Karhutla Hambat Perekonomian Warga Kalimantan, Listrik dan Air Bergilir Bikin UMKM Kesulitan

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

INDRAMAYU, lognews.co.id – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Timur menjadi sorotan dalam program Breaking News Prima Primetime News (BN PPN 1011) yang disiarkan Prima 95,8 FM, Selasa (13/10/2026). Siaran yang berlangsung pukul 10.00 hingga 11.00 WIB tersebut mengulas dampak karhutla terhadap masyarakat, kondisi penanganan di lapangan, serta tantangan yang dihadapi warga dan petugas dalam menghadapi kebakaran.

Di balik kebakaran hutan dan kepungan asap yang melanda sejumlah wilayah di Kalimantan Timur, masyarakat Kabupaten Paser harus menghadapi persoalan lain yang tidak kalah berat, yakni terganggunya aktivitas ekonomi akibat pemadaman listrik, pasokan air yang bergilir, hingga kelangkaan bahan bakar minyak (BBM).

Sastrowanto, seniman sekaligus pendidik di Kabupaten Paser, Kalimantan Timur, menyampaikan bahwa kondisi tersebut turut memengaruhi kehidupan masyarakat, terutama pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang mengandalkan penghasilan harian untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Pemadaman Listrik Mengancam Usaha Pedagang Kecil

Dalam dialog BN PPN 1011, Sastrowanto menjelaskan bahwa pemadaman listrik secara bergilir menjadi salah satu persoalan yang dirasakan masyarakat di tengah situasi karhutla.

Gangguan pasokan listrik tersebut menyulitkan pedagang yang bergantung pada lemari pendingin untuk menjaga kualitas bahan makanan. Produk seperti ikan dan ayam berisiko rusak apabila tidak dapat disimpan dalam kondisi yang memadai.

“Karena pengaruhnya cukup banyak dengan adanya tuntutan kebakaran ini maka terjadilah pemadaman listrik yang bergilir,” ujar Sastrowanto dalam siaran tersebut.

Bagi pedagang kecil, kondisi ini bukan sekadar gangguan kenyamanan. Kerusakan bahan dagangan dapat mengakibatkan kerugian modal, sementara kesempatan memperoleh pendapatan ikut terhambat.

Situasi tersebut menjadi semakin berat bagi masyarakat yang mengandalkan hasil penjualan setiap hari untuk memenuhi kebutuhan makan, membayar keperluan rumah tangga, dan mempertahankan keberlangsungan usaha.

Pasokan Air Bergilir Menghambat Aktivitas UMKM

Selain listrik, Sastrowanto juga mengungkapkan bahwa distribusi air PDAM di wilayahnya mengalami penggiliran. Kondisi ini turut memengaruhi kegiatan usaha yang membutuhkan air dalam operasional sehari-hari.

Ia mencontohkan pedagang bakso dan mi ayam yang membutuhkan air untuk mencuci mangkuk, piring, serta peralatan makan lainnya. Ketika pasokan air terganggu, mereka kesulitan menjaga kelancaran pelayanan kepada pelanggan.

“Pedagang bakso, mie ayam dan sebagainya yang membutuhkan untuk cuci itu mereka banyak yang pastinya banyak yang tutup ketika mati air karena mereka tidak punya air untuk mencuci mangkoknya, piringnya dan sebagainya,” ungkapnya.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa gangguan layanan dasar dapat berdampak langsung terhadap kegiatan ekonomi masyarakat. Ketika listrik dan air tidak tersedia secara memadai, pelaku usaha menghadapi keterbatasan untuk tetap beroperasi.

Bagi pedagang yang tidak memiliki sumber air alternatif atau fasilitas pendukung, berhentinya kegiatan usaha berarti hilangnya kesempatan memperoleh pendapatan pada hari tersebut.

Pendapatan Harian Menjadi Penentu Kebutuhan Keluarga

Sastrowanto menekankan bahwa dampak gangguan operasional sangat dirasakan masyarakat kecil yang mengandalkan pendapatan harian. Berbeda dengan usaha yang memiliki cadangan modal besar, pedagang kecil umumnya menggunakan hasil penjualan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Ia menggambarkan bagaimana penghentian aktivitas usaha selama beberapa hari dapat menimbulkan kesulitan ekonomi bagi keluarga yang bergantung pada hasil berdagang.

