lognews.co.id, Jakarta – Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita memprioritaskan penguatan infrastruktur pengolahan air baku dan air limbah di kawasan industri sebagai bagian dari percepatan program dekarbonisasi industri dan pengembangan industri hijau nasional. (12/5/26).
Menurut Agus, kawasan industri memiliki peran strategis dalam mendorong investasi, menciptakan lapangan kerja, serta memperkuat transformasi industri nasional. Karena itu, infrastruktur pendukung seperti pengolahan air dinilai menjadi kebutuhan penting dalam pengembangan kawasan industri modern dan ramah lingkungan.
“Kawasan industri memainkan peran penting dalam mendukung investasi, menciptakan lapangan kerja, dan memperkuat transformasi industri Indonesia. Karena itu, penguatan infrastruktur pendukung menjadi prioritas penting dalam pengembangan kawasan industri hijau,” ujar Agus di Jakarta, Selasa (12/5/2026).
Kementerian Perindustrian menjalin kerja sama dengan Qiaoyin City Management Co., Ltd. dan Himpunan Kawasan Industri Indonesia (HKI) melalui penandatanganan nota kesepahaman terkait proyek percontohan teknologi pengolahan air baku dan air limbah terpadu.
Dalam kerja sama tersebut, pemerintah menyiapkan lima kawasan industri sebagai proyek percontohan penerapan teknologi pengolahan air modern.
“Akan ada lima kawasan industri yang menjadi pilot project dalam kerja sama ini. Namun kita tidak hanya mencari sistem pengolahan air yang baik, tetapi juga mencari model pengelolaan yang paling efektif dan mudah diterapkan,” kata Agus.
Kemenperin mencatat hingga tahun 2025 terdapat 176 kawasan industri di Indonesia dengan total luas mencapai 98.291,68 hektare. Nilai realisasi investasi di kawasan industri tersebut mencapai Rp6.744,58 triliun.
Pertumbuhan kawasan industri yang terus meningkat turut mendorong kebutuhan sistem pengelolaan air dan limbah yang lebih efisien serta berkelanjutan.
Dalam proyek ini, Qiaoyin memperkenalkan teknologi Efficient Denitrogenation Integrated Airlift Loop Bioreactor (DIAB) untuk pengolahan limbah industri. Teknologi tersebut diklaim mampu meningkatkan efisiensi biaya pembangunan dan penggunaan lahan.
“Melalui teknologi DIAB, kami menghadirkan cara baru dalam mengolah air limbah pabrik yang jauh lebih hemat. Solusi ini mampu memangkas biaya pembangunan hingga 20 persen,” ujar perwakilan Qiaoyin City Management Co., Ltd., Wan Yiming.
Ia menambahkan penggunaan sistem prefabrikasi juga memungkinkan fasilitas pengolahan air dapat dibangun dan dioperasikan lebih cepat.
Ketua Umum Himpunan Kawasan Industri Indonesia, Akhmad Ma’ruf Maulana, menyambut positif kerja sama tersebut. Menurutnya, penerapan teknologi pengolahan air modern akan mendukung pengelolaan kawasan industri yang lebih efisien dan berkelanjutan.
Sementara itu, Direktur Jenderal Ketahanan, Perwilayahan, dan Akses Industri Internasional Kemenperin, Tri Supondy, mengatakan pemerintah terus mendorong penerapan teknologi ramah lingkungan di kawasan industri nasional.
Ia berharap kolaborasi tersebut tidak hanya memperkuat investasi, tetapi juga mendorong transfer teknologi dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia nasional di sektor industri berbasis inovasi dan keberlanjutan. (Amri-untuk Indonesia)



