Wednesday, 08 April 2026

Syaykh Al-Zaytun: Revolusi Bidang Pendidikan Adalah Pemikiran yang Jernih, Indonesia Harus Dibangun dengan Akal Sehat

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

INDRAMAYU, Lognews.co.id – Syaykh Al-Zaytun menegaskan bahwa revolusi sejati bukan sekadar gerakan yang gaduh atau penuh amarah, melainkan lahir dari kejernihan berpikir dan keberanian menggunakan akal sehat dalam membangun bangsa.

Hal itu disampaikan dalam pemaparan panjang mengenai sejarah Indonesia, pendidikan, peradaban, hingga arah masa depan bangsa, yang menekankan pentingnya revolusi pemikiran sebagai fondasi kebangkitan nasional.

“Revolusi adalah pemikiran yang jernih,” ujar Syaykh Al-Zaytun dalam penyampaiannya.

Menurutnya, Indonesia tidak bisa dibangun hanya dengan slogan, nostalgia sejarah, atau kebanggaan simbolik terhadap masa lalu. Bangsa ini, kata dia, harus ditata ulang melalui pendidikan, akal sehat, dan keberanian berpikir besar.

Sejarah Indonesia Harus Dibaca Secara Jujur

Dalam pandangannya, Indonesia sebagai bangsa modern tidak hadir secara tiba-tiba, melainkan melalui proses sejarah panjang yang kompleks.

Syaykh Al-Zaytun menyebut bahwa pembentukan Indonesia tidak bisa dilepaskan dari sejarah kolonialisme, administrasi wilayah, dan pembentukan struktur kebangsaan yang berlangsung selama berabad-abad.

Ia bahkan menyampaikan pandangan yang cukup provokatif bahwa tanpa proses sejarah yang dibawa kolonialisme Belanda, Indonesia sebagai entitas politik modern mungkin tidak akan terbentuk seperti sekarang.

“Kalau saya bersyukur ada Belanda di Indonesia, itu mungkin membuat marah. Tapi tanpa Belanda, tidak ada Indonesia,” katanya.

Pernyataan itu, menurutnya, bukan untuk membenarkan penjajahan, melainkan untuk mendorong masyarakat agar membaca sejarah secara objektif dan rasional, bukan semata-mata emosional.

Ia menyinggung peran VOC, pembentukan Batavia, sistem ekonomi kolonial, hingga perubahan administratif di Hindia Belanda sebagai bagian dari proses panjang yang pada akhirnya ikut membentuk kesadaran kebangsaan Indonesia.

VOC Hancur karena Korupsi, Indonesia Harus Belajar

Dalam pemaparannya, Syaykh Al-Zaytun juga menyoroti sejarah VOC yang pernah berjaya hampir dua abad, namun akhirnya runtuh akibat praktik korupsi internal.

Menurutnya, kehancuran VOC merupakan pelajaran penting bagi Indonesia saat ini, terlebih usia Indonesia sebagai negara belum mencapai 100 tahun.

“Ternyata segala sesuatu yang menghancurkan adalah korupsi. VOC hampir 200 tahun, hancur juga. Apalagi Indonesia belum 100 tahun,” ujarnya.

Ia mengingatkan bahwa bangsa ini tidak boleh mengulangi kesalahan sejarah, terutama dengan membiarkan korupsi tumbuh dalam sistem negara, pendidikan, dan tata kelola pemerintahan.

Pendidikan Adalah Bukti Peradaban

Salah satu pokok utama yang ditekankan Syaykh Al-Zaytun adalah bahwa ukuran utama kemajuan suatu bangsa bukan sekadar warisan bangunan, patung, atau kejayaan simbolik masa lalu, melainkan pusat pendidikannya.

Ia mengkritik kecenderungan masyarakat yang terlalu mudah membanggakan sejarah kerajaan dan kebesaran masa lalu tanpa mampu menunjukkan warisan sistem pendidikan yang kuat.

“Kalau ingin tahu sebuah bangsa, lihat pusat pendidikannya. Bukan hanya patung atau bangunan,” katanya.

Dalam konteks itu, ia membandingkan Indonesia dengan negara-negara lain yang menurutnya memiliki jejak pendidikan yang lebih jelas dalam sejarah peradabannya, seperti Mesir, Iran, hingga Inggris.

Ia menilai Indonesia perlu membangun kembali orientasi pendidikan sebagai pusat pembentukan peradaban, bukan sekadar tempat memperoleh ijazah atau gelar.

Sekolah Banyak, Tapi Pendidikan Belum Tentu Selesai

Syaykh Al-Zaytun juga melontarkan kritik tajam terhadap kondisi pendidikan Indonesia saat ini. Menurut dia, banyaknya sekolah, kampus, dan institusi pendidikan belum tentu berarti bangsa ini telah benar-benar terdidik.

Ia mempertanyakan arah pendidikan nasional yang menurutnya masih belum sepenuhnya melahirkan manusia yang berpikir, mandiri, dan berorientasi pada pembangunan bangsa.
“Sekarang pendidikan mau menjadi apa?” ucapnya.

Menurutnya, pendidikan tidak boleh hanya menghasilkan lulusan yang sibuk mencari pekerjaan, melainkan harus melahirkan manusia yang mampu membangun pekerjaan, menciptakan sistem, dan menggerakkan peradaban.

