Wednesday, 04 February 2026

Prof. Mahyuni dan Syaykh Al-Zaytun Sepaham Soal Visi Kebangsaan dalam Pendidikan

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

lognews.co.id - Guru Besar Universitas Mataram, Prof. Mahyuni, M.A., Ph.D., menekankan bahwa pengembangan lembaga pendidikan besar tidak hanya bergantung pada konsep akademik, tetapi juga pada kemampuan membangun relasi dan kepercayaan. Hal itu ia sampaikan saat menjadi narasumber dalam forum pendidikan di Ma’had Al-Zaytun.

Menurutnya, keberadaan fasilitas pendidikan yang luas dan memadai tidak hadir secara tiba tiba, melainkan melalui proses panjang yang melibatkan jejaring sosial, komunikasi, dan kolaborasi.

“Memobilisasi power dan relasi sehingga bisa mengadakan semua ini. Fasilitasnya begini tidak murah. Semua hubungan kebaikan ditempatkan melalui jaringan yang ada lalu diwujudkan,” ujarnya.

Relasi sebagai Modal Sosial Pendidikan

Prof. Mahyuni memandang relasi sebagai modal sosial yang sangat penting dalam dunia pendidikan. Relasi tidak hanya dimaknai sebagai koneksi personal, tetapi sebagai jaringan kepercayaan yang dibangun dalam jangka panjang.

Ia menilai, lembaga pendidikan yang mampu berkembang biasanya memiliki kemampuan merawat hubungan baik dengan berbagai pihak. Dari hubungan tersebut lahir dukungan moral, material, hingga pemikiran.

Dalam konteks ini, pendidikan tidak berdiri sendiri. Ia tumbuh bersama dukungan komunitas, tokoh masyarakat, akademisi, dan pemangku kepentingan lain.

Sejalan dalam Visi Kebangsaan

Prof. Mahyuni juga menunjukkan pandangan yang sejalan dengan Syaykh Al-Zaytun dalam hal kebangsaan. Ia menilai pendidikan harus menjadi sarana memperkuat persatuan, merawat identitas nasional, dan membangun komitmen kebangsaan. Kesamaan pandangan ini terlihat dari penekanannya pada pendidikan sebagai perekat sosial di tengah keragaman Indonesia.

Pandangan tersebut menempatkan pendidikan bukan hanya sebagai ruang belajar, tetapi sebagai sarana membangun kesadaran kolektif sebagai satu bangsa.

Jaringan Kebaikan dan Keberlanjutan

Lebih jauh, Prof. Mahyuni menyoroti konsep “hubungan kebaikan” yang menurutnya menjadi fondasi penting. Jaringan yang dibangun atas dasar niat baik cenderung menghasilkan kontribusi yang berkelanjutan.

Ia melihat bahwa ketika sebuah lembaga dipercaya membawa manfaat bagi banyak orang, dukungan akan datang lebih mudah. Kepercayaan itu kemudian berubah menjadi partisipasi nyata.

Pendekatan ini dinilai berbeda dari pola pembangunan yang hanya mengandalkan kekuatan finansial. Menurutnya, kekuatan jaringan kebaikan justru sering menjadi penentu keberlanjutan lembaga.

Pendidikan dan Kepercayaan Publik

Bagi Prof. Mahyuni, keberhasilan mengelola relasi juga berkaitan erat dengan kepercayaan publik. Lembaga yang transparan dan memiliki tujuan jelas lebih mudah mendapat dukungan.

Ia menegaskan bahwa membangun pendidikan adalah kerja jangka panjang. Karena itu, diperlukan kesabaran, konsistensi, dan kemampuan menjaga hubungan baik.

Pandangan tersebut menegaskan bahwa di balik berdirinya lembaga pendidikan besar, terdapat proses sosial yang panjang. Bukan hanya pembangunan fisik, tetapi juga pembangunan kepercayaan dan jaringan kebaikan di tengah masyarakat. (Sahil untuk Indonesia)