lognews.co.id, As – Pemerintah Amerika Serikat resmi mengakhiri operasi militer terhadap Iran yang dikenal sebagai Epic Fury. Namun, penghentian operasi tersebut tidak serta-merta meredakan ketegangan geopolitik, karena fokus baru kini diarahkan ke kawasan strategis Selat Hormuz. (06/5/26)
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan bahwa fase operasi tempur telah selesai dan seluruh target yang ditetapkan telah tercapai sesuai laporan kepada Kongres. Ia menegaskan bahwa prioritas Washington kini bergeser dari operasi militer ofensif menuju pengamanan jalur perdagangan global.
“Fase itu sudah selesai. Sekarang fokus kami adalah memastikan jalur perdagangan tetap terbuka,” ujar Rubio dalam pengarahan resmi di Gedung Putih.
Sebagai bagian dari strategi lanjutan, AS menjalankan inisiatif baru bertajuk Project Freedom. Program ini difokuskan pada pengamanan lalu lintas kapal di Selat Hormuz yang menjadi jalur vital distribusi energi dunia, khususnya minyak.
Ketegangan di kawasan tersebut meningkat setelah Iran dilaporkan menerapkan sistem pengaturan baru terhadap kapal yang melintas, disertai peringatan dari Korps Garda Revolusi Islam. Situasi ini menempatkan Selat Hormuz sebagai titik krusial dalam stabilitas ekonomi global.
Meski operasi utama telah dihentikan, aktivitas militer AS tetap berlangsung dalam kerangka defensif. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menegaskan bahwa gencatan senjata masih berlaku, namun tidak menutup kemungkinan adanya respons jika terjadi pelanggaran.
Sikap serupa juga ditunjukkan Presiden Donald Trump yang tidak memberikan batasan tegas terkait kelanjutan operasi. Trump membuka kemungkinan tindakan militer lanjutan apabila negosiasi dengan Iran gagal atau terjadi eskalasi baru.
Di sisi lain, isu nuklir tetap menjadi fokus utama dalam perundingan antara Washington dan Teheran. Rubio menekankan bahwa pembahasan tidak hanya mencakup pengayaan uranium, tetapi juga pengelolaan material nuklir yang telah dimiliki Iran.
Situasi ini menunjukkan bahwa meskipun operasi militer telah dihentikan, dinamika konflik masih berada pada fase transisi yang rawan eskalasi. Kebijakan baru AS di Selat Hormuz diproyeksikan menjadi penentu stabilitas kawasan sekaligus menjaga kepentingan ekonomi global di tengah ketidakpastian geopolitik.
(Amri-untuk Indonesia)



