Wednesday, 20 May 2026

Pisang Bertandan Empat di Gunungkidul Akan Jadi Ikon Baru Daerah,

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

lognews.co.id, Gunungkidul - Warga Dusun Wonongso, Kelurahan Tancep, Kapanewon Ngawen, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, dihebohkan dengan kemunculan pohon pisang unik yang mampu menghasilkan hingga empat tandan buah dalam satu batang pohon. Fenomena langka tersebut kini menarik perhatian pemerintah daerah untuk dikembangkan sebagai ikon pertanian baru Gunungkidul. (20/5/26)

Pohon pisang tersebut milik seorang petani bernama Pirngadi. Selain mampu menghasilkan banyak tandan sekaligus, varietas pisang ini juga memiliki daya tahan tinggi terhadap serangan virus dan penyakit tanaman yang umum menyerang kebun pisang di wilayah sekitar.

Menurut Pirngadi, bibit pisang tersebut awalnya berasal dari wilayah Sambirejo dan merupakan bagian dari program Kuliah Kerja Nyata (KKN) mahasiswa Universitas Gadjah Mada.

“Bibit pisang ini awalnya berasal dari Sambirejo, yang merupakan hasil program KKN dari UGM. Dusun Wonongso saat itu menjadi daerah penyangga untuk program budidaya pisang,” ujar Pirngadi, Senin.

Keunikan tanaman itu mulai terlihat sekitar satu setengah tahun lalu ketika satu batang pohon menghasilkan anakan kembar. Seiring pertumbuhannya, pohon tersebut mampu menghasilkan dua hingga empat tandan buah sekaligus dalam satu kali panen.

Secara fisik, pisang tersebut disebut menyerupai jenis Ambon, namun memiliki karakteristik berbeda dibandingkan pisang Ambon Jawa pada umumnya. Kulit buahnya berwarna kehijauan dengan ukuran lebih besar dan rasa yang manis.

Nilai ekonominya juga cukup tinggi. Dalam satu kali panen, satu pohon pisang pernah terjual hingga Rp130 ribu. Meski demikian, Pirngadi mengaku lebih sering mengonsumsi buah tersebut bersama keluarga dan membagikannya kepada warga sekitar.

“Secara fisik, pisang ini termasuk dalam jenis Ambon, namun memiliki perbedaan dengan Ambon Jawa pada umumnya,” katanya.

Saat ini, budidaya pisang tersebut telah memasuki generasi ketujuh dan tetap menunjukkan karakteristik buah yang konsisten.

Selain produktivitasnya yang tinggi, tanaman ini juga dinilai memiliki ketahanan luar biasa terhadap serangan penyakit. Ketika pohon pisang lain di sekitar kebun terserang virus yang dikenal warga dengan sebutan “bombrong”, tanaman tersebut tetap tumbuh sehat.

“Bibitnya juga tetap bisa tumbuh waktu ditanam di lahan bekas tanaman yang sebelumnya kena virus,” ujar Pirngadi.

Pemerintah Kabupaten Gunungkidul melalui Dinas Pertanian dan Pangan telah meninjau langsung lokasi tanaman pisang unik tersebut.

Pemerintah menilai fenomena itu berpotensi menjadi hasil mutasi genetika alami yang memiliki nilai unggul untuk pengembangan pertanian lokal.

Bupati Endah Subekti Kuntariningsih mengatakan pemerintah daerah berencana membudidayakan dan menangkarkan varietas pisang tersebut secara lebih luas.

Langkah itu diharapkan mampu memperkuat posisi Gunungkidul sebagai salah satu pemasok utama komoditas pisang di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta.

“Mungkin ke depan kita bisa memberikan nama khusus untuk varietas ini agar dapat menjadi ikon baru bagi Kapanewon Ngawen, khususnya Kelurahan Tancep,” kata Endah.

Keberadaan pisang bertandan empat tersebut kini menjadi perhatian masyarakat sekaligus membuka peluang pengembangan varietas unggul lokal berbasis potensi pertanian daerah. (Amri-untuk Indonesia)