Wednesday, 04 February 2026

Ketika Pendidikan Menolak Berhenti: Dari Basharon Sawiya hingga Global Education

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

Oleh Ali Aminulloh

lognews.co.id - Dunia terus berubah. Anehnya, manusianya sering ingin diam.
Paradoks inilah yang mengemuka pada Pelatihan Pelaku Didik Al-Zaytun sesi ke-35, Ahad, 1 Februari 2026. Forum yang sejak 1 Juni 2025 konsisten mendorong peserta untuk berpikir, bukan sekadar mendengar.

Kali ini, pelatihan menghadirkan Prof. (Yon) Mahyuni, MA, PhD., Guru Besar Linguistik Terapan, Analisis Wacana, dan Pendidikan Bahasa Inggris dari Universitas Mataram. Namun forum ini bukan panggung akademik biasa. Ia menjadi ruang dialog peradaban, tempat sejarah, agama, pendidikan, dan nasib bangsa dipertautkan tanpa basa-basi. Selesai paparan Nara sumber, Syaykh Al Zaytun, Syaykh AS Panji Gumilang memberikan penggulungan materi kuliah umum

Sejak awal, Syaykh Al-Zaytun menegaskan satu tesis besar:
tidak ada majelis yang lebih mulia daripada majelis ilmu. Ilmulah yang mengangkat manusia menjadi basharon sawiya, manusia yang seimbang.

WhatsApp Image 2026 02 01 at 17.44.26

Bukan insan kamil, katanya. Sebab yang sempurna hanya Tuhan. Insan kamil hanyalah ungkapan kaum sufi yang terlalu sering dipakai dan diwarisi tanpa kritik. Al-Qur’an, menurutnya, berbicara tentang basharon sawiya: manusia yang BMW (balance, moderate, dan well-rounded). Manusia yang seimbang, tidak timpang, tidak ekstrem, dan serba ada.

Pendidikan dan Jejak Panjang Peradaban

Untuk memahami manusia BMW, pendidikan harus dibaca sebagai perjalanan panjang peradaban. Syaykh membawa peserta menelusuri ribuan tahun sejarah: Mesir Kuno dengan teknologi yang bahkan hari ini sulit ditiru; India dengan pengaruh Sanskerta dan Kawi yang mengakar di Nusantara; Cina yang menyatukan ajaran samawi dan humanistik; hingga kelahiran agama-agama besar yang membentuk dunia.

Pendidikan, kata Syaykh, sudah bersifat global sejak ribuan tahun lalu, hanya saja manusia belum memiliki bahasa untuk menyebutnya. Dari Mesir lahir agama-agama kuno, dari India muncul Buddha Gautama, dari Timur berkembang ajaran Kongfusius yang oleh Syaykh ditarik pada satu garis dengan ajaran Musa. Semua bergerak lintas wilayah, lintas budaya, lintas zaman.

Abad pertengahan kemudian menghadirkan Muslim sebagai sponsor besar peradaban dunia. Timur dan Barat dipertemukan. Filsafat Yunani dibaca ulang, ilmu pengetahuan dikembangkan, dan bahasa Arab menjadi lingua franca global. Dunia menyatu hingga datang Renaisans, yang sesungguhnya hanyalah adopsi dan pengemasan ulang dari peradaban sebelumnya.

Di titik ini, Syaykh menyodorkan satu kalimat kunci:
“Satu-satunya yang tidak pernah berubah adalah perubahan itu sendiri.”

Menolak perubahan, lanjutnya, bukan sekadar konservatif, tetapi berbahaya. Bahkan Tuhan, dengan segala kekuasaan-Nya, tidak menghentikan perubahan. Maka manusia yang menolak perubahan justru sedang menempatkan diri “lebih tinggi” dari kehendak ilahi. Di sinilah ia menyebutnya sebagai musyrik dalam visi: bukan menyembah berhala, tetapi memiliki arah hidup yang bertabrakan dengan visi Tuhan.

