Hutan Terbakar, Satwa Terancam, Siapa yang Melindungi Rumah Mereka?

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

lognews.co.id - Di hutan Kalimantan, anak orang utan terancam ketika api melalap pepohonan. Di Gunung Ciremai, Jawa Barat, seekor bayi surili ditemukan lemas di dahan yang terbakar. Sementara itu, di Papua Selatan, anak kanguru pohon juga menghadapi ancaman ketika habitatnya rusak. Mereka tidak bisa berteriak meminta pertolongan seperti manusia. Penderitaan mereka seolah menyampaikan pesan yang sama. Hutan kami terbakar. Rumah kami hilang, ke mana kami harus pergi?

Kebakaran hutan dan lahan bukan sekadar soal pohon yang hangus atau tanah yang menghitam.

Ada kehidupan yang ikut terbakar. Ada sarang yang musnah. Banyak sumber makanan yang lenyap. Dan banyak anak satwa yang kehilangan perlindungan induknya. Ketika api membesar, manusia mungkin masih bisa berlari mencari keselamatan. Satwa liar tidak selalu memiliki kesempatan yang sama. Mereka terjebak di habitatnya sendiri. Jeritan satwa yang terluka seharusnya menjadi teguran keras bagi kita semua. Jangan sampai hutan masih tersisa di peta, tetapi kehidupan di dalamnya telah tiada.

Surili, Kebanggaan Tatar Sunda

Surili adalah salah satu primata endemik Jawa Barat. Ia menjadi salah satu fauna yang menjadi kekayaan alam Tatar Sunda. Nama ilmiahnya Presbytis comata. Tubuhnya ramping, rambutnya berwarna abu-abu atau putih hingga kehitaman, dan wajahnya memiliki ciri khas. Satwa ini hidup di hutan tropis dan bergantung pada pepohonan untuk mencari makan, berlindung, serta berkembang biak.

Surili bukan sekadar satwa langka yang menarik untuk dilihat. Kehadirannya merupakan bagian dari keseimbangan ekosistem hutan. Sayangnya, habitat yang terbatas, Satwa ini mengalami berbagai tekanan terhadap lingkungan membuat kelestariannya perlu mendapat perhatian serius. Jika hutannya rusak, kehidupan surili ikut terancam. Jika hutannya habis terbakar, ke mana mereka akan pergi?

Kisah bayi surili yang menjerit menjadi berita minggu ini. Ia ditemukan dalam kondisi lemah di kawasan Gunung Ciremai sungguh menyentuh hati. Bayangkan, seekor satwa yang masih sangat kecil harus menghadapi panas api dan kepulan asap di habitatnya sendiri. Ia tidak tahu mengapa hutan yang selama ini menjadi tempat berlindungnya tiba-tiba berubah menjadi ancaman.

Bayi surili tersebut diperkirakan baru berusia sekitar satu minggu.

 Darsa, yang akrab disapa Dodo, seorang petani hutan sekaligus anggota Masyarakat Peduli Api (MPA) Padabeunghar, menemukannya pada malam 22 Oktober 2026 di kawasan Puncak Dulang, Gunung Ciremai. Bayi surili itu berada di dahan pohon yang terbakar, dalam keadaan lemas dan diduga mengalami gangguan akibat menghirup asap.

Dodo segera mengevakuasi bayi surili itu ke tempat yang aman. Tindakan sederhana tersebut menjadi patut diacungi jempol. Ini bukti kepedulian manusia yang masih dapat menyelamatkan kehidupan di tengah bencana. Kabar baiknya, pada 23 Oktober 2026, bayi surili itu berhasil dipertemukan kembali dengan induknya dan kembali ke kelompoknya.

Kisah ini patut diapresiasi. Namun, ada pertanyaan yang lebih besar. Mengapa bayi satwa yang begitu rentan harus menghadapi kebakaran di rumahnya sendiri? Kita boleh bersyukur karena satu nyawa berhasil diselamatkan. Akan tetapi, kita tidak boleh menutup mata terhadap satwa lain yang mungkin terjebak, terluka, atau mati tanpa pernah ditemukan.

Peristiwa bayi surili di Gunung Ciremai telah menjadi peringatan sekaligus panggilan moral bagi masyarakat Jawa Barat. Melindungi surili bukan hanya tugas petugas taman nasional atau komunitas pencinta alam. Ini adalah tanggung jawab bersama.

Pemerintah, pengelola Taman Nasional Gunung Ciremai, masyarakat sekitar, komunitas lingkungan, dan dunia pendidikan perlu bekerja bersama. Pencegahan kebakaran harus diperkuat. Masyarakat perlu dilibatkan dalam menjaga hutan.

 Sekolah juga dapat mengambil peran dengan mengenalkan surili sebagai bagian dari kekayaan hayati Jawa Barat yang harus diwariskan kepada generasi mendatang.

Anak-anak perlu belajar bahwa hutan bukan sekadar kumpulan pohon. Hutan adalah rumah bagi berbagai makhluk hidup. Di dalamnya ada induk yang merawat anaknya, satwa yang mencari makan, dan kehidupan yang saling bergantung. Merusak hutan berarti mengganggu kehidupan yang tidak dapat membela dirinya sendiri.

Kita patut menghargai pak Dodo yang telah menyelamatkan bayi surili tersebut. Namun kepedulian tidak boleh berhenti pada pujian terhadap satu tindakan penyelamatan. Kepedulian harus berubah menjadi gerakan nyata untuk menjaga hutan dan mencegah kebakaran berulang.

Jangan biarkan surili hanya tinggal dalam gambar, cerita, atau buku pelajaran. Jangan pula biarkan anak cucu kita mengenal orang utan, surili, dan kanguru pohon hanya sebagai satwa langka yang pernah hidup di Indonesia. Ketika hutan kehilangan penghuninya, yang hilang bukan hanya satwa. Kita juga kehilangan bagian dari kekayaan alam dan masa depan bangsa.

Selamatkan hutannya. Lindungi fauna dan satwanya. Sebelum jeritan alam benar-benar berubah menjadi kesunyian! (Din Wahyudin)