Sunday, 19 April 2026

BRIN Ingatkan Potensi Wabah Pes Kembali Muncul di Indonesia Meski Lama Tak Terdeteksi

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

lognews.co.id, Jakarta – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengingatkan potensi kembalinya wabah pes di Indonesia meski dalam beberapa tahun terakhir tidak ditemukan kasus pada manusia. (13/4/26)

Peneliti Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi Badan Riset dan Inovasi Nasional, Ristiyanto, menjelaskan adanya fenomena silent period, yakni fase ketika penyakit tidak terdeteksi dalam waktu lama namun sebenarnya masih berpotensi muncul kembali.

Menurutnya, kondisi tersebut diduga tengah terjadi pada penyakit pes. Hal ini diperkuat dengan masih ditemukannya bakteri penyebab, serta keberadaan vektor dan reservoir seperti pinjal dan tikus di sejumlah wilayah enzootik di Indonesia.

Perubahan lingkungan menjadi faktor utama yang meningkatkan risiko kemunculan kembali penyakit. Deforestasi, alih fungsi lahan, serta pertumbuhan penduduk dinilai telah mengganggu keseimbangan ekosistem, sehingga habitat tikus semakin dekat dengan permukiman manusia dan meningkatkan potensi penularan melalui gigitan pinjal.

Peneliti BRIN lainnya, Muhammad Choirul Hidajat, menambahkan bahwa perubahan iklim juga berkontribusi terhadap peningkatan populasi pinjal sebagai vektor penyakit. Kombinasi faktor lingkungan, keberadaan reservoir, serta intensitas interaksi manusia dengan hewan pembawa penyakit menjadi risiko yang perlu diwaspadai.

Ia menegaskan bahwa tikus sebagai reservoir utama bakteri Yersinia pestis masih banyak ditemukan di berbagai wilayah Indonesia, sehingga potensi penularan kepada manusia tetap ada.

Meski tidak ada kasus pada manusia selama lebih dari satu dekade, sejumlah wilayah di Pulau Jawa seperti Pasuruan, Boyolali, Sleman, dan Bandung masih dikategorikan sebagai daerah fokus. Kondisi ini menunjukkan bahwa ancaman belum sepenuhnya hilang.

Sebagai langkah mitigasi, BRIN merekomendasikan penguatan sistem surveilans terpadu yang mencakup pemantauan pada manusia, hewan, dan vektor penyakit. Selain itu, peningkatan sanitasi lingkungan serta pengawasan wilayah bekas endemis dinilai krusial untuk mencegah potensi wabah di masa mendatang. (Amri-untuk Indonesia)