Dari Sapaan Menuju Diagnosis Kesadaran Bangsa
lognews.co.id, Indramayu. Salam Civitas Ma’had Al-Zaytun adalah “Salamun ‘Alaikum, Merdeka!” dan ini bukan sekadar salam dalam ruang publik, ia menjadi refleksi atas kondisi kesadaran bangsa hari ini. Dalam pembacaan yang berkembang, termasuk yang disorot oleh Syaykh Al-Zaytun, ungkapan ini mengandung struktur makna yang lebih dalam: hubungan antara keselamatan, perjuangan, dan arah peradaban. Di tengah situasi di mana masyarakat merasa stabil namun kerap kehilangan orientasi, muncul pertanyaan mendasar, apakah bangsa ini benar-benar telah menyelesaikan proses kemerdekaannya, atau justru baru berhenti pada simbol-simbolnya?
QS. Az-Zumar dan Kesalahan Urutan Berpikir: Ketika Salam Didahulukan dari Proses
Dalam Al-Qur'an, khususnya Surah Az-Zumar ayat 73, terdapat struktur makna yang sangat penting namun sering terlewat. Ayat tersebut menggambarkan bahwa “Salamun ‘Alaikum” diucapkan kepada penghuni surga setelah mereka melewati proses Panjang, ujian, perjuangan, dan penyucian diri. Dengan kata lain, salam bukanlah titik awal, melainkan bentuk pengakuan atas keberhasilan proses.
Namun dalam realitas sosial hari ini, banyak masyarakat justru membalik urutan tersebut. Rasa aman, damai, dan “baik-baik saja” sering dianggap sebagai kondisi awal, bukan sebagai capaian. Akibatnya, muncul fenomena stagnasi kesadaran, di mana masyarakat merasa telah sampai tanpa benar-benar melalui proses pembentukan diri yang utuh.
Padahal, dalam Surah Ar-Ra’d ayat 11 ditegaskan bahwa perubahan tidak akan terjadi tanpa usaha internal. Ini berarti bahwa keselamatan tidak bisa dilepaskan dari perjuangan aktif. Dalam kerangka ini, “Merdeka” bukan sekadar status, melainkan proses yang harus dijalani untuk mencapai kondisi “Salam”.
Di sinilah letak kritik mendasar terhadap kondisi bangsa: ketika simbol keselamatan lebih cepat diucapkan daripada proses kemerdekaan yang seharusnya menyertainya.
“Salam Merdeka” dalam Sejarah: Dari Energi Revolusi ke Simbol yang Melemah
Secara historis, “Salam Merdeka” bukanlah istilah baru. Ia memiliki akar kuat dalam sejarah Indonesia, khususnya pada masa awal kemerdekaan di bawah kepemimpinan Soekarno.
Pada tanggal 31 Agustus 1945, pemerintah mengeluarkan maklumat yang menetapkan bahwa mulai 1 September 1945, pekik “Merdeka!” dijadikan sebagai salam nasional resmi. Ini bukan sekadar budaya spontan, melainkan keputusan negara yang memiliki kekuatan quasi-hukum pada masa itu. Dalam konteks awal kemerdekaan, maklumat tersebut berfungsi sebagai instrumen strategis untuk membangun identitas nasional dan menyatukan bangsa yang baru saja lepas dari penjajahan.
Tokoh yang pertama kali mengusulkan penggunaan “Merdeka” sebagai salam adalah Oto Iskandar di Nata, yang kemudian dipopulerkan dan disahkan oleh Soekarno. Sejak saat itu, “Merdeka” bukan hanya kata, tetapi energi kolektif yang menggerakkan bangsa.
Fungsi “Salam Merdeka” pada masa itu sangat jelas:
1. Sebagai penyatu bangsa pasca penjajahan
2. Sebagai pembakar semangat revolusi
3. Sebagai identitas nasional baru
Bahkan dalam praktik sehari-hari, masyarakat saling menyapa dengan kata “Merdeka”, menunjukkan bahwa kemerdekaan bukan hanya konsep politik, tetapi kesadaran hidup.
Namun seiring waktu, makna ini mengalami pergeseran. Indonesia berkembang menjadi negara yang lebih inklusif dengan berbagai bentuk salam seperti “Assalamu’alaikum”, “Salam sejahtera”, dan lainnya. “Merdeka” tidak lagi menjadi salam resmi negara, melainkan bagian dari sejarah simbolik.
Perubahan ini membawa konsekuensi: energi “Merdeka” yang dahulu bersifat aktif dan revolusioner perlahan berubah menjadi simbol yang lebih seremonial. Ia diingat, tetapi tidak selalu dihidupkan dalam kesadaran sehari-hari.
