(Refleksi Peringatan Hari Anti Sampah Internasional, 30 Maret)
Oleh Ali Aminulloh
lognews.co.id - Kita membenci sampah, tetapi setiap hari kita menciptakannya. Kita ingin lingkungan bersih, namun sering kali abai terhadap kebiasaan kecil yang justru melahirkan tumpukan limbah. Di situlah paradoks manusia modern: mengutuk masalah yang diam-diam ia pelihara sendiri. Sampah bukan lagi sekadar sisa, melainkan cermin dari cara hidup yang kehilangan arah.
Tanggal 30 Maret diperingati sebagai Hari Internasional Tanpa Sampah, sebuah momentum global yang mengingatkan bahwa bumi sedang berada dalam tekanan besar akibat pola konsumsi yang berlebihan. Dunia saat ini memproduksi lebih dari 2,24 miliar ton sampah setiap tahun, namun hanya sekitar 55 persen yang dikelola dengan baik. Sisanya tercecer, mencemari tanah, meresap ke air, dan mengalir hingga ke lautan, membawa dampak jangka panjang bagi ekosistem dan kesehatan manusia.
Indonesia pun menghadapi realitas yang tak kalah mengkhawatirkan. Setiap tahun, negeri ini menghasilkan sekitar 68 hingga 70 juta ton sampah. Namun sebagian besar belum tertangani secara optimal, bahkan sebagian berakhir di lingkungan terbuka. Dalam konteks global, Indonesia juga termasuk penyumbang besar sampah plastik ke laut, dengan ratusan ribu ton plastik mengalir ke perairan setiap tahunnya. Angka-angka ini bukan sekadar statistik, melainkan peringatan keras tentang arah masa depan yang sedang kita tuju.
Gambar: bakti lingkungan masa cuti kelompok 3 Asrama Al Fajr
Dampak dari persoalan ini telah nyata dan menyakitkan. Tragedi longsor TPA Leuwigajah di Cimahi pada 2005 menjadi bukti bagaimana sampah dapat berubah menjadi bencana mematikan, merenggut 157 nyawa dalam sekejap. Di Jakarta, banjir yang berulang kali melanda juga tidak lepas dari peran sampah yang menyumbat aliran air, memperparah genangan hingga menelan korban jiwa. Bahkan di laut, sampah plastik telah menjelma menjadi ancaman sunyi, masuk ke tubuh ikan dan kembali ke manusia melalui rantai makanan.
Persoalan ini pada akhirnya bukan hanya soal sistem pengelolaan, tetapi tentang kesadaran. Syaykh Al Zaytun melalui gagasan trilogi kesadaran mengingatkan pentingnya kesadaran filosofis, ekologis, dan sosial sebagai fondasi perubahan. Kesadaran filosofis menempatkan manusia sebagai bagian dari alam, bukan penguasa yang bebas merusaknya. Kesadaran ekologis mengajarkan bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi terhadap lingkungan. Sementara kesadaran sosial menegaskan bahwa sampah yang kita hasilkan bukan hanya urusan pribadi, tetapi berdampak pada kehidupan orang lain.
Nilai-nilai tersebut tidak berhenti sebagai konsep, melainkan diwujudkan dalam praktik nyata di lingkungan Al Zaytun. Para guru secara rutin menjalankan program “Go Green” setiap masa libur dengan membersihkan kawasan kampus dari sampah, khususnya sampah anorganik yang sulit terurai. Kegiatan ini menjadi bentuk keteladanan bahwa menjaga lingkungan adalah tanggung jawab bersama, bukan sekadar slogan.
Di sisi lain, para santri juga dibiasakan untuk menjaga kebersihan melalui aktivitas harian. Setiap sore, mereka bergiliran membersihkan lingkungan sekitar, mengumpulkan sampah, hingga memastikan pembuangannya ke tempat pembuangan akhir. Kebiasaan ini membentuk karakter disiplin dan kepedulian, sekaligus menanamkan bahwa kebersihan adalah bagian dari kesadaran hidup, bukan sekadar kewajiban sesaat.
Pada akhirnya, Hari Tanpa Sampah Internasional bukan hanya peringatan, tetapi ajakan untuk bercermin. Bumi tidak pernah menghasilkan sampah. Manusialah yang menciptakannya. Dan jika kesadaran tidak segera dibangun, maka yang kita hadapi bukan lagi sekadar krisis lingkungan, melainkan krisis kemanusiaan itu sendiri. Oleh Ali Aminulloh



