Wednesday, 06 May 2026

Tanker Iran Lolos Blokade AS, Jejak Terakhir dari Selat Malaka hingga Terdeteksi di Selat Lombok

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

lognews.co.id, Jakarta – Sebuah kapal tanker minyak milik Iran dilaporkan berhasil melewati blokade laut yang dilakukan Angkatan Laut Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah dan terdeteksi memasuki perairan Indonesia melalui Selat Lombok. (04/05/26)

Laporan pelacakan maritim menyebut kapal jenis Very Large Crude Carrier (VLCC) tersebut membawa lebih dari 1,9 juta barel minyak mentah dengan estimasi nilai sekitar US$220 juta atau setara Rp3,79 triliun. Kapal ini dioperasikan oleh National Iranian Oil Company.

Data dari platform pemantauan kapal TankerTrackers menunjukkan kapal yang diidentifikasi bernama “HUGE” (ID: 9357183) sempat menghilang dari radar sebelum kembali terdeteksi di wilayah selatan Indonesia. Sebelumnya, kapal tersebut terakhir terlacak di perairan lepas pantai Sri Lanka lebih dari sepekan lalu.

Kapal tanker itu diketahui melintasi jalur strategis Selat Lombok dan dilaporkan bergerak menuju wilayah Kepulauan Riau sebagai bagian dari rute pelayaran menuju Asia Timur.

Dalam proses pelayarannya, kapal diduga mematikan sistem Automatic Identification System (AIS) sejak 20 Maret saat meninggalkan jalur Selat Malaka. Langkah ini dinilai sebagai upaya untuk menghindari deteksi selama berada di tengah ketegangan konflik antara Iran dan Amerika Serikat.

Keberhasilan kapal tersebut menembus pengawasan maritim menunjukkan adanya celah dalam sistem blokade yang diterapkan Amerika Serikat untuk menekan ekspor energi Iran. Di tengah pengawasan ketat di kawasan Selat Hormuz, lolosnya muatan minyak dalam jumlah besar ini dinilai berdampak pada efektivitas kebijakan pembatasan energi yang sedang berlangsung.

Peristiwa ini menambah dinamika baru dalam konflik geopolitik di Timur Tengah, khususnya terkait distribusi energi global dan keamanan jalur pelayaran internasional. Pemerintah dan otoritas maritim di kawasan Asia Tenggara diperkirakan akan meningkatkan pemantauan terhadap lalu lintas kapal di jalur strategis.

(Amri-untuk Indonesia)