السبت، 21 آذار/مارس 2026

Di Antara Dua Hari Raya: Belajar Bijak dalam Perbedaan

تعطيل النجومتعطيل النجومتعطيل النجومتعطيل النجومتعطيل النجوم
 

Disarikan dari Dzikir Jumat Syaykh Al Zaytun oleh Ali Aminulloh.

lognews.co.id, Indramayu - Siang itu, Indonesia tidak hanya diselimuti suasana akhir Ramadhan, tetapi juga dihadapkan pada satu kenyataan yang berulang setiap tahun: perbedaan dalam menetapkan 1 Syawal. Di satu sisi, warga Muhammadiyah telah lebih dahulu melaksanakan Idul Fitri. Di sisi lain, pemerintah melalui keputusan resmi menetapkan hari raya. 

Perbedaan ini bukan sekadar soal tanggal, melainkan cermin dari dinamika ijtihad dalam Islam. Muhammadiyah dengan metode hisabnya menetapkan keputusan berdasarkan perhitungan ilmiah yang diyakini. Sementara negara, melalui sidang isbat, menggunakan pendekatan rukyat dan pertimbangan otoritas keagamaan nasional. Keduanya berjalan dalam koridor keyakinan dan tanggung jawab masing-masing. 

Lalu muncul pertanyaan: apakah Muhammadiyah sebagai lembaga kemasyarakatan keagamaan memiliki hak menetapkan sendiri? Jawabannya jelas: iya. Dalam ruang ijtihad, setiap organisasi memiliki kewenangan untuk menentukan berdasarkan metode yang diyakini. Dan bagi pengikutnya, itu menjadi kewajiban untuk diikuti.

Namun di atas semua itu, ada satu prinsip besar yang menjadi pengikat umat: “Athi’ullaha wa athi’ur rasul wa ulil amri minkum”: taatilah Allah, Rasul, dan pemimpin di antara kalian. Dalam konteks bernegara, keputusan pemerintah sebagai ulil amri memiliki kekuatan mengikat demi menjaga ketertiban dan persatuan.

Di tengah situasi ini, sikap bijak menjadi kunci. Sebagian saudara kita telah berlebaran hari ini. Maka menghormati mereka adalah bagian dari ukhuwah. Bahkan dalam praktiknya, kita memilih tidak berpuasa hari ini sebagai bentuk penghormatan terhadap yang sudah Idul Fitri. Sebuah sikap sosial yang menempatkan kebersamaan di atas ego kelompok.

Sementara itu, untuk pelaksanaan resmi, sebagian lembaga pendidikan, kita memilih mengikuti keputusan pemerintah. Shalat Id dilaksanakan esok hari (Sabtu 21/3), sejalan dengan ketetapan negara. Inilah wajah moderasi: tidak ekstrem ke kanan, tidak pula condong ke kiri. Sikap tawasuth yang menenangkan.

Hari ini mungkin diisi dengan kebersamaan sederhana: makan bersama, berbagi hidangan yang telah disiapkan, dan menjaga suasana tetap hangat. Karena pada akhirnya, esensi Idul Fitri bukan pada tanggal semata, melainkan pada nilai kembali ke fitrah: saling memaafkan, merajut persaudaraan, dan meredam perbedaan.

Beragama sejatinya tidak untuk memberatkan. Ia hadir untuk menenangkan. Maka ketika hari raya berbeda, tidak perlu menjadi sumber kegaduhan. Justru di situlah kita diuji, apakah mampu dewasa dalam menyikapi perbedaan.

Pesan pun ditegaskan: mimbar Idul Fitri bukan tempat membahas konflik dan perang. Dunia sudah cukup gaduh. Yang dibutuhkan hari ini adalah doa, agar segala pertikaian segera berakhir, dan umat manusia kembali menemukan damai.

Karena mungkin, yang lebih penting dari kapan kita berhari raya adalah bagaimana kita menjalaninya with wisdom, humility, and unity.(Amri-untuk Indonesia)

Mendidik dan membangun semata mata hanya untuk beribadah kepada Allah