lognews.co.id, Teheran - Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi bertolak ke Rusia pada Minggu untuk melanjutkan konsultasi strategis di tengah belum pastinya upaya perdamaian antara Iran dan Amerika Serikat. Araghchi dijadwalkan tiba di St Petersburg dan bertemu Presiden Vladimir Putin pada Senin. (27/4/26)
Perjalanan tersebut dilakukan setelah rangkaian diplomasi di Pakistan belum menghasilkan terobosan berarti. Dalam kunjungannya ke Islamabad, Araghchi bertemu Kepala Angkatan Darat Pakistan Asim Munir, Perdana Menteri Shehbaz Sharif, serta Menteri Luar Negeri Ishaq Dar.
Sebelum menuju Rusia, Araghchi juga sempat singgah di Oman, negara yang kerap berperan sebagai mediator dalam sejumlah komunikasi regional. Langkah ini dipandang sebagai bagian dari upaya menjaga jalur diplomasi tetap terbuka.
Media pemerintah Iran melaporkan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov juga akan terlibat dalam pembicaraan di Rusia. Pertemuan tersebut diperkirakan membahas perkembangan konflik kawasan, isu nuklir Iran, serta dinamika keamanan energi global.
Di sisi lain, Presiden Donald Trump sebelumnya membatalkan rencana kunjungan utusannya, Steve Witkoff dan Jared Kushner, ke Islamabad. Pembatalan itu memunculkan tanda tanya atas kelanjutan jalur negosiasi langsung antara Washington dan Teheran.
Meski demikian, kantor berita Iran menyebut Teheran telah mengirim pesan tertulis kepada Amerika Serikat melalui mediator Pakistan. Isi pesan tersebut dikabarkan memuat garis merah Iran, termasuk isu program nuklir dan status Selat Hormuz.
Situasi geopolitik di kawasan masih rapuh. Walau gencatan senjata sementara dalam konflik yang melibatkan AS, Israel, dan Iran disebut masih bertahan, dampak ekonomi global terus terasa. Gangguan di Selat Hormuz telah menekan distribusi minyak, gas, dan pupuk, sehingga mendorong kenaikan harga komoditas dunia.
Pasar internasional kini menanti hasil pertemuan Araghchi dengan Putin. Rusia dinilai memiliki posisi penting sebagai mitra strategis Iran sekaligus pemain utama dalam kalkulasi geopolitik Timur Tengah. Hasil konsultasi ini berpotensi memengaruhi arah diplomasi kawasan dalam beberapa pekan ke depan. (Amri-untuk Indonesia)



