lognews.co.id, Jakarta — Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo menegaskan pemerintah akan melakukan pelebaran dan restrukturisasi akses masuk-keluar di dua rest area yang selama ini menjadi salah satu titik pemicu kemacetan arus mudik, yakni KM57 dan KM62 Tol Jakarta–Cikampek. Langkah ini diproyeksikan menjadi intervensi struktural untuk mereduksi antrean kendaraan pada puncak mudik Idulfitri 2026. (2/4/26)
Dody mengatakan Rest Area KM57 sejak lama menjadi perhatian karena geometri jalannya tidak memadai untuk menampung lonjakan kendaraan. Akses masuk dan keluar dinilai terlalu sempit sehingga menimbulkan bottleneck terutama saat beban lalu lintas meningkat. “Sudah lama saya komplain karena jalan masuk dan jalan keluar terlalu kecil. Tahun lalu lebih parah, jalannya kecil dan banyak bolong. Sekarang bolong-bolong sudah diperbaiki, tapi arus masuknya tetap terlalu kecil,” ujarnya dalam diskusi media di Kantor Kementerian PU RI, Jakarta Selatan.
Selain KM57, pemerintah juga akan memprioritaskan perbaikan Rest Area KM62—titik pertemuan arus kendaraan dari Bandung dan kendaraan yang datang dari Tol Cikopo–Palimanan (Cipali). Dody menyebut titik ini kerap mengalami kemacetan ekstrem pada kondisi lalu lintas di atas normal. “Rest area 62 itu simpul pertemuan dua arus besar. Saat kondisi sangat padat, masalahnya langsung muncul. Dua rest area ini, kanan dan kiri, harus kita bereskan,” kata dia.
Untuk mempercepat eksekusi, Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) termasuk PT Jasa Marga akan membentuk tim teknis guna merumuskan model penanganan. Opsi yang disiapkan mencakup restrukturisasi alur kendaraan, redesign pintu masuk dan keluar, hingga pelebaran area agar kapasitasnya meningkat. “Nanti Jasa Marga akan memanggil konsultan untuk menentukan apakah perlu renovasi, restrukturisasi, atau bahkan pelebaran,” ujarnya.
Pemerintah menargetkan pekerjaan restrukturisasi dua rest area tersebut selesai sebelum masa liburan Natal 2026 dan Tahun Baru 2027 sehingga dapat diuji pada puncak pergerakan akhir tahun. Evaluasi hasilnya kemudian menjadi dasar penanganan arus Lebaran 2027. “Target paling lambat Nataru 2026 sudah beres. Kita test case di sana, Insya Allah berjalan baik, dan Lebaran 2027 tidak ada masalah,” kata Dody.
Upaya ini diharapkan mampu mengurai kembali kepadatan yang kerap terjadi di Jalan Layang Sheikh Mohammed bin Zayed (MBZ), terutama akibat antrean kendaraan yang tumpah ke badan jalan saat rest area tidak mampu menampung volume kendaraan.
(Amri-untuk Indonesia)



