Saturday, 16 May 2026

Thudong Waisak 2026 Dimulai dari Jepara, Puluhan Biksu Jalan Kaki Menuju Candi Sewu

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

lognews.co.id, Perjalanan spiritual Thudong Waisak 2026 resmi akan dimulai dari Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Puluhan biksu dijadwalkan melakukan perjalanan kaki menuju Candi Sewu, Klaten, sebagai bagian dari rangkaian menyambut Hari Raya Waisak 2570 BE. (15/5/26).

Kegiatan bertajuk “Walks for Peace: Perjalanan Spiritual Biksu Sangha Dhutanga Menyambut Waisak” itu dipimpin Bhikkhu Nyanakaruno Mahathera dan akan melibatkan sekitar 20 biksu yang menempuh perjalanan lintas daerah secara berjalan kaki.

Panglima Laskar Agung Macan Ali Nuswantara Kasultanan Cirebon, Prabu Diaz, mengatakan perjalanan akan dimulai dari Candi Sima, Jepara pada Rabu, 20 Mei 2026 sekitar pukul 06.00 WIB.

“Pengawal tetap yang mendampingi, mengiringi, mengawasi, melayani, menjaga dari mulai start sampai finish berhari-hari itu 30 orang,” ujar Prabu Diaz.

Ia menjelaskan, perjalanan spiritual tersebut akan melewati sejumlah wilayah di Jawa Tengah mulai dari Bangsri, Alun-alun Jepara, Welahan, Demak, Simpang Lima Semarang, Gunung Kalong, Blotongan, Ampel, Alun-alun Boyolali hingga akhirnya tiba di Candi Sewu, Klaten.

Selama perjalanan, para biksu juga dijadwalkan singgah di beberapa vihara sebagai titik peristirahatan dan ibadah. Pos pertama berada di Vihara Bodhi Dharma, Srobyong, Mlonggo. Pos kedua berada di Vihara Bodhi Jaya Manggala, Jepara.

Perjalanan kemudian dilanjutkan dengan persinggahan di Vihara Vajra Bumi Dharma Vidya di Salatiga serta Vihara Bodhi Vamsa di Klaten sebelum rombongan mencapai tujuan akhir.

Untuk mendukung kelancaran kegiatan, panitia menyiapkan sekitar 30 personel pengawal, tim advance, serta tenaga medis laki-laki yang akan mendampingi para biksu selama perjalanan berlangsung.

Prabu Diaz menegaskan keterlibatan Laskar Macan Ali menjadi simbol kuat toleransi antarumat beragama di Indonesia. Menurutnya, anggota pengawal berasal dari berbagai latar belakang agama yang bersatu untuk mengawal perjalanan spiritual para biksu.

“Kami dari Laskar Macan Ali ada yang Muslim, ada yang Kristiani, ada yang Katolik, ada yang Hindu, merupakan suatu kewajiban akan mengiringi, mendampingi, melayani, dan melindungi serta mengawal para guru-guru yang mulia tersebut dalam melakukan ritualnya thudong nanti,” katanya.

Ia juga menyebut pihaknya akan terus mendukung kegiatan thudong internasional sebagaimana yang telah dilakukan pada penyelenggaraan tahun 2023 dan 2025.

“Kami sebagai perintis internasional thudong 2023, 2025, dan nanti 2027 pastinya akan full power menunjukkan bahwa Indonesia adalah negara yang sangat toleran walau tidak bersaudara satu iman,” pungkasnya.

Tradisi thudong sendiri merupakan ritual perjalanan spiritual dalam ajaran Buddha yang dilakukan dengan berjalan kaki menempuh jarak jauh sebagai bentuk latihan kesederhanaan, disiplin, meditasi, dan pengendalian diri menjelang Hari Raya Waisak. (Amri-untuk Indonesia)