Sunday, 10 May 2026

Tabayyun yang Hilang di Tengah Kegaduhan Sosial

User Rating: 4 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Inactive
 

oleh: Ali Aminulloh
lognews.co.id - Udara media sosial kembali memanas. Sebuah pernyataan dari salah satu organisasi kemasyarakatan tingkat kecamatan di Kabupaten Kuningan mendadak beredar luas. Dengan nada penolakan, mereka menyampaikan keberatan terhadap rencana pengembangan kegiatan perekonomian dan pembukaan cabang sebuah pesantren di wilayah tersebut. Sayangnya, narasi itu disampaikan tanpa proses verifikasi yang utuh, tanpa dialog terbuka, bahkan tanpa tabayyun kepada pihak yang bersangkutan.

Padahal yang dipersoalkan bukan sekadar bangunan atau lembaga, melainkan sebuah ikhtiar pengembangan ekonomi masyarakat, pendidikan, dan pemberdayaan umat. Ironisnya, penolakan itu justru lahir di tengah masyarakat yang mayoritas beragama Islam, agama yang sejak awal mengajarkan kehati-hatian dalam menerima dan menyebarkan informasi.

Islam adalah agama rahmatan lil ‘alamin. Agama yang membawa kasih sayang, ilmu pengetahuan, dan kemuliaan akhlak. Dalam Islam, setiap kabar tidak boleh langsung dipercaya begitu saja tanpa klarifikasi. Al-Qur’an dengan tegas mengingatkan:

“Jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan, yang akhirnya membuat kamu menyesali perbuatanmu itu.”
(QS. Al-Hujurat: 6)

Ayat ini menjadi fondasi penting dalam kehidupan sosial. Ketika sebuah informasi diterima tanpa tabayyun, maka prasangka mudah tumbuh. Dari prasangka lahir tuduhan. Dari tuduhan muncul ghibah. Dan ketika prasangka itu dipublikasikan tanpa verifikasi, maka ia berpotensi berubah menjadi fitnah.

Di era digital hari ini, satu pernyataan yang dilempar ke ruang publik dapat menyebar jauh lebih cepat daripada klarifikasi. Sekali opini terbentuk, masyarakat mudah terpengaruh. Nama baik seseorang atau lembaga bisa rusak hanya karena asumsi yang belum tentu benar. Lebih berbahaya lagi, publikasi prasangka sering kali dilakukan dengan nada seolah paling benar, padahal dasar informasinya belum diuji.

Inilah yang sangat dilarang dalam Islam. Allah SWT memperingatkan:

“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak dari prasangka, karena sebagian prasangka itu dosa...”
(QS. Al-Hujurat: 12)

Prasangka yang dipelihara lalu diumumkan ke publik tanpa kehati-hatian bukan lagi sekadar kesalahan pribadi, tetapi bisa menjadi kejahatan sosial. Sebab ia menggiring opini, memecah persaudaraan, dan menimbulkan kebencian kolektif.

Lebih keras lagi, Al-Qur’an mengingatkan bahaya fitnah dalam Surah Al-Baqarah ayat 191:
“...wal-fitnatu asyaddu minal qatl...”
“Fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan.”
(QS. Al-Baqarah: 191)

Mengapa fitnah disebut lebih kejam daripada pembunuhan? Karena pembunuhan mematikan satu kehidupan, sedangkan fitnah dapat membunuh kehormatan, kepercayaan, persatuan, bahkan masa depan sosial seseorang atau sebuah lembaga. Fitnah merusak perlahan, memecah masyarakat, dan meninggalkan luka panjang yang sulit dipulihkan.

Ironisnya, di era modern ini fitnah sering dianggap ringan. Orang begitu mudah membuat opini, menggiring persepsi, lalu menyebarkan narasi tanpa memastikan kebenarannya. Media sosial berubah menjadi ruang penghakiman massal. Yang lebih memprihatinkan, semua itu kadang dilakukan oleh orang-orang yang memahami agama, fasih berbicara tentang moralitas, bahkan tampil dengan simbol-simbol kesalehan.

Di sinilah letak ironi besar kehidupan beragama hari ini. Agama terkadang hanya menjadi slogan dan identitas, tetapi gagal dipahami secara substantif. Padahal Islam mengedepankan ilmu pengetahuan, akhlak, dan silaturahim. Islam tidak mengajarkan kebencian tanpa dasar. Islam tidak membenarkan penolakan yang dibangun di atas asumsi dan prasangka.

Bangsa Indonesia sendiri berdiri di atas fondasi Pancasila. Ketuhanan Yang Maha Esa ditempatkan di sila pertama sebagai penegasan bahwa kehidupan berbangsa harus dibangun dengan sifat-sifat ilahiah: kasih sayang, keadilan, dan penghormatan terhadap sesama manusia. Nilai Ar-Rahman dan Ar-Rahim semestinya hadir dalam kehidupan sosial, termasuk dalam menyikapi perbedaan dan menerima informasi.

Jika ada kekhawatiran terhadap suatu lembaga, pesantren, atau kegiatan ekonomi, maka jalan terbaik adalah dialog dan tabayyun, bukan tuduhan sepihak. Sebab masyarakat yang besar bukan masyarakat yang gemar mencurigai, tetapi masyarakat yang mampu menjaga akal sehat, adab, dan persaudaraan.

Hari ini, umat membutuhkan lebih banyak keteduhan daripada kegaduhan. Lebih banyak verifikasi daripada provokasi. Lebih banyak silaturahim daripada saling menjatuhkan.

Karena keberagamaan sejati tidak diukur dari kerasnya suara ketika menilai orang lain, melainkan dari kemampuan menjaga lisan, menahan prasangka, dan menghadirkan rahmat bagi sesama manusia.
oleh: Ali Aminulloh
(Sahil untuk Indonesia)