“Saya tidak mencari pekerjaan. Saya membangun pekerjaan,” tegasnya.

Indonesia Berdiri karena Gagasan Kebangsaan

Dalam paparannya, Syaykh Al-Zaytun juga menyinggung bahwa Indonesia lahir dari gagasan besar tentang kebangsaan, yaitu keberanian untuk melebur berbagai identitas suku, daerah, dan agama ke dalam satu identitas bersama: Indonesia.

Ia menilai hal itu sebagai lompatan peradaban yang sangat besar.

“Proklamasi pertama itu aku bangsa. Bukan aku Kristen, bukan aku Islam, tapi aku Indonesia,” ujarnya.

Syaykh Al-Zaytun menegaskan bahwa Indonesia tidak dibangun untuk menjadi negara yang saling meniadakan atas dasar agama, etnis, atau kelompok, melainkan untuk menjadi rumah bersama yang dipersatukan oleh cita-cita kebangsaan.

Dalam konteks itu, ia menyebut Pancasila sebagai fondasi utama yang harus dijaga, bukan sekadar dihafal, tetapi dijalankan sebagai cara hidup bersama.

Spiritual Harus Menjadi Kekuatan Peradaban

Selain menyoroti pendidikan dan sejarah, Syaykh Al-Zaytun juga menekankan pentingnya spiritualitas yang melampaui pertengkaran identitas agama.

Menurutnya, spiritualitas sejati seharusnya melahirkan ketenangan, kedewasaan, dan kemampuan hidup berdampingan, bukan justru menjadi sumber perpecahan.

“Spiritual bukan agama semata. Spiritual itu lebih tinggi, tidak ribut,” katanya.

Ia menilai Indonesia membutuhkan model pendidikan dan kehidupan sosial yang mampu menyatukan perbedaan, serta membangun peradaban yang damai dan dewasa.

Pendidikan Harus Terkoneksi dengan Pangan, Ekonomi, dan Masa Depan Daerah

Dalam bagian lain, Syaykh Al-Zaytun menjelaskan bahwa pendidikan menurutnya tidak boleh berdiri sendiri, melainkan harus terhubung langsung dengan ekonomi, pertanian, teknologi, hukum, dan pembangunan daerah.

Ia mendorong model pendidikan yang tidak hanya menyiapkan peserta didik untuk masuk dunia kerja, tetapi juga membekali mereka untuk mengelola sumber daya, menciptakan nilai ekonomi, dan membangun kemandirian bangsa.

Ia bahkan menyinggung potensi besar wilayah seperti Indramayu Barat yang menurutnya bisa diubah menjadi pusat produksi komoditas unggulan, seperti mangga premium hingga durian unggul, bila dikelola dengan visi pendidikan dan ekonomi yang tepat.

Menurutnya, kekuatan bangsa ke depan tidak hanya ditentukan oleh politik, tetapi oleh kemampuan negara mencetak manusia terdidik yang sanggup mengelola tanah, pangan, teknologi, dan pertahanan.

Usul Pendidikan 16 Tahun Dijamin Negara

Syaykh Al-Zaytun juga menyampaikan gagasan bahwa pendidikan nasional idealnya dijamin negara hingga 16 tahun, agar seluruh warga negara memiliki fondasi pendidikan yang memadai.

Menurutnya, pembiayaan pendidikan harus dipandang sebagai investasi negara, bukan beban.

“Tidak ada yang gratis. Itu disediakan oleh fiskal negara,” ujarnya.

Ia berpendapat bahwa negara seharusnya tidak hanya membangun sekolah dalam jumlah banyak, tetapi juga memastikan kualitas, kedekatan akses, dan kesinambungan pendidikan hingga benar-benar melahirkan sumber daya manusia unggul.

Indonesia Butuh Revolusi Cara Berpikir

Di penghujung pemaparannya, Syaykh Al-Zaytun menegaskan bahwa tantangan terbesar Indonesia hari ini bukan semata-mata kekurangan sumber daya, melainkan cara berpikir yang belum selesai berevolusi.

Ia menyebut bangsa ini membutuhkan penyaringan besar-besaran melalui akal sehat, baik dalam melihat sejarah, mengelola pendidikan, membangun ekonomi, maupun menyusun masa depan.

“Disinilah kita berusaha dengan akal sehat,” katanya.

Bagi Syaykh Al-Zaytun, Indonesia tidak bisa dibawa maju hanya dengan pendekatan tambal sulam. Bangsa ini, kata dia, membutuhkan gagasan besar, keberanian berpikir jauh, dan revolusi yang lahir dari kejernihan akal.

Melalui pemaparannya, Syaykh Al-Zaytun tampak ingin menegaskan bahwa masa depan Indonesia tidak cukup hanya ditopang oleh kebanggaan historis atau jargon politik, tetapi harus dibangun melalui pendidikan yang kuat, spiritualitas yang dewasa, ekonomi yang produktif, dan akal sehat yang jernih.

Pesan utamanya jelas:
Indonesia tidak akan berubah besar jika cara berpikirnya masih kecil.

(Saheel untuk Indonesia)