Monday, 23 March 2026

China–AS Kuasai Lahan Pertanian Terluas Dunia, Indonesia Tertinggal dalam Peta Pangan Global

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

lognews.co.id, Jakarta – Dominasi China dan Amerika Serikat dalam penguasaan lahan pertanian dunia kembali menegaskan ketimpangan kekuatan pangan global. Di tengah total lahan agrikultur dunia yang mencapai lebih dari 18 juta mil persegi, posisi Indonesia masih relatif tertinggal meski berstatus negara agraris. (19/03/26)

Luas lahan pertanian menjadi indikator kunci dalam menentukan kapasitas produksi pangan, stabilitas pasokan domestik, serta kekuatan ekspor suatu negara. Negara dengan basis lahan luas cenderung memiliki keunggulan struktural dalam menjaga ketahanan pangan sekaligus memengaruhi pasar global.

China dan Amerika Serikat memanfaatkan keunggulan tersebut melalui pendekatan berbeda namun saling melengkapi. China mengoptimalkan intensifikasi berbasis kebijakan pangan nasional dan kontrol distribusi, sementara Amerika Serikat mengandalkan sistem pertanian industri dengan mekanisasi tinggi dan efisiensi rantai pasok.

Kombinasi luas lahan dan teknologi menjadikan kedua negara mampu menjaga surplus produksi serta berperan sebagai penentu dalam dinamika harga pangan dunia.

Di sisi lain, Indonesia menghadapi sejumlah tantangan struktural yang menghambat optimalisasi sektor pertanian. Alih fungsi lahan produktif, kepemilikan lahan yang terfragmentasi, serta rendahnya adopsi teknologi modern menjadi faktor utama yang menekan produktivitas nasional.

Kondisi tersebut meningkatkan kerentanan terhadap ketergantungan impor, terutama saat terjadi gangguan rantai pasok global atau lonjakan harga komoditas pangan.

Dalam konteks global yang diwarnai perubahan iklim dan ketidakpastian geopolitik, keterbatasan lahan pertanian menjadi risiko strategis. Negara dengan kapasitas produksi terbatas akan lebih rentan terhadap tekanan eksternal, baik dari sisi pasokan maupun harga.

Untuk itu, penguatan sektor pertanian nasional menjadi kebutuhan mendesak. Strategi intensifikasi melalui modernisasi teknologi, peningkatan produktivitas, serta perlindungan lahan berkelanjutan dinilai sebagai langkah paling realistis dalam jangka menengah.

Tanpa langkah korektif yang terukur dan konsisten, kesenjangan Indonesia dengan negara pemilik lahan pertanian terbesar dunia berpotensi semakin melebar, sekaligus memperlemah posisi dalam peta ketahanan pangan global.

(Amri-untuk Indonesia)