lognews.co.id, Dunia memperingati World Tsunami Awarenes Day atau Hari Kesadaran Tsunami untuk menghormati kejadian tsunami yang sudang sering terjadi di Jepang yang diperingati tiap tanggal 5 November untuk kesadaran masyarakat dalam mewaspadai bencana Tsunami.
Pentingnya peringatan Tsunami demi tumbuhnya kesadaran masyarakat diharapkan bisa mengurangi dampak korban jiwa yang lebih besar lagi.
Di Jepang terdapat sejarah yang menarik mengenai kampung kecil di di Peninsula Kii (sekarang Hirokawa), sebelah barat Jepang, disaat warganya selamat dari bencana Gempa dikarenakan warganya berhamburan keluar rumah untuk memadamkan lumbung padi milik seorang kepala kampung di Hirokawa yang bernama Hamaguchi Goryo.
Cara itu ternyata adalah siasat Hamaguchi Goryo, untuk menyelamatkan seluruh warganya, saat ia melihat arus laut tiba-tiba surut, suatu pertanda bahwa tsunami akan datang.
Setelah tsunami berakhir mayarakat bergotong royong membangun kembali desanya agar menjadi lebih baik dan lebih kuat dalam menahan guncangan gempa di masa depan. Mereka juga membangun tanggul dan menanam pohon sebagai penahan tsunami. Indonesia Rawan Tsunami.
Di Aceh, pada 26 Desember 2004, telah terjadi gempa bumi besar yang memicu tsunami yang menewaskan lebih dari 283.000 jiwa di sebelas negara.
Kemudian berulang lagi di Pangandaran 2006, Palu 2018, dan Banten 2018. Katalog tsunami BMKG mencatat, pantai selatan Jawa telah dilanda oleh 20 kali kejadian tsunami yang dipicu oleh goncangan gempa bumi. Wilayah yang pernah dilanda tsunami tersebut adalah Pangandaran (1921, 2006), Kebumen (1904), Purworejo (1957), Bantul (1840), Tulungagung (1859), Jember (1921) dan Banyuwangi (1818, 1925, 1994).
Kesiapsiagaan bencana perlu dipersiapkan dengan sistem yang akurat memberikan data dan efektif mendeteksi adanya gejala gelombang tsunami. Telah banyak teknologi yang mendukung sistem peringatan dini tsunami di Indonesia (Indonesia Tsunami Early Warning System). Salah satunya adalah sistem deteksi dengan berbasiskan Kabel Fiber Optik sebagai teknologi terkini pendeteksi tsunami.
BRIN melalui Pusat Riset Elektronika tengah mengembangkan sebuah riset yang dinamakan Ina-CBT (Indonesia Cable-Based Tsunameter) atau teknologi deteksi tsunami berbasiskan sensor di dasar laut dalam yang terhubung dengan landing-station di pantai melalui kabel fiber-optik. Michael Andreas Purwoadi, peneliti ahli utama dari riset ini menjelaskan bahwa Ina-CBT ini sebagai pendeteksi tsunami dengan mengukur tekanan air yang lewat di atasnya.
Pendeteksi gelombang tsunami dengan menggunakan kabel fiber optik bawah laut merupakan sebuah penyempurnaan dari teknologi pendeteksi tsunami sebelumnya yaitu pendeteksi dengan menggunakan teknologi buoy. Kabel fiber optik yang dipasang, memungkinkan peletakan sensor hingga jarak sampai puluhan kilometer bahkan ratusan kilometer dari pantai. Melalui kabel tersebut, tidak hanya mengirimkan data hasil deteksi tetapi juga mengirimkan energi listrik yang dibutuhkan untuk beroperasinya sensor tersebut. (Amr-untuk Indonesia)