“Karena yang kita mengandalkan masyarakat UMKM kita mengandalkan penghasilan yang harian setiap hari, kalau 3 hari saja tidak berdagang mereka tidak bisa makan karena setiap hari hasilnya ya hanya untuk makan itu,” kata Sastrowanto.

Pernyataan tersebut menggambarkan kerentanan ekonomi masyarakat ketika kegiatan usaha terganggu oleh kondisi di luar kendali mereka. Berkurangnya waktu berjualan tidak hanya memengaruhi omzet, tetapi juga kemampuan keluarga memenuhi kebutuhan pokok.

Dalam situasi seperti ini, gangguan ekonomi tidak selalu terlihat dalam angka kerugian besar. Bagi sebagian pedagang, kehilangan pendapatan selama satu atau dua hari saja dapat memengaruhi belanja pangan dan kebutuhan rumah tangga.

Kelangkaan BBM Menambah Beban Masyarakat

Persoalan ekonomi warga juga diperberat oleh kelangkaan BBM yang disampaikan Sastrowanto dalam siaran tersebut. Ia menyebut antrean panjang terjadi di sejumlah SPBU karena masyarakat kesulitan memperoleh bahan bakar.

Menurut keterangannya, sebagian warga kemudian membeli BBM melalui penjual eceran dengan harga yang lebih tinggi.

“Kelangkaan bensin ini khususnya Pertalite dan Pertamax sehingga menjadi antrean panjang di SPBU-SPBU yang ada,” ujarnya.

Sastrowanto juga menyebut harga Pertamax eceran mencapai Rp20.000 per liter dan Pertalite Rp17.000 per liter. Harga tersebut merupakan keterangan narasumber mengenai kondisi yang ia temui dalam siaran dan belum diverifikasi secara independen.

Bagi masyarakat yang menggunakan kendaraan untuk bekerja, berdagang, atau mengangkut barang, kenaikan biaya pembelian BBM dapat menambah beban pengeluaran. Namun, besaran dampak terhadap biaya operasional dan harga kebutuhan pokok belum dijelaskan secara terperinci dalam dialog tersebut.

Kondisi ini memperlihatkan bahwa persoalan pasokan energi dapat berkaitan erat dengan keberlangsungan aktivitas ekonomi, terutama bagi warga yang bergantung pada mobilitas untuk mencari penghasilan.

Penanganan Karhutla Perlu Memperhatikan Dampak Ekonomi Warga

Dampak karhutla terhadap masyarakat tidak hanya berkaitan dengan kebakaran lahan dan paparan asap. Gangguan listrik, keterbatasan air, serta persoalan pasokan BBM yang disampaikan narasumber turut menggambarkan tantangan kehidupan sehari-hari di Kabupaten Paser.

Bagi pelaku UMKM, ketersediaan layanan dasar merupakan bagian penting dalam mempertahankan usaha. Tanpa listrik untuk menyimpan bahan makanan, air untuk menjalankan kegiatan produksi, dan BBM untuk mendukung mobilitas, kemampuan mereka memperoleh pendapatan dapat semakin terbatas.

Kondisi tersebut menegaskan pentingnya penanganan karhutla yang tidak hanya berorientasi pada pemadaman api, tetapi juga memperhatikan dampak lanjutan terhadap kehidupan masyarakat.

Pemulihan lingkungan perlu diikuti dengan perhatian terhadap keberlangsungan layanan dasar dan kondisi ekonomi warga yang terdampak. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya menghadapi upaya pemulihan dari kebakaran, tetapi juga memperoleh dukungan untuk mempertahankan mata pencaharian dan memenuhi kebutuhan keluarga.

Pembahasan mengenai kondisi tersebut disampaikan melalui program Breaking News Prima Primetime News (BN PPN 1011) di Prima 95,8 FM, sebagai bagian dari upaya menghadirkan suara masyarakat dan menggambarkan dampak karhutla berdasarkan keterangan langsung dari lapangan. (Saheel untuk indonesia)