lognews.co.id – Pemerintah Inggris dilaporkan tidak akan mengizinkan Amerika Serikat (AS) menggunakan pangkalan militernya untuk melancarkan serangan terhadap infrastruktur sipil Iran, seperti jembatan dan pembangkit listrik.
Menurut laporan harian The i Paper yang dikutip pada Senin, London hanya akan memberi izin penggunaan pangkalan militernya jika serangan yang dilakukan AS bersifat defensif. Dengan demikian, ancaman Presiden AS Donald Trump untuk menyerang fasilitas sipil Iran dinilai tidak masuk dalam kategori tersebut.
Laporan itu juga menyebutkan bahwa setiap permintaan terkait pendaratan pesawat pengebom militer AS di wilayah Inggris akan diputuskan secara terpisah berdasarkan kasus per kasus.
Salah satu fasilitas yang menjadi sorotan adalah pangkalan udara RAF Fairford, yang selama ini dikenal sebagai satu-satunya pangkalan di Eropa yang dapat menampung pesawat pengebom strategis AS. Pangkalan itu sebelumnya juga pernah digunakan dalam berbagai operasi militer Barat dan secara resmi diketahui rutin menjadi lokasi penempatan misi US Bomber Task Force.
Sebelumnya, pada 30 Maret, Trump sempat mengancam akan “meledakkan dan menghancurkan sepenuhnya” berbagai fasilitas penting Iran, termasuk pembangkit listrik, kilang minyak, fasilitas desalinasi, hingga Pulau Kharg, apabila kesepakatan damai gagal tercapai dan Selat Hormuz tidak dibuka kembali.
Ancaman itu kembali diperkeras pada Minggu (5/4), ketika Trump menyatakan akan menyerang pembangkit listrik dan jembatan di Iran pada 7 April jika Teheran tidak memulihkan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz. Ancaman tersebut juga telah dilaporkan secara luas oleh media internasional dan berkontribusi pada kenaikan harga minyak dunia.
Ketegangan kawasan sendiri terus meningkat sejak AS dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap sejumlah target di Iran pada 28 Februari. Serangan tersebut dilaporkan menyebabkan kerusakan infrastruktur serta korban jiwa di kalangan warga sipil.
Sebagai balasan, Teheran meluncurkan serangan ke wilayah Israel dan juga ke sejumlah pangkalan militer milik AS di kawasan Timur Tengah, termasuk yang berada di Bahrain, Qatar, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi.
Akibat eskalasi konflik tersebut, lalu lintas kapal di Selat Hormuz ikut lumpuh. Jalur ini selama ini menjadi salah satu rute paling vital untuk distribusi minyak dan LPG dari kawasan Teluk ke pasar global, sehingga gangguan di wilayah itu langsung berdampak pada lonjakan harga energi di berbagai negara. (Saheel untuk Indonesia)
Sumber: Sputnik



