lognews.co.id, Iran - Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, menegaskan uranium Iran yang telah diperkaya tidak akan dibawa ke luar negeri di tengah negosiasi nuklir yang masih berlangsung dengan Amerika Serikat. (23/5/26)
Pernyataan tersebut disampaikan saat pembicaraan antara Iran dan pemerintahan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, masih berlangsung melalui mediator internasional.
Dua sumber senior Iran mengatakan keputusan mempertahankan uranium di dalam negeri telah menjadi sikap bersama pemerintah Iran dalam menghadapi tekanan AS terkait program nuklir Teheran.
“Arahan Pemimpin Tertinggi, dan konsensus di dalam pemerintahan, adalah bahwa uranium yang diperkaya tidak boleh meninggalkan negara ini,” kata salah satu sumber kepada Reuters.
Menurut sumber tersebut, para pejabat tinggi Iran meyakini pengiriman uranium ke luar negeri justru dapat membuat negara itu lebih rentan terhadap kemungkinan serangan di masa mendatang, baik dari Amerika Serikat maupun Israel.
Isu uranium diperkaya menjadi salah satu poin paling alot dalam negosiasi Iran dan AS. Washington menginginkan material tersebut dimusnahkan karena khawatir dapat digunakan Iran untuk memproduksi senjata nuklir.
Sebelumnya, Badan Energi Atom Internasional atau IAEA memperkirakan uranium Iran telah diperkaya hingga 60 persen, mendekati level 90 persen yang dibutuhkan untuk membuat senjata nuklir.
Trump sendiri menegaskan AS tidak akan membiarkan Iran menyimpan uranium yang telah diperkaya.
“Kami akan mendapatkannya. Kami tidak membutuhkannya, kami tidak menginginkannya. Kami mungkin akan menghancurkannya setelah mendapatkannya. Kami tidak akan membiarkan mereka memilikinya,” ujar Trump kepada wartawan di Gedung Putih.
Pejabat Israel juga menyebut Trump telah meyakinkan Tel Aviv bahwa uranium Iran dengan tingkat pengayaan tinggi akan dikirim keluar dari Iran.
Namun Iran sejak awal hanya bersedia menurunkan tingkat pengayaan uranium, bukan menyerahkan material tersebut kepada pihak asing.
Juru bicara Gedung Putih, Olivia Wales, mengatakan Trump telah menjelaskan batas-batas kepentingan AS dan hanya akan membuat kesepakatan yang mengutamakan rakyat Amerika.
Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Iran menolak memberikan komentar terkait laporan tersebut.
AS dan Iran diketahui masih berada dalam masa gencatan senjata sejak 8 April lalu. Meski telah beberapa kali menggelar perundingan, kedua negara belum mencapai kesepakatan final terkait program nuklir Iran.
Blokade Iran di Selat Hormuz masih berlangsung, begitu pula blokade AS terhadap pelabuhan Iran. Dua sumber Iran juga menyebut Teheran mencurigai jeda konflik saat ini hanya menjadi strategi AS untuk menciptakan rasa aman sebelum melanjutkan serangan.
Meski sejumlah perbedaan mulai menyempit, kedua pihak masih berselisih soal masa depan uranium yang diperkaya serta hak Iran untuk tetap melakukan pengayaan uranium. (Amri-untuk Indonesia)



