang.
Dalam proses replikasi, pengetahuan mengenai kegagalan justru dapat menghemat waktu, tenaga, dan sumber daya. Daerah baru tidak perlu mengulangi seluruh proses percobaan dari titik awal.
Pengalaman puluhan tahun dapat dirumuskan menjadi pedoman, sistem, standar, dan tahapan yang lebih matang.
Mereplikasi Sistem, Bukan Sekadar Bangunan
Gagasan menduplikasi Al-Zaytun perlu dipahami lebih luas daripada pembangunan gedung yang memiliki bentuk serupa.
Setiap lembaga pendidikan memiliki ruh. Ruh itu tercermin dalam visi, nilai, disiplin, budaya belajar, hubungan guru dan peserta didik, serta orientasi pengabdian.
Bangunan dapat ditiru dalam waktu relatif singkat. Namun, budaya pendidikan membutuhkan proses panjang untuk ditanamkan.
Karena itu, replikasi harus mencakup pengembangan sumber daya manusia. Guru dan pengelola perlu memahami filosofi pendidikan, bukan hanya prosedur administrasi.
Mereka harus mengetahui mengapa suatu sistem diterapkan dan tujuan apa yang ingin dicapai. Tanpa pemahaman tersebut, lembaga baru hanya akan menjadi tiruan fisik tanpa kekuatan nilai.
Replikasi juga membutuhkan kemampuan menyesuaikan konsep dengan lingkungan. Daerah pesisir memiliki kebutuhan yang mungkin berbeda dari daerah pegunungan. Masyarakat perkotaan menghadapi persoalan yang berbeda dari masyarakat perdesaan.
Namun, prinsip dasar seperti pendidikan berasrama, pembentukan karakter, kemandirian, kedisiplinan, keterbukaan, dan integrasi ilmu dapat menjadi fondasi bersama.
Pendidikan untuk Indonesia yang Luas
Indonesia merupakan negara yang sangat luas. Akses pendidikan bermutu belum tersebar secara merata.
Di sebagian daerah, peserta didik dapat menikmati fasilitas yang baik dan tenaga pendidik lengkap. Di daerah lain, sekolah masih menghadapi keterbatasan guru, sarana, teknologi, dan dukungan pembelajaran.
Karena itu, gagasan membangun banyak institusi pendidikan memiliki relevansi bagi pemerataan.
Namun, perluasan jumlah harus tetap diikuti pengendalian mutu. Lima ratus lembaga tidak akan memberikan manfaat optimal apabila kualitas pendidikannya tidak terjaga.
Pengalaman Al-Zaytun dapat menjadi modal untuk merumuskan standar. Akan tetapi, keberhasilan tetap membutuhkan kerja kolektif, sumber daya, pelatihan, dan pengawasan.
Ilham melihat rencana tersebut sebagai kelanjutan semangat berkarya. Syaykh tidak hanya memikirkan lembaga yang telah dibangun, tetapi juga kemungkinan membawa pengalaman itu ke berbagai wilayah Indonesia.
Usia Panjang, Pikiran Tetap Bergerak
Usia ke-80 sering diasosiasikan dengan masa untuk beristirahat dari pekerjaan besar. Namun, dalam kesaksian Ilham, gagasan Syaykh justru tidak pernah berhenti.
Semangat untuk berkarya masih hidup. Kemauan memberikan manfaat tetap kuat. Rencana-rencana baru terus dibicarakan.
Keadaan tersebut memperlihatkan bahwa daya hidup seorang manusia tidak hanya terletak pada kekuatan fisik. Daya hidup juga hadir dalam pikiran, harapan, dan kemampuan melihat masa depan.
Selama seseorang masih memiliki sesuatu yang hendak diperjuangkan, kehidupannya tetap bergerak.
Usia panjang menjadi semakin berarti ketika pengalaman digunakan untuk membimbing generasi berikutnya. Seorang pemimpin tidak harus mengerjakan seluruh pekerjaan seorang diri.
Pada tahap tertentu, perannya dapat berubah menjadi pemberi arah, penjaga nilai, dan sumber pengalaman. Generasi baru kemudian mengambil tanggung jawab untuk menjalankan dan mengembangkan gagasan tersebut.
