Oleh : Ali Aminulloh
lognews.co.id - Dunia sedang terbakar dan dampaknya terasa sampai dapur rumah tangga. Perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran bukan lagi sekadar konflik regional. Ia menjelma menjadi krisis global: harga minyak melonjak, distribusi energi terganggu, inflasi merambat, dan biaya hidup ikut naik. Bahkan, gangguan di Selat Hormuz, jalur vital energi dunia, sempat mengguncang sekitar 20% pasokan minyak global.
Lonjakan harga energi memicu efek domino: harga pangan naik, biaya transportasi meningkat, dan tekanan ekonomi dirasakan lintas negara. IMF bahkan memperingatkan bahwa konflik ini dapat memperlambat pertumbuhan global dan mendorong inflasi lebih tinggi.
Satu ledakan di Timur Tengah, kini bisa terasa di pasar tradisional Indonesia.
Dan di tengah pusaran krisis ini, sejarah seperti berbisik: Indonesia pernah menghadapi dunia yang retak dan memilih untuk tidak ikut pecah.
Di tengah situasi seperti inilah kita kembali menoleh ke Konferensi Asia Afrika 1955. Sebuah peristiwa ketika Indonesia tidak sekadar menjadi saksi, tetapi menjadi pengarah arah dunia.
Pada April 1955, di Gedung Merdeka, Soekarno berdiri di hadapan bangsa-bangsa yang lama tertindas. Ia tidak hanya berbicara tentang politik, tetapi ia berbicara tentang martabat.
Dalam salah satu bagian paling puitis pidatonya, ia mengingatkan:
“Life is a struggle, my brothers and sisters, and the struggle of Asia and Africa for freedom is a part of that struggle.”
“Hidup adalah perjuangan, saudara-saudariku, dan perjuangan Asia dan Afrika untuk merdeka adalah bagian dari perjuangan itu.”
Sebuah kalimat yang mengubah luka menjadi kekuatan.

Dan ketika ia menutup dengan seruan yang menggema hingga hari ini:
“Let a new Asia and a new Africa be born!”
Bandung tidak lagi sekadar kota. Ia menjadi simbol kebangkitan.
Saat itu, dunia terbelah antara Amerika Serikat dan Uni Soviet. Negara-negara kecil dipaksa memilih. Namun Indonesia memilih jalan berbeda: bebas dan aktif.
Dari Bandung lahir Dasasila Bandung: prinsip hidup berdampingan damai, anti-penjajahan, dan penghormatan terhadap kedaulatan. Dukungan terhadap Palestina menjadi bukti bahwa solidaritas bukan sekadar kata.
Dampaknya nyata. Lahir Gerakan Non-Blok, gelombang kemerdekaan Afrika, hingga perubahan keseimbangan global di Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Indonesia yang baru merdeka, menjadi pemimpin moral dunia.
Hari ini, dunia kembali pada pola yang sama.
Konflik, blok, tekanan, dan kepentingan.
Peringatan tahun 2026 kembali mengangkat seruan lama:
“Let a New Asia and a New Africa be Born.”
Ini bukan nostalgia. Ini panggilan.
Seruan untuk menghidupkan kembali persatuan, solidaritas, dan kerja sama Asia-Afrika, sebuah nilai yang dulu dipelopori Soekarno, dan kini kembali dibutuhkan dunia.
Namun arah itu tidak akan hidup tanpa kesadaran.
Kesadaran filosofis: bahwa Indonesia bukan sekadar pengikut arus global, tetapi penentu arah.
Kesadaran ekologis: bahwa perang hari ini merusak bukan hanya manusia, tetapi bumi.
Kesadaran sosial: bahwa setiap konflik global berdampak langsung pada rakyat, termasuk kenaikan BBM, harga pangan, dan biaya hidup.
Sejarah telah memberi bukti: Indonesia bukan bangsa kecil.
Ia adalah bangsa yang pernah menyalakan harapan dunia.
Bersama Jawaharlal Nehru, Gamal Abdel Nasser, dan Zhou Enlai, Indonesia berdiri di garis depan perubahan global. Kini, dunia kembali menunggu.
Bukan kekuatan senjata.
Bukan kekuatan ekonomi semata.
Tetapi kekuatan moral.
Karena dari Bandung ke dunia, Indonesia pernah bangkit.
Dan hari ini, di tengah krisis energi, kenaikan harga, dan ketidakpastian global, sejarah tidak hanya mengingatkan,
ia menantang:
akankah Indonesia kembali berdiri, atau hanya menjadi penonton di panggung yang dulu pernah ia pimpin?
(Saheel untuk Indonesia) Oleh : Ali Aminulloh