Anatomi Salam: Dari Gestur Soekarno ke Simbol Kesadaran Syaykh Al-Zaytun
Menariknya, “Salam Merdeka” tidak hanya memiliki dimensi verbal, tetapi juga gestural. Pada masa Soekarno, salam dilakukan dengan tangan terbuka yang diangkat sejajar dengan pundak kanan. Gestur ini mencerminkan keterbukaan, keberanian, dan ajakan kolektif untuk bergerak bersama. Ia bersifat horizontal, menghubungkan individu dalam satu semangat perjuangan.
Namun dalam pembacaan kontemporer, muncul pendekatan yang lebih reflektif sebagaimana ditunjukkan oleh Syaykh Al-Zaytun. Salam dilakukan dengan tangan terbuka lima jari yang diletakkan di dahi, menyerupai sikap hormat dalam tradisi militer.
Gestur ini mengandung makna simbolik yang dalam. Dahi merupakan pusat kesadaran manusia, tempat berpikir, merenung, dan mengambil keputusan. Sementara lima jari yang terbuka merepresentasikan lima dasar utama bangsa Indonesia, yaitu nilai-nilai fundamental yang menjadi fondasi kehidupan bernegara.
Dengan demikian, salam ini dapat dibaca sebagai pesan bahwa kemerdekaan tidak cukup diucapkan, tetapi harus disadari dan dijalankan berdasarkan prinsip-prinsip dasar tersebut. Jika gestur Soekarno menekankan gerakan kolektif, maka pendekatan ini menambahkan dimensi kesadaran: bahwa perjuangan juga terjadi di dalam pikiran.
Dalam perspektif ini, “Salam Merdeka” bukan hanya seruan eksternal, tetapi juga pengingat internal, bahwa kemerdekaan harus hadir dalam cara berpikir sebelum diwujudkan dalam tindakan.
Merdeka sebagai Proses Berkelanjutan: Narasi, Sistem, dan Peradaban
Dalam kerangka yang lebih luas, “Merdeka” harus dipahami sebagai proses berkelanjutan yang mencakup tiga level utama: pikiran, sistem, dan peradaban.
Pada level pikiran, kemerdekaan berarti kemampuan untuk berpikir mandiri dan tidak sekadar mengonsumsi informasi. Di era digital, masyarakat memiliki akses luas terhadap informasi, tetapi tidak selalu memiliki kemampuan untuk mengolahnya menjadi kesadaran. Akibatnya, informasi tidak menghasilkan arah, melainkan kebingungan.
Pada level sistem, kemerdekaan berkaitan dengan bagaimana struktur sosial memungkinkan masyarakat berkembang. Sistem pendidikan, media, dan ekonomi harus mendukung kemandirian, bukan ketergantungan. Tanpa perubahan sistem, kemerdekaan hanya menjadi retorika.
Pada level peradaban, kemerdekaan berarti kemampuan suatu bangsa untuk menentukan arah sejarahnya sendiri. Dalam hal ini, pemikiran Peter L. Berger menjadi relevan, bahwa realitas sosial dibentuk oleh konstruksi makna yang terus diulang.
Sementara itu, dalam perspektif filsafat, Georg Wilhelm Friedrich Hegel menjelaskan bahwa perkembangan terjadi melalui proses dialektika. “Merdeka” adalah proses dinamis yang penuh kontradiksi dan perjuangan, sedangkan “Salam” adalah kondisi sintesis yang dicapai setelah proses tersebut.
Dengan demikian, ungkapan “Salamun ‘Alaikum, Merdeka!” dapat dipahami sebagai struktur kesadaran: merdeka adalah jalan, dan salam adalah hasil. Ketika urutan ini dibalik, maka yang terjadi adalah ilusi kemajuan, terlihat stabil, tetapi sebenarnya belum selesai.
Menghidupkan Kembali Energi “Merdeka” dalam Kesadaran Bangsa
Sejarah menunjukkan bahwa “Salam Merdeka” pernah menjadi suara resmi negara—bukan sekadar kata, tetapi energi yang menggerakkan bangsa. Namun hari ini, tantangannya bukan lagi sekadar mengingat, melainkan menghidupkan kembali makna tersebut dalam kesadaran yang lebih dalam.
Bangsa ini mungkin tidak kekurangan simbol, tetapi membutuhkan penyelesaian proses. Rasa damai yang dirasakan tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti bertumbuh. Karena pada akhirnya, “Salam” bukanlah titik awal, melainkan pengakuan.
Dan “Merdeka” bukan sekadar warisan sejarah, melainkan jalan yang harus terus diselesaikan. (Dynasti Untuk Indonesia)



