lognews.co.id, Indonesia - Menghadapi ancaman krisis pangan dan kelangkaan pupuk dunia akibat ketegangan di kawasan Teluk Persia serta konflik Rusia-Ukraina, Syaykh Al Zaytun menegaskan pentingnya aksi nyata dibandingkan sekadar keluhan. Berdasarkan pesan penutup Shaum Syawal pada Jumat (27/3/2026), Al Zaytun telah menyiapkan langkah strategis untuk memperkuat kedaulatan pangan secara mandiri. Langkah ini diambil sebagai respons progresif terhadap dinamika global yang mulai berdampak pada sektor pertanian domestik.
Salah satu aksi konkret yang dilakukan adalah penanaman singkong dalam skala besar yang ditargetkan mencapai 100.000 pohon pada April mendatang. Program ini diproyeksikan sebagai cadangan pangan alternatif yang andal jika sewaktu-waktu terjadi gangguan pada pasokan beras nasional. Dengan memanfaatkan lahan secara optimal, penanaman singkong ini menjadi pilar utama dalam membangun lumbung pangan yang kokoh dan berkelanjutan di lingkungan institusi.
Guna mengatasi keterbatasan pupuk kimia impor yang harganya kian melambung, Al Zaytun secara mandiri memproduksi Pupuk Organik Cair (POC) dan pupuk padat. Bahan baku yang digunakan berasal dari sumber daya lokal, seperti sisa-sisa ikan dan kerang yang diolah sedemikian rupa. Inovasi penggunaan bahan organik ini membuktikan bahwa ketergantungan pada produk luar negeri dapat dikurangi dengan memanfaatkan potensi alam yang ada di sekitar kita.
Pengembangan inovasi ini terus ditingkatkan melalui penerapan teknologi nano agar nutrisi pupuk dapat diserap lebih cepat oleh tanaman keras maupun buah-buahan seperti durian. Tidak hanya untuk tanaman, teknologi pupuk nano ini juga dikembangkan untuk mendukung sektor peternakan, khususnya bagi hewan ruminansia. Percepatan penyerapan nutrisi ini menjadi kunci utama dalam meningkatkan produktivitas hasil tani dan ternak di tengah tantangan iklim yang tidak menentu.
Kemandirian ini merupakan wujud nyata dari prinsip menghadapi krisis dengan aksi progresif dan pemetaan masalah yang matang demi menjaga stabilitas ketahanan pangan Indonesia. Dengan tidak pernah mengeluhkan keadaan, Al Zaytun menunjukkan bahwa setiap tantangan global dapat diselesaikan melalui riset dan kerja keras di lapangan. Inovasi ini diharapkan menjadi inspirasi bagi Rekan Prima untuk terus kreatif dan mandiri dalam mengelola potensi sumber daya alam demi masa depan yang lebih baik



