Oleh : Ali Aminulloh
lognews.co.id - Mentari Ahad pagi, 10 Mei 2026, memancar hangat di lingkungan Ma’had Al-Zaytun. Di tengah hamparan kawasan pendidikan yang luas dan tertata, lebih dari 2700 peserta Pelatihan Pelaku Didik Al-Zaytun ke-44 berkumpul dalam sebuah forum ilmiah yang bukan sekadar ruang transfer pengetahuan, tetapi juga ruang kontemplasi tentang masa depan bangsa, peradaban, dan kemanusiaan.
Hadir sebagai narasumber utama, Prof. Dr. Ermaya Suradinata menyampaikan pemikiran strategis mengenai pendidikan, geopolitik dunia, pembentukan karakter bangsa, hingga tantangan era digital dan kecerdasan buatan. Dalam paparannya, ia menempatkan Al-Zaytun bukan hanya sebagai lembaga pendidikan, melainkan sebagai laboratorium peradaban yang berpotensi melahirkan pemimpin-pemimpin masa depan Indonesia bahkan dunia.
Sejak awal penyampaiannya, suasana forum terasa cair dan emosional. Prof. Ermaya membuka dengan ungkapan syukur, selawat, serta pantun yang menghidupkan kedekatan dengan peserta. Ia mengaku terharu dapat memasuki ruang utama Masjid Al-Zaytun untuk pertama kalinya. Kedekatan batin itu terasa kuat karena dirinya berasal dari Indramayu dan memiliki hubungan historis dengan kawasan sekitar Al-Zaytun.
Di hadapan para dosen, guru, pelatih, pengasuh, mahasiswa, santri, hingga karyawan, ia menyampaikan penghormatan kepada Syaykh Panji Gumilang serta seluruh elemen pesantren yang dinilainya tengah membangun karya besar bangsa.
Menurut Prof. Ermaya, pendidikan ideal tidak cukup hanya berorientasi pada kecerdasan akademik. Pendidikan harus mampu memadukan syariat, tasawuf, dan ma’rifah agar melahirkan manusia yang utuh secara intelektual, spiritual, dan sosial. Dalam pandangannya, Al-Zaytun sedang mengembangkan model pendidikan integral yang langka di tengah dunia modern yang semakin materialistis dan pragmatis.
Beliau menilai sistem pendidikan berasrama yang diterapkan Al-Zaytun memiliki kekuatan besar dalam membangun keteladanan, disiplin, dan karakter kebangsaan. Bahkan ia menyampaikan harapan besar agar suatu hari Presiden Republik Indonesia dapat lahir dari lingkungan Al-Zaytun karena di tempat tersebut dikembangkan pendidikan yang mengedepankan kesejahteraan rakyat, nilai kemanusiaan, dan prinsip “kula diwongke” , memanusiakan manusia.
Paparan Prof. Ermaya kemudian meluas pada persoalan geopolitik global. Ia menyinggung berbagai konflik internasional mulai dari perang Rusia-Ukraina, konflik Gaza Palestina, hingga ketegangan Iran, Israel, dan Amerika Serikat. Dunia, menurutnya, sedang menghadapi ketidakpastian global yang serius. Di tengah situasi tersebut, Indonesia memiliki modal penting berupa Pancasila dan semangat Bhinneka Tunggal Ika sebagai perekat bangsa multikultural.
Ia bahkan mengaitkan konsep Bhinneka Tunggal Ika dengan perhatian dunia internasional terhadap pentingnya persatuan dalam keberagaman. Dalam konteks itulah pendidikan nasional harus mampu melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki jiwa kebangsaan dan kepedulian sosial.
Menariknya, Prof. Ermaya menempatkan Indonesia sebagai “jantung dunia” dan paru-paru dunia karena kekayaan ekologisnya. Oleh sebab itu, ia menilai lembaga pendidikan seperti Al-Zaytun harus menjadi bagian dari kekuatan strategis bangsa dalam menjaga lingkungan hidup, keseimbangan alam, dan keberlanjutan peradaban manusia. Pandangan ini sejalan dengan trilogi pendidikan Al-Zaytun yang menekankan kesadaran filosofis, kesadaran ekologis, dan kesadaran sosial.