Inilah pentingnya regenerasi. Gagasan tidak boleh bergantung pada satu orang. Ia harus ditanamkan ke dalam sistem dan diwariskan kepada manusia yang mampu melanjutkannya.
Dari Sebidang Tanah Menuju Gagasan Nasional
Perjalanan Al-Zaytun memperlihatkan perubahan dari sesuatu yang pada awalnya terbatas menjadi gagasan yang memiliki jangkauan lebih luas.
Pada masa awal, tantangannya adalah memperoleh tanah, membentuk tim, dan memulai pembangunan. Setelah itu, tantangan berkembang menjadi penyusunan sistem dan pengelolaan lembaga.
Kini, ketika Al-Zaytun telah berdiri dan memiliki pengalaman puluhan tahun, tantangannya adalah bagaimana memperluas manfaat.
Gagasan replikasi 500 institusi menunjukkan perubahan skala pemikiran. Apa yang pernah dibangun sebagai satu lembaga mulai dibayangkan menjadi jaringan pendidikan di berbagai wilayah.
Perubahan dari lokal menuju nasional membutuhkan strategi yang berbeda. Tata kelola harus lebih kuat. Sumber daya manusia perlu disiapkan dalam jumlah besar. Pembiayaan harus dirancang secara berkelanjutan.
Namun, setiap gagasan besar memang selalu dimulai dari keberanian membayangkan sesuatu yang belum ada.
Dahulu, sebidang tanah dibayangkan menjadi pusat pendidikan. Kini, satu lembaga dibayangkan menjadi inspirasi bagi ratusan lembaga lainnya.
Menjadikan Kehidupan Berarti
Pesan Ilham Aidit pada akhirnya kembali kepada makna kehidupan.
Manusia tidak dapat memastikan panjang usia. Namun, setiap orang dapat berusaha agar hidupnya memberikan arti.
Berbuat berarti tidak hanya menghasilkan sesuatu untuk diri sendiri. Karya menjadi semakin bermakna ketika memberikan manfaat bagi orang lain.
Pendidikan merupakan salah satu bentuk perbuatan yang memiliki dampak panjang. Seorang guru mungkin hanya mengajar selama beberapa jam setiap hari, tetapi pengetahuan yang ditanamkan dapat memengaruhi perjalanan hidup peserta didiknya.
Seorang pendiri lembaga mungkin bekerja dalam satu periode, tetapi sistem yang dibangunnya dapat melayani banyak generasi.
Karena itu, mendirikan dan mengembangkan lembaga pendidikan merupakan cara untuk memperpanjang manfaat kehidupan. Umur biologis manusia terbatas, tetapi pengaruh pendidikan dapat terus berlanjut.
Pantun sebagai Doa dan Penghormatan
Menjelang akhir sambutannya, Ilham Aidit menyampaikan sebuah pantun:
Embun menempel di ujung daun,
Menetes perlahan membasahi bumi.
Beliau kini berusia delapan puluh tahun,
Masih gagah menjalankan tugas suci.
Pantun tersebut menggambarkan sosok yang telah memasuki usia delapan puluh, tetapi tetap berdiri menjalankan tugas yang diyakininya suci.
Embun yang menetes membasahi bumi dapat dibaca sebagai simbol manfaat. Ia hadir secara perlahan, tetapi memberikan kehidupan.
Demikian pula pendidikan. Hasilnya tidak selalu langsung terlihat. Pengetahuan dan nilai ditanamkan sedikit demi sedikit. Namun, dalam waktu panjang, keduanya dapat mengubah manusia dan masyarakat.
Ungkapan “tugas suci” menunjukkan bahwa membangun pendidikan tidak hanya dipandang sebagai pekerjaan kelembagaan. Di dalamnya terdapat panggilan moral untuk membentuk manusia dan memberikan manfaat kepada bangsa.
Milad sebagai Panggilan untuk Terus Berbuat
Peringatan hari lahir ke-80 Syaykh Al-Zaytun, dalam refleksi Ilham Aidit, menjadi momentum untuk menyadari keterbatasan waktu sekaligus luasnya kemungkinan berkarya.
Usia memang bergerak menuju batasnya. Namun, selama kesempatan masih tersedia, manusia dapat terus berbuat.
Mensyukuri pencapaian berarti menghargai proses yang telah dijalani: menemukan tanah, membangun tim, menghadapi polemik, menyusun konsep, mengembangkan silabus, dan membentuk lembaga.
Terus melangkah menuju kemajuan berarti tidak berhenti pada keberhasilan tersebut. Gagasan baru harus terus dikembangkan. Pengalaman perlu diwariskan. Manfaat pendidikan harus diperluas.
Rencana membangun sekitar 500 institusi menjadi simbol bahwa perjalanan Al-Zaytun belum dianggap selesai. Pengalaman puluhan tahun hendak diubah menjadi modal bagi pembangunan pendidikan di berbagai daerah.
Namun, keberhasilan gagasan itu akan sangat bergantung pada generasi penerus. Mereka harus mempelajari pengalaman, menjaga nilai, dan memiliki keberanian melanjutkan pekerjaan.
Dari Persahabatan Menuju Harapan Kebangsaan
Kehadiran Ilham Aidit juga memperlihatkan bahwa Al-Zaytun telah menjadi ruang perjumpaan berbagai anak bangsa.
Ia datang bukan hanya sebagai individu, tetapi sebagai pendiri Forum Silaturahmi Anak Bangsa. Kehadirannya membawa pesan bahwa pendidikan, persahabatan, dan kebangsaan dapat mempertemukan manusia melampaui perbedaan latar belakang.
Indonesia membutuhkan lebih banyak ruang silaturahmi. Perbedaan sejarah keluarga, pemikiran, agama, dan pengalaman politik tidak harus diwariskan menjadi permusuhan.
Generasi baru perlu belajar bertemu, berdialog, dan bekerja sama dalam persoalan yang menyangkut masa depan bersama.
Pendidikan dapat menjadi titik temu. Semua kelompok membutuhkan generasi yang cerdas, berkarakter, mandiri, dan mampu menjaga persatuan.
Karena itu, penghormatan Ilham kepada Syaykh Al-Zaytun juga dapat dibaca sebagai harapan agar pendidikan terus menjadi jembatan di antara anak bangsa.
Gagasan yang Melampaui Usia
Pada akhirnya, refleksi Ir. Ilham Aidit menempatkan usia ke-80 dalam dua dimensi.
Dimensi pertama adalah kesadaran bahwa kehidupan manusia terbatas. Setiap manusia akan sampai pada akhir perjalanannya.
Dimensi kedua adalah kemungkinan meninggalkan sesuatu yang melampaui batas usia tersebut. Gagasan, karya, lembaga, dan manusia yang dididik dapat terus hidup setelah pencetusnya tidak lagi hadir.
Syaykh Al-Zaytun telah melewati perjalanan panjang dari menemukan tanah hingga membangun lembaga pendidikan. Kini, pada usia ke-80, pikirannya masih diarahkan kepada masa depan.
Dalam pandangan Ilham, keadaan itu menunjukkan bahwa usia panjang tidak memadamkan semangat berkarya. Gagasan Syaykh terus hidup dan mencari ruang baru untuk diwujudkan.
Sambutan tersebut kemudian ditutup dengan ucapan selamat, salam, dan pekik “Merdeka!”
Namun, pesan yang ditinggalkannya terus bergema: hidup memang singkat, tetapi manusia dapat menjadikannya berarti melalui perbuatan.
Dari sebidang tanah menjadi pusat pendidikan, dari pengalaman membangun satu lembaga menuju gagasan mendirikan ratusan institusi, perjalanan itu menunjukkan bahwa arti kehidupan lahir ketika pikiran diterjemahkan menjadi karya dan karya diarahkan bagi kemaslahatan manusia.
Itulah makna usia ke-80 dalam refleksi Ilham Aidit: bukan sekadar panjang perjalanan yang telah dilalui, tetapi keberanian untuk terus berbuat, terus membangun, dan terus menjadikan kehidupan berarti