Global Education dan Bahaya Meniru

Masuk ke konteks kekinian, Syaykh menggarisbawahi urgensi global education. Namun ia menegaskan: global bukan berarti meniru. Dunia hari ini menuntut global thinking, tetapi tanpa keberanian mengoreksi, globalisasi justru melahirkan kepatuhan membabi buta.

Syaykh mencontohkan kepemimpinan dunia (Donal Trump) yang berubah-ubah sikapnya, menyerupai “dongeng Si Kabayan lepas”. Hari ini menyerang, esok mundur, lalu mengklaim semuanya sebagai keberanian. Dunia modern, katanya, sedang kembali ke dunia dongeng.

Di sinilah pendidikan global harus berpijak pada solidaritas. Ia mengkritik pemahaman sempit terhadap ashabiyah yang kerap dicap jahiliah. Merujuk pada Ibn Khaldun, Syaykh menegaskan: tanpa solidaritas, bangsa akan lenyap. Indonesia tidak akan bertahan hanya dengan globalisme tanpa akar.

Indonesia dan Luka Sejarah Pendidikan

Narasi lalu berbelok tajam ke Indonesia. Bangsa ini, kata Syaykh, tidak pernah menulis peradabannya sendiri. Sejarah ditulis penjajah, arsip disimpan di negeri lain. Pendidikan kolonial memang melahirkan kesadaran, tetapi juga menyisakan paradoks.

Belanda mendidik dengan khidmat: irigasi, pendidikan, transmigrasi, karena tidak pernah membayangkan Indonesia akan merdeka. Namun justru dari pendidikan itulah lahir kesadaran kebangsaan: Sumpah Pemuda, Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa, itulah Indonesia Raya.

Kesadaran muncul ketika bangsa ini bercermin kepada wong Londo: kulit, rambut, hidung, bahasa mereka, dan akhirnya sadar, kita bukan Belanda. Pendidikan memicu kesadaran itu.

Namun ironi muncul hari ini. Setelah merdeka lebih dari delapan dekade, Indonesia justru sibuk mengirim anak-anak pintarnya ke luar negeri, berharap kemajuan datang dari luar. “Kapan kita punya universitas yang didatangi bangsa asing?” tanya Syaykh tajam.

Asrama, Disiplin, dan Setting Global

Pelatihan ini juga menekankan pentingnya pendidikan berasrama. Bukan sekadar tempat tinggal, tetapi ruang pembentukan karakter, disiplin, dan international setting. Duduk rapi, mendengar tanpa batuk, berpikir kritis, berdialog, itulah standar global.

Syaykh bahkan menyinggung hal-hal kecil: cara duduk, cara mendengar, cara berpakaian. Global setting bukan soal jas atau songkok, tetapi kesadaran dan sikap ilmiah. Dunia internasional tidak lahir dari kekacauan mental.

Pendidikan, Ekonomi, dan Masa Depan Bangsa

Gagasan kemudian meluas pada desain besar bangsa: sekolah berasrama di setiap kabupaten, politeknik, jaringan kereta api, penyebaran penduduk, dan pertumbuhan ekonomi yang merata. Pendidikan bukan beban anggaran, melainkan mesin pembangunan.

Dengan pendidikan yang dirancang serius, IPM naik, ekonomi bergerak, dan ketimpangan menyusut. Indonesia tidak kekurangan anak bangsa yang handal. Yang kurang hanyalah keberanian membangun dengan tangan sendiri.

Merdeka sebagai Kesadaran

Di penghujung forum, Syaykh kembali pada Ibn Khaldun. Seluruh Mukadimah, katanya, bermuara pada satu kata: merdeka.
Merdeka berpikir.
Merdeka mendidik.
Merdeka menentukan arah.

Pelatihan Pelaku Didik Al-Zaytun sesi ke-35 bukan sekadar forum ilmiah. Ia adalah peringatan keras: bangsa yang berhenti belajar sedang menggali kubur peradabannya sendiri. Sementara bangsa yang berani mendidik diri dengan global thinking dan solidaritas kebangsaan, sedang menulis masa depannya.

Dan di ruang itu, perubahan tidak lagi diminta.
Bahkan ia menjadi kemestian.