lognews.co.id - Strategi membuat konten media sosial agar mampu menembus jutaan penonton kini semakin banyak dibahas para kreator digital. Salah satu formula yang ramai diperbincangkan adalah rumus “ORANGE” yang disebut efektif meningkatkan perhatian audiens di platform seperti TikTok, Instagram Reels, hingga YouTube Shorts.
Rumus ORANGE terdiri dari enam tahapan utama, yakni Opening, Relation, Attraction, Navigation, Game, dan Ending. Formula tersebut digunakan untuk membangun pola komunikasi konten yang lebih terstruktur dan menarik perhatian penonton sejak awal tayangan.
Pada tahap opening, kreator disarankan langsung menyampaikan isu atau permasalahan yang relevan dengan audiens. Bagian pembuka dinilai menjadi penentu apakah penonton akan melanjutkan menonton video atau langsung melewatinya.
Setelah itu, tahap relation digunakan untuk membangun keterkaitan emosional dengan penonton melalui keresahan, pengalaman, atau situasi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari audiens.
Tahap berikutnya adalah attraction, yakni menyajikan fakta menarik, data mengejutkan, atau informasi unik yang mampu memancing rasa penasaran penonton.
Selanjutnya pada bagian navigation, kreator perlu memberikan arah pembahasan secara jelas agar audiens memahami tujuan utama isi konten yang sedang disampaikan.
Sementara pada tahap game, kreator mulai memperkenalkan diri, pengalaman, atau alasan mengapa perspektif yang disampaikan layak diperhatikan audiens.
Rumus tersebut kemudian ditutup melalui ending berupa ajakan, penegasan pesan utama, maupun alasan mengapa isu yang dibahas penting untuk diperhatikan.
Strategi penyusunan konten seperti ini dinilai semakin penting di tengah ketatnya persaingan algoritma media sosial. Konten dengan daya tarik kuat di beberapa detik pertama umumnya memiliki peluang lebih besar masuk halaman rekomendasi atau For You Page (FYP).
Selain meningkatkan jumlah views, pola penyampaian yang terstruktur juga dinilai membantu meningkatkan engagement penonton karena audiens merasa lebih terhubung dengan isi konten yang disampaikan.
Fenomena tersebut membuat banyak kreator digital mulai fokus membangun storytelling singkat namun kuat agar mampu mempertahankan perhatian audiens hingga akhir video. (Amri-untuk Indonesia)