Dalam dimensi spiritual, Prof. Ermaya mengingatkan pentingnya keikhlasan dalam setiap aktivitas pendidikan. Menurutnya, belajar, mengajar, mendidik, hingga membangun relasi sosial harus diniatkan sebagai ibadah. Ia menekankan bahwa ibadah tidak hanya terbatas pada ritual formal, tetapi juga mencakup proses pendidikan dan pengabdian kepada sesama.
Prof. Ermaya kemudian menjelaskan bahwa syariat, tasawuf, dan ma’rifah harus berjalan terpadu agar manusia memperoleh ketenangan dunia dan akhirat. Dalam pandangannya, manusia harus menyadari bahwa Allah SWT lebih dekat daripada yang dibayangkan manusia sendiri sehingga setiap pikiran dan tindakan harus dijaga dengan penuh kesadaran moral.
Salah satu bagian penting dalam pemaparannya adalah pembahasan tentang tantangan era digital dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Menurutnya, perkembangan teknologi telah menciptakan ruang informasi yang sangat cepat sekaligus berbahaya jika tidak diimbangi karakter dan literasi yang baik.
Ia mengingatkan bahwa AI dapat digunakan untuk memanipulasi informasi, memalsukan identitas, bahkan menciptakan percakapan palsu yang sulit dibedakan dari kenyataan. Karena itu, generasi muda harus memiliki kemampuan verifikasi, ketajaman berpikir, dan pengendalian diri agar tidak mudah terseret arus informasi digital yang liar.
Dalam sesi dialog, Presiden Organisasi Pelajar Ma’had Al-Zaytun mempertanyakan bagaimana pelajar mempertahankan ideologi Pancasila dan menjaga keutuhan NKRI di tengah globalisasi. Menjawab hal tersebut, Prof. Ermaya menegaskan pentingnya nation character building atau pembangunan karakter bangsa sebagai fondasi utama pendidikan masa depan.
Ia memperkenalkan konsep ASOKA sebagai pendekatan baru menghadapi perubahan zaman, yakni Ability, Strong, Opportunity, Culture, dan Agility. Menurutnya, generasi muda Indonesia harus adaptif, visioner, sekaligus memiliki karakter kebangsaan yang kuat agar mampu menyongsong Indonesia Emas 2045.
Dalam konteks pembentukan disiplin, Prof. Ermaya menolak pendekatan yang hanya bertumpu pada paksaan. Menurutnya, disiplin harus dibangun melalui kesadaran, keteladanan, dan keikhlasan. Ia menegaskan bahwa seorang pelajar harus menjadi “urup” atau cahaya bagi lingkungan sekitarnya — menghadirkan inspirasi, semangat, dan manfaat sosial.
Ia juga menekankan empat landasan utama pembentukan karakter, yakni ikhlas, takwa, iman, dan mu’min. Keempat nilai tersebut, menurutnya, merupakan fondasi moral yang sejalan dengan implementasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
Pada bagian akhir, Prof. Ermaya mengajak peserta merenungkan alam semesta sebagai tanda kebesaran Allah SWT sebagaimana tergambar dalam Surat Ar-Rahman. Ia menghubungkan kajian spiritual dengan ilmu pengetahuan modern, termasuk pengalamannya membangun laboratorium antariksa bersama ITB untuk mempelajari perputaran jagat raya dan kosmologi.
Pelatihan Pelaku Didik Al-Zaytun ke-44 akhirnya tidak hanya menjadi forum akademik, tetapi juga ruang refleksi tentang masa depan pendidikan Indonesia. Di tengah dunia yang dipenuhi konflik, disrupsi teknologi, dan krisis moral, forum tersebut menegaskan satu hal penting: pendidikan sejati bukan hanya melahirkan manusia pintar, tetapi manusia berkarakter, berjiwa kebangsaan, peduli lingkungan, dan memiliki kesadaran spiritual yang mendalam.
Dari ruang pendidikan di Al-Zaytun, gagasan tentang Indonesia Emas 2045 tampak tidak sekadar slogan pembangunan, melainkan sebuah cita-cita peradaban yang sedang dipersiapkan melalui pembentukan manusia seutuhnya.



