lognews.co.id, Brebes - Perusahaan yang terafiliasi dengan Djarum Group, PT Global Dairi Bersama, bersiap membangun kawasan peternakan sapi perah terintegrasi berskala besar di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Proyek tersebut digadang-gadang menjadi peternakan sapi perah terbesar di Indonesia. (19/4/26)
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Agung Suganda, mengatakan investasi tersebut diharapkan mampu mendorong produksi susu nasional sekaligus memperkuat ekonomi daerah.
“Dengan adanya investasi ini diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi, membuka lapangan kerja, meningkatkan kualitas SDM, serta kesejahteraan masyarakat di Brebes dan Jawa Tengah,” ujar Agung dalam keterangan resminya.
Proyek tersebut menjadi bagian dari strategi pemerintah mempercepat peningkatan produksi susu nasional guna mengurangi ketergantungan impor. Saat ini kebutuhan susu nasional mencapai sekitar 4,7 juta ton per tahun, sedangkan produksi dalam negeri baru sekitar 1 juta ton.
“Dengan tambahan produksi dari Brebes, ini akan sangat signifikan menekan ketergantungan impor,” katanya.
Peternakan yang dikembangkan PT Global Dairi Bersama ditargetkan memiliki populasi hingga 30.000 ekor sapi perah dengan kapasitas produksi mencapai 180.000 ton susu per tahun. Kontribusinya bahkan diproyeksikan mencapai 18 persen dari total produksi susu nasional.
“Kalau ini berjalan, Jawa Tengah bisa naik ke peringkat dua, bahkan menyamai Jawa Timur. Kalau ini terbangun, ini akan jadi yang terbesar di Indonesia,” tegas Agung.
Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, menyatakan pemerintah daerah siap mendukung penuh percepatan proyek tersebut agar segera terealisasi.
“Kita harus bergerak cepat, jangan terlalu lama dalam proses. Targetnya produksi paling lambat 2027,” ujarnya.
Sementara itu, CEO Savoria Group, Ihsan Mulia Putri, menjelaskan proyek tersebut akan dibangun di atas lahan sekitar 710 hektare dengan konsep peternakan modern terintegrasi dari hulu hingga hilir.
“Ini bukan sekadar peternakan, tapi ekosistem terintegrasi dari hulu ke hilir,” katanya.
Konsep yang diterapkan menggunakan close loop system, di mana limbah ternak akan diolah menjadi biogas sebagai sumber energi. Sisa limbah dimanfaatkan sebagai pupuk organik, sedangkan air diolah melalui sistem daur ulang.
Selain kandang peternakan, kawasan tersebut juga akan dilengkapi fasilitas pabrik pakan, pengolahan susu, hingga area pertanian untuk memenuhi kebutuhan hijauan pakan ternak.
Mega proyek ini diproyeksikan memberi dampak ekonomi cukup besar bagi masyarakat sekitar. Sekitar 5.000 petani akan dilibatkan dalam penyediaan pakan ternak, sementara 8.000 peternak dipersiapkan masuk dalam skema kemitraan pengembangan sapi perah.
Program pengembangan hijauan pakan juga dirancang mencapai sekitar 2.000 hektare setiap tahun.
“Ini bukan hanya proyek industri, tapi juga pemberdayaan masyarakat,” tandas Ihsan.
Proyek tersebut merupakan bagian dari program Percepatan Produksi Susu dan Daging Nasional (P2SDN). Tahap awal pengerjaan lahan dijadwalkan dimulai pada Juni 2026 dan ditargetkan mulai beroperasi pada akhir 2027, dengan produksi susu perdana atau first milking dilakukan pada Desember 2027.
(Amri-untuk Indonesia)



