INDRAMAYU, lognews.co.id - Di saat banyak pelajar mengenal sejarah hanya dari buku pelajaran, pelajar MI Al-Zaytun justru diajak menyaksikan langsung kereta Singa Barong di Keraton Kasepuhan hingga ruang diplomasi kemerdekaan di Museum Perundingan Linggarjati dalam kegiatan rihlah ilmiah pada Senin (18/05/2026).

Sejak pukul 07.00 WIB, para pelajar terlebih dahulu mengikuti apel pagi yang telah menjadi budaya rutin di lingkungan Ma’had Al-Zaytun. Kegiatan diawali dengan menyanyikan Indonesia Raya tiga stanza, pembacaan Sabta Janji dan Merbakti, serta pembacaan Asmaul Husna dan Asmaun Nabi.
Suasana apel berlangsung tertib dan khidmat sebelum para pelajar berangkat menggunakan lima unit bus menuju lokasi rihlah ilmiah.

Mengenal Warisan Budaya di Keraton Kasepuhan
Perjalanan menuju Cirebon ditempuh sekitar satu setengah jam. Setibanya di Keraton Kasepuhan, para pelajar disambut para pemandu dan abdi dalem keraton yang menjelaskan sejarah serta berbagai peninggalan budaya yang berada di kompleks keraton.
Para pelajar diajak menelusuri area keraton mulai dari halaman utama hingga ruang penyimpanan benda-benda bersejarah. Sejumlah koleksi yang menarik perhatian pelajar di antaranya kereta kuda Singa Barong, lukisan Prabu Siliwangi, serta berbagai ornamen khas Kesultanan Cirebon.
Salah seorang abdi dalem Keraton Kasepuhan, Faisal, menyampaikan apresiasi terhadap sikap para pelajar MI Al-Zaytun selama mengikuti kunjungan ilmiah tersebut. Menurutnya, para pelajar terlihat tertib, rapi, dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi terhadap sejarah Keraton Kasepuhan.
Menapaki Sejarah Diplomasi Indonesia di Linggarjati
Usai dari Cirebon, rombongan melanjutkan perjalanan menuju kawasan Linggarjati, Kabupaten Kuningan. Kawasan tersebut dikenal sebagai salah satu lokasi penting dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia karena menjadi tempat berlangsungnya Perundingan Linggarjati.

Di Museum Perundingan Linggarjati, para pelajar terlebih dahulu menyaksikan tayangan audiovisual di auditorium mengenai latar belakang terjadinya perundingan antara Indonesia dan Belanda.
Setelah itu, para pelajar diajak memasuki ruangan utama museum untuk melihat langsung berbagai peninggalan sejarah seperti meja, kursi, dan ornamen asli yang digunakan dalam proses perundingan.
Pemandu museum menjelaskan bahwa gedung Linggarjati menjadi salah satu saksi penting perjuangan diplomasi Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan. Nama-nama tokoh bangsa seperti Soekarno dan Sutan Sjahrir turut diperkenalkan kepada para pelajar sebagai bagian dari sejarah perjuangan nasional.
Antusiasme Pelajar dalam Memahami Sejarah
Pemandu Museum Linggarjati, Iwan, menilai para pelajar MI Al-Zaytun menunjukkan antusiasme tinggi selama kegiatan berlangsung. Menurutnya, para pelajar aktif bertanya dan memperhatikan setiap penjelasan yang diberikan.
Ia juga menyebut para pelajar terlihat disiplin dan memiliki semangat besar untuk memahami sejarah Indonesia secara langsung dari tempat-tempat bersejarah.
Antusiasme tersebut terlihat sejak sesi pemutaran video sejarah hingga kegiatan berkeliling museum yang berlangsung secara tertib dan penuh perhatian.
Pembelajaran Nyata di Luar Kelas
Kegiatan rihlah ilmiah ini menunjukkan bagaimana Ma’had Al-Zaytun menerapkan pola pendidikan yang tidak hanya berlangsung di dalam kelas, tetapi juga melalui pembelajaran langsung di lapangan.
Dengan mendatangi situs-situs sejarah dan berdialog bersama para pemandu, para pelajar memperoleh pengalaman belajar yang lebih nyata sekaligus memperkuat literasi sejarah, wawasan kebangsaan, dan kecintaan terhadap Indonesia.
Perjalanan menuju Keraton Kasepuhan dan Museum Perundingan Linggarjati menjadi pengalaman edukatif yang memperkenalkan para pelajar MI Al-Zaytun pada jejak sejarah bangsa secara langsung dan mendalam.
(Saheel untuk indonesia)